Resah Perantau Akibat Aturan Mudik Plinplan Pemerintah

CNN Indonesia | Selasa, 21/04/2020 16:07 WIB
Sejumlah warga bersiap naik ke atas bus saat mudik gratis di Pamekasan, Jawa Timur, Jumat (9/7). Mudik bersama gratis itu difasilitasi Dishub Jatim bekerjasama dengan Pemkab Pamekasan untuk memberikan kemudahan bagi warga untuk kembali ke perantauan. ANTARA FOTO/Saiful Bahri/foc/16. Ilustrasi mudik. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah resmi melarang mudik Lebaran 2020 bagi masyarakat di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Kebijakan itu efektif berlaku mulai akhir pekan ini.

Kebijakan itu mendapat respons beragam dari warga di DKI Jakarta dan sekitarnya. Khususnya dari para perantau yang setiap tahunnya selalu pulang ke kampung halaman.

Syahroni salah satunya, pemilik rumah makan warung tegal (warteg) di wilayah Mampang, Jakarta Selatan. Dia menilai, pemerintah cenderung plin-plan soal kebijakan mudik.


"Kemarin dibilangnya boleh, sekarang enggak boleh. Aturannya nggak pakem," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/4).

Pemerintah sebelumnya memang menegaskan tak melarang mudik di masa pandemi corona, namun menganjurkan masyarakat untuk tak pulang kampung.


Akan tetapi selang beberapa minggu kemudian, Presiden Joko Widodo akhirnya resmi melarang masyarakat untuk mudik. Kebijakan larangan mudik akan mulai berlaku secara efektif pada Jumat (24/4) mendatang.

Jokowi mengatakan, keputusan tersebut diambil untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.

"Hari ini saya ingin sampaikan juga bahwa mudik semuanya akan kita larang," kata Jokowi saat membuka Rapat Terbatas melalui video conference di Istana Merdeka.

Meski menilai plin-plan, Syahroni dan keluarganya tetap tak akan nekat mudik jika memang nantinya larangan itu benar-benar diterapkan. Satu syarat ia pinta, pemerintah tetap memperbolehkan usaha wartegnya beroperasi seperti biasa.

"Ya mau gimana. Yang penting kalau udah dilarang mudik, kita jangan sampai disuruh tutup (warung). Cuma ini pekerjaan," ucap dia.

Warga lainnya, Bagus Sandika, mengaku bisa memaklumi keputusan yang diambil pemerintah. Keputusan tersebut diambil karena penyebaran virus corona yang semakin luas.

"Ya mungkin dulu tidak mengira kasusnya sampai sebanyak ini, makanya belum dilarang. Sekarang lebih dari 6.000 kasus ya kalau tidak salah," kata dia.


Meski setiap tahunnya selalu pulang ke kampung halaman saat lebaran, ia mengaku akan mengikuti larangan mudik tersebut jika nantinya sudah diterapkan.

"Daripada nanti ribet kena sanksi atau apalah. Nanti mudiknya diganti akhir tahun aja," ucap dia.

Kecewa

Pun demikian dengan Umar (32). Tukang gorengan di salah satu minimarket Cipayung, Jakarta Timur ini mengaku kecewa dengan kebijakan larangan mudik lebaran tahun ini.

"Kecewa berat, tapi mau gimana lagi," ujarnya saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (21/4).


Namun dia tetap bersikeras akan tetap mudik ke kampung. Hal itu karena di kampung merupakan tempat yang aman karena jauh dari Jakarta yang menjadi episentrum corona.

"Saya mudik juga untuk menetap sementara (di kampung) sampai kondisi di Jakarta normal lagi," tambahnya.

Kampung Umar berada di Cirebon, Jawa Barat. Istri, satu anak, serta keluarga besarnya juga berada di sana. Ia sudah rindu menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Sebab pulang ke kampung hanya ia lakukan setahun sekali ketika lebaran tiba.

Karenanya ia sudah merencanakan akan tetap mudik besok atau lusa, tepatnya ketika larangan mudik belum berlaku.

Ia juga sudah merencanakan alernatif keberangkatan. Jika biasanya pergi menggunakan bus antar kota, maka nanti ia akan naik motor pribadi dan mencari jalur-jalur tikus yang sekiranya tidak ada penjagaan.

"Tetaplah akan mudik. Naik motor pribadi. Nanti dicarilah jalan-jalan tikusnya," pungkasnya.

Tanggapan serupa datang dari Juanda (64), tukang parkir di Cipayung. Ia mengaku sudah punya rencana mudik bersama istri dan empat anaknya. Namun dia sendiri bingung karena pemerintah sekarang langsung menerapkan larangan mudik.

"Mudik, karena keluarga banyak di daerah. Tapi bingung sekarang mudik dilarang," ungkapnya.


Ia pun kecewa dengan kebijakan itu. Karena dia mudik bukan sekadar melepas kangen kampung halaman, tapi juga selalu menyempatkan diri ziarah ke makam orang tua.

Juanda sendiri mudik ke Sukabumi, Jawa Barat. Di sana keluarga besarnya menetap dan berkumpul setiap lebaran.

"Saya jelas kecewa. Kita kan tiap tahun pasti pulang karena juga biasanya ziarah makam (orang tua)," kata.

Meski begitu, kemungkinan besar dia dan keluarga akan mengikuti aturan pemerintah untuk tidak mudik. Dengan sangat terpaksa dia harus mengubur kerinduannya akan kampung halaman.

"Ya mau enggak mau, enggak bakalan mudik. Lagian duit juga udah seret," pungkasnya. (yoa/ndn/osc)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK