Jatim dan Surabaya Beda Suara soal Klaster Corona di Dua Mal

CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2020 15:06 WIB
Petugas medis berjalan melewati fasilitas baru untuk pasien anak yang terinfeksi virus corona (COVID-19) di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Kapasitas ruangan untuk penanganan pasien Corona RS tersebut bertambah dari sebelumnya dilakukan di tiga lantai Gedung Kiara (lantai 1, 2, dan 6) menjadi empat lantai dengan tambahan di lantai 4. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz Ilustrasi penanganan Corona. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Surabaya, CNN Indonesia -- Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur dengan Gugus Tugas Covid-19 Surabaya memiliki perbedaan penetapan status terkait klaster di dua pusat perbelanjaan di Kota Pahlawan, yakni Pakuwon Mall dan Tunjungan Plaza.

Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, dr Kohar Hari Santoso, mengatakan pihaknya menganggap dua mal itu sebagai klaster penularan Covid-19.

Klaster Pakuwon Mall bermula dari temuan kasus Corona pada seorang tenaga pemasaran atau marketing yang berkantor di sana, 26 Maret. Ia diketahui terinfeksi Covid-19 sejak 11 Maret.


"Dia sakit, on-site sakitnya tanggal 11 Maret, dan beliau sembuh," kata Kohar, dalam konferensi pers live streaming di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Selasa (12/5) malam.

Pada 24 Maret, ditemukan pula kasus lain di mal yang sama. Pasien tersebut diketahui sakit sejak 13 Maret. Dia kemudian meninggal dunia, pada 28 Maret.

"Dia (pasien kedua) tidak ada riwayat ke negara atau daerah terjangkit selama 14 hari sebelum sakit. Tetapi yang jelas pada 1 Maret dia aktivitasnya di Pakuwon," ujarnya.

Dari pasien meninggal itu, ditemukan sejumlah orang lain yang memiliki kontak erat. Salah satunya adalah seorang pembantu rumah tangga. Ia kemudian terkonfirmasi positif Covid-19 pada 3 April.

Pada 5 April 2020, ditemukan lagi satu kasus positif Covid-19 yang diketahui tinggal bersama anaknya yang bekerja di Pakuwon Mall.

Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
"Tidak ada perjalanan di negara terjangkit. Tetapi dia itu tinggalnya bersama anaknya yang kerjanya di sana (Pakuwon Mall)," ujar Kohar.

Selain itu, Gugus Tugas Jatim juga menyebut ada 9 kasus positif Covid-19 klaster Tunjungan Plaza. Yakni, kasus 101, 181, 182, 433, 464, 488, 489, 490, dan 497. Namun, Kohar tak menjelaskan dengan detail terkait pola penyebaran di mal itu.

Kohar juga mengaku tak memiliki niat untuk menjelekkan pihak tertentu terkait penyebutan dua mal itu sebagai klaster.

"Ini bukan berarti mendiskreditkan Pakuwon. Niat kita bukan untuk menjelek-jelekkan, tapi untuk tracing [kasus Corona]," jelasnya.

Di sisi lain, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya menampik bahwa Pakuwon Mall dan Tunjungan Plaza merupakan klaster penularan Covid-19.

Koordinator Bidang Pencegahan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Febria Rachmanita, beralasan pasien positif yang telah ditemukan di mal itu tidak tertular di tempat tersebut.

"Pakuwon Mall, saya tidak masukan di dalam klaster, TP (Tunjungan Plaza) malah enggak. [Karena] klaster itu pengelompokan berdasarkan sumber penularan, yang dilihat dari hasil kita survey ke lapangan," kata Feny, sapaan akrabnya, Selasa (12/5).

Menurut dia, pasien terkonfirmasi positif yang ditemukan di Pakuwon Mall tidaklah tertular di area Pakuwon Mall. Akan tetapi, ia ditengarai tertular saat menghadiri sebuah seminar serta mendatangi pernikahan.

Plantikan Tri Rismaharini sebagai Ketua Bidang Kebudayaan DPP PDI Perjuangan masa bakti 2019-2024 di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Senin, 19 Agustus 2019. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaWali Kota Surabaya Tri Rismaharini sempat mengeluh warganya tak kebagian ruang perawatan Corona karena RS penuh oleh warga luar daerah(CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
"Jadi penularannya itu, kalau dilihat dari tracing-nya adalah di pernikahan, ada di dalam salah satu pernikahan kemudian dia juga ketemu dengan OTG (Orang Tanpa Gejala) yang ikut seminar. Tapi dia tidak di Pakuwon," ujarnya.

Menurutnya, ada sejumlah kriteria yang harus terpenuhi lebih dulu sebelum menetapkan sebuah lokasi menjadi klaster. Salah satunya yakni perhitungan jumlah pasien yang tertular dari satu lokasi tersebut.

"Jadi bila lebih dari dua penderita yang confirmed itu baru kita kelompokkan klaster. Kemudian, prosesnya berjalan terus. Artinya misalnya sudah ada tiga atau empat konfirm, kemudian proses penularannya berjalan terus. kita masukkan dalam klaster," ucap Feny.

Feny yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya ini menyebut bahwa laporan yang telah dikumpulkan oleh rumah sakit atau puskesmas rujukan juga diperlukan sebagai syarat dalam penetapan klaster.

"Nanti akan diketahui OTG-nya siapa saja (dicari), keluarganya, rekan kantornya dan orang lainnya. Nah, setelah itu pihak puskesmas membuat laporan epidemiologinya ke Dinas Kesehatan Kota Surabaya," pungkas Feny.

Sebelumnya, Jatim dan Surabaya juga sempat beda data secara signifikan soal jumlah pasien Corona.

Per Sabtu (28/3), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumumkan ada 77 pasien positif corona di Jatim. Sebanyak 40 di antaranya ada di Kota Surabaya.

Namun, situs resmi milik Pemkot Surabaya https://lawancovid-19.surabaya.go.id/ menunjukkan bahwa di kota pahlawan hanya ada 31 pasien positif.

(frd/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK