Kisah Rumah Reyot Dekat Kantor Bupati Menanti Bantuan Lebaran

CNN Indonesia | Sabtu, 23/05/2020 06:35 WIB
Lia Marliani (41) dan suaminya, Riki Rudianto (40) bersama empat anaknya  tinggal di rumah reyot yang tak jauh dari Kantor Bupati Pandeglang, Banten. Mereka tak mendapatkan bantuan dari pemerintah meski terdampak wabah Covid-19. Lia Marliani (41) dan suami, bersama empat anaknya tinggal di rumah reyot yang tak jauh dari Kantor Bupati Pandeglang, Banten. Mereka tak dapat bantuan dari pemerintah meski terdampak wabah corona. (CNNIndonesia/Yandhi)
Pandeglang, CNN Indonesia -- Satu keluarga di Kampung Kadu Banen, Desa Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten, tinggal di rumah reyot tak layak huni. Rumah yang dihuni enam orang ini hanya berjarak satu kilometer dari kantor Bupati Pandeglang Irna Narulita.

Lia Marliani (41) bersama suaminya, Riki Rudianto (40) dan empat anaknya berlindung di bilik anyaman bambu. Hanya sekitar 50 centimeter bagian biliknya yang dilapisi bata.

Sejumlah sisi rumah hanya ditutupi oleh kain dan spanduk bekas. Sebagian besar atap rumah ambruk dimakan usia dan tertimpa pohon. Lia menutupnya hanya dengan terpal, lantaran tidak memiliki uang untuk memperbaikinya. 


"Kena angin 2018, kena bencana, pohon klengkeng dibelakang rumah rubuh kena rumah. Belum bisa ngebetulin karena kepentok sama biaya anak sekolah. Jadi didiemin aja," kata Lia Marliani (41), ditemui di kediamannya, Jumat (22/05).

Jika hujan datang, rumahnya pasti bocor. Seluruh isi rumah basah oleh air hujan. Sementara saat panas, terik matahari menerobos sela-sela rumah yang menganga.

Keluarga Lia semakin terpuruk sejak virus corona (Covid-19) mewabah. Lia dan suaminya tidak bisa berjualan nasi uduk karena sepi pembeli.

Sang suami, Riki, belum mendapat pekerjaan lain setelah kontraknya tidak diperpanjang oleh sebuah SPBU di dekat rumahnya sejak 2018.

Dalam kesusahan itu Lia mendapat uluran tangan dari tetangga dan saudaranya. Bantuan datang berupa sembako atau makanan matang untuk di makan keluarga.

Masyarakat di sekitar kampungnya pun mengeluarkan zakat fitrah untuk keluarga Lia dan Riki, agar bisa berlebaran.

"Enggak kerja sudah dua tahun, (terus buka usaha nasi uduk) ngewarung. Abis kontrak 2018, kerjanya di SPBU. Kalau makan ada dari saudara pada ngasih, kebetulan bulan puasa pada ngasih zakat uang. Kalau dari yang lain enggak ada penghasilan," terangnya.

Keluarga Lia dan suami, Riki, mengaku tidak mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT). Padahal, rumah mereka berjarak tak jauh dari Pendopo Bupati Pandeglang.

"Karena Covid saya enggak dagang, suami enggak kerja. Saya harapnya dapat bantuan covid juga, soalnya kan saya juga enggak dapat PKH, BLT juga," ungkap Lia. (ynd/wis)

[Gambas:Video CNN]