Anies: Positivity di Bawah 5 Persen, DKI Belum Bebas Corona

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 19:28 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan usai mengikuti rapat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/1). Gubernur DKI Anies Baswedan memutuskan tetap memperpanjang PSBB transisi demi menghindari risiko lompatan angka positif corona. (CNNIndonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan saat ini tingkat penyebaran virus corona (Covid-19) di wilayah itu sudah tergolong terkendali. Meski demikian, berdasarkan evaluasi, dia memutuskan memperpanjang masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi hingga 14 hari mulai dari 3 Juli 2020.

Ia mengatakan situasi penyebaran yang terkendali ini ditunjukkan dengan jumlah positivity rate di Jakarta berkisar di angka 5 persen. Itu, kata Anies, merujuk Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang merilis angka standar rata-rata kasus positif (positivity rate) corona adalah 5 persen.

"Memang, positivity rate berkisar angka 5 persen. Artinya, dalam standar WHO aman. Tetapi bukan berarti kita sudah bebas [dari virus corona]," kata Anies dalam konferensi pers di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).


Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta per Senin (29/6, secara kumulatif rata-rata pemeriksaan PCR di Jakarta adalah 13.549 tes per 1 juta penduduk. Angka positivity rate testing PCR kurun waktu 22-28 Juni yaitu 4,99 persen atau lebih rendah 0,01 persen dari standar WHO.

Lebih lanjut, Anies mengatakan angka reproduksi penyebaran virus corona di Jakarta juga masih berada di kisaran angka 1, atau belum turun di angka yang lebih aman. Angka tersebut, kata dia, masih sama dengan bulan lalu.

Oleh karena itu, Anies menyatakan saat ini pihaknya memutuskan untuk tetap menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi hingga 14 hari ke depan. Selama PSBB transisi fase kedua ini, Anies menegaskan semua kegiatan yang diperbolehkan beroperasi tetap harus mematuhi aturan 50 persen dari kapasitas gedung.

"Kita tidak ingin di Jakarta, kita melakukan pelonggaran dari 50 persen kapasitas menjadi 100 persen lalu terjadi lompatan kasus. Ini berisiko," ujar Anies menjelaskan alasan memperpanjang masa PSBB transisi DKI.

"Tetap kerjakan 50 persen, dengan cara seperti ini mudah-mudahan bisa kendalikan dan lihat dua minggu lagi ke depan," lanjutnya.

Petugas Dinkes Puskesmas Pulogadung melakukan tes swab pedagang di kawasan Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, Jumat, 19 Juni 2020. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memutus rantai penyebaran covid-19 di sejumlah pasar wilayah DKI Jakarta. CNN Indonesia/Safir MakkiPetugas Dinkes Puskesmas Pulogadung melakukan tes swab risiko corona di kawasan Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, 19 Juni 2020. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Mengendalikan Penyebaran, Bukan Sekedar Menurunkan Grafik

Dalam kesempatan itu Anies juga menyatakan pihaknya tetap mengupayakan untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan risiko sambil terus melakukan pelacakan kasus aktif corona. Itu, sambungnya, agar mampu mengendalikan penyebaran virus corona.

Menurut dia, pengendalian penyebaran virus corona lebih penting dibanding menurunkan grafik dalam laporan. Jika hanya bertujuan untuk menurunkan grafik, Anies mengatakan itu bisa dilakukan dengan mengurangi kapasitas pemeriksaan.

"Untuk menurunkan garis, kurangi testing. Tujuan kita bukan nurunin garis, tapi mengendalikan wabah," papar Anies.

"Jadi bagi kami lebih baik ditingkatkan aktivitas testing-nya, menjangkau pribadi-pribadi yang tanpa gejala tapi positif lalu diisolasi daripada kita membiarkan dengan mengurangi testing," lanjut dia.

Untuk diketahui, PSBB transisi Jakarta fase 1 akan berakhir pada 2 Juli mendatang. Anies mengatakan masa PSBB transisi pun diperpanjang lagi hingga 14 hari setelahnya.

(dmi/kid)

[Gambas:Video CNN]