Nadiem Ibaratkan Pandemi Covid-19 Ledakan bagi Pendidikan

CNN Indonesia | Jumat, 31/07/2020 06:45 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim mengibaratkan pandemi Covid-19 sebagai ledakan awal mula kebangkitan pendidikan Indonesia. Mendikbud Nadiem Makarim mengibaratkan pandemi Covid-19 sebagai ledakan awal mula kebangkitan pendidikan Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengibaratkan pandemi Covid-19 sebagai ledakan awal mula kebangkitan pendidikan Indonesia.

"Seperti ledakan yang melontarkan roket ke luar angkasa, pandemi ini adalah ibarat ledakan yang dapat jadi momentum kebangkitan pendidikan Indonesia. Kita semua akan berusaha mewujudkannya," kata Nadiem dalam webinar "Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Covid-19", Kamis (30/7).

Nadiem kemudian menyampaikan bahwa salah satu upaya Kemendikbud merespons pandemi Covid-19 adalah penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tujuan utama kebijakan ini untuk mencegah lembaga pendidikan menjadi klaster penyebaran Covid-19.


Selain itu, kata Nadiem, PJJ saat pandemi juga menjadi eksperimen. Menurutnya, praktik PJJ saat ini membuka mata Indonesia terhadap tantangan dan potensi pembelajaran di masa mendatang.

"Ke depan, kita akan terus mengembangkan sistem pembelajaran dan teknologi pembelajaran sebagai pelengkap pembelajaran tatap muka, setelah pandemi berlalu," ujarnya.

Pemerintah menerapkan kebijakan belajar di rumah atau PJJ akibat pandemi Covid-19. Kebijakan itu resmi diterapkan lewat surat edaran Mendikbud tanggal 24 Maret lalu.

Namun dalam perjalanannya, kebijakan itu menuai kritik. Pemerintah dinilai tak peka mengingat tidak semua keluarga mampu membiayai ponsel dan kuota bagi anaknya.

Misalnya, kisah Dimas Ibnu Alias, siswa kelas VII SMPN 1 Rembang, yang viral di media sosial. Dimas terpaksa belajar sendiri di ruang kelas karena orang tuanya tak mampu membeli ponsel dan paket data.

Selain itu, ada masalah terkait kurikulum. Hingga saat ini, Nadiem belum menerbitkan kurikulum penyesuaian pandemi.

"Sekarang-sekarang ini kan [soal pencapaian kurikulum] hanya imbauan saja. Pandemi ini kan sudah lama. Kok, lama sekali mengambil keputusan untuk mengubah kurikulum itu?" kata Fahmi Hatib, guru SMA Negeri 1 Monta di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon dari Jakarta, Senin (27/7).

(dhf/has)