Kisah Tim Medis Covid Solo: Dicaci Warga dan Dikejar Anjing

CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2020 07:56 WIB
Tak hanya ditolak, tim medis khusus corona di Solo, Jawa Tengah juga pernah dikejar anjing penjaga karena tuan rumah tak mau menemui. Tenaga kesehatan kerap ditolak warga saat menjalankan tugasnya di tengah pandemi virus corona (CNN Indonesia/ Farid)
Solo, CNN Indonesia --

Menjalankan tugas sebagai tim medis atau tenaga kesehatan khusus penanganan virus corona (Covid-19) tidak selalu didukung masyarakat. Meski didasari niat baik, ada saja penolakan dan tudingan yang kurang mengenakkan.

Pengalaman pahit semacam itu kerap dialami tim medis dari Puskesmas Purwosari, Solo, Jawa Tengah. Mulai dari ditolak hingga dihujani cacian.

Tim medis kerap diusir saat melakukan tugas pelacakan atau tracing. Bahkan petugas dituding sengaja memanipulasi data agar seorang warga dinyatakan positif demi mendapat insentif.


"Kita dimarahi tidak dipercaya, bahkan kita diusir, dan dibentak. Dia merasa dipositifkan Covid biar kita dapat insentif biar dapat bayaran dari pemerintah," tutur Kepala Puskesmas Purwosari, dr Nur Hastuti M.Kes, Kamis (6/8).

Hastuti mengaku puskesmas yang dipimpinnya pernah dilabrak warga. Warga tersebut tidak terima didata sebagai orang yang berkontak erat dengan anaknya yang positif Covid-19.

Warga itu menolak membantu tim medis melakukan pelacakan karena tidak merasakan gejala sama sekali. Akan tetapi, anaknya yang sudah terinfeksi virus corona telah dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.

"Ya kita edukasi pelan-pelan. Kita sampaikan bahwa swab tetap penting. Kalau nanti hasilnya negatif kan sudah plong. Bisa ditunjukkan ke orang-orang sebagai bukti kalau dia tidak kena Covid-19," katanya. Orang tersebut akhirnya bersedia mengikuti uji swab.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Solo, Siti Wahyuningsih, hal-hal serupa tidak hanya dirasakan tim dari Puskesmas Purwosari, tetapi jgua di tempat lain.

Penolakan warga sangat beragam. Sekadar dihubungi melalui telepon untuk wawancara saja dipersulit. Menghadapi kendala ini, petugas biasanya langsung mendatangi alamat kontak tersebut.

Pada praktiknya, petugas beberapa kali tidak dibukakan pintu dari warga yang hendak didata. Padahal petugas memastikan ada orang di dalam rumah.

"Iya. pembantunya mengintip lewat jendela. Tapi petugas kita nggak dibukakan pintu," katanya saat berbincang di kantornya.

Bahkan pernah suatu saat petugas Puskesmas yang hendak melakukan pelacakan dikejar anjing penjaga. Si empunya rumah justru tidak mau menemui.

"Teman-teman sebenarnya bisa mentolerir. Mereka sudah terasah," katanya.

Wahyuningsih mengatakan para tim medis kesehatan kerap kecewa dan sedih ketika ditolak warga. Apalagi jika ada cacian atau tuduhan yang terlontar. Tak sedikit tim medis yang menangis.

Padahal, mereka sangat berisiko tertular virus corona. Namun, tugas tetap harus dijalankan.

"Dibilang 'Anda seperti ini karena ingin mendapat insentif Rp 100 juta per pasien' ini kan sangat menyakitkan bagi anak-anak saya," ucap Ning.

"Kita dapat Rp 100 juta dari mana coba? Saya di sini cuma bisa ngomong. Kasihan anak-anak saya yang di lapangan. Mereka yang merasakan langsung," ucapnya.

Wahyuningsih, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Solo, sangat mengapresiasi petugas pelacakan yang menghadapi tantangan berat di lapangan.

Di saat pegawai pemerintah lain berakhir pekan bersama keluarga, petugas tracing sering kali masih harus terjun ke lapangan demi menghadang penyebaran Covid-19.

Wahyuningsing mengaku berulang kali mengumpulkan petugas sekadar untuk mendengar keluh kesah mereka.

"Kadang-kadang kita video call, kadang saya kumpulkan. Kita saling support. Saya sebagai orang tua mendengar keluhan di puskesmas sedih juga," katanya.

Meski sering mendapat tekanan yang cukup berat dari masyarakat, Wahyuningsih berharap tim tetap konsisten menjalankan tugas. Ia menekankan semua tantangan harus dihadapi demi memutus rantai transmisi Covid-19.

"Kita tidak ada tujuan apa-apa. Tujuannya cuma melindungi masyarakat," ucapnya

(syd/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]