Wawancara Khusus

Tekad Baja Bajo Sang Penantang Gibran untuk Perubahan Solo

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 08:14 WIB
Pasangan Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo) punya tekad membuat kereta bawah tanah untuk mengatasi kemacetan di Solo. Pasangan Bagyo Wahyono-FX Supardjo atau Bajo bertekad menciptakan perubahan jika terpilih di Pilkada Solo 2020 (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Solo, CNN Indonesia --

Pasangan Bagyo Wahyono-FX Supardjo melenggang menjadi bakal calon peserta Pilkada Solo dari jalur independen. Bajo, begitu sapaan akrab mereka, bakal melawan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung mayoritas partai politik pemilik kursi di DPRD.

Banyak kalangan yang bertanya-tanya latar belakang Bajo karena tiba-tiba namanya mencuat menjadi penantang Gibran. Bajo juga ingin ada perubahan di Solo, misalnya membuat kereta bawah tanah seperti yang diidamkan Tuntas Subagyo, orang yang mendukungnya maju di Pilkada Solo.

Mereka lalu membagikan kisah kesehariannya dan awal mula didukung menjadi peserta Pilkada Solo kepada wartawan CNNIndonesia.com Rosyid Ichsan pada 11 dan 14 September lalu.Wawancara dilakukan di kediaman Bagyo Jl. Ki Ageng Mangir No. 8, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan, Solo


Apa pekerjaan Bajo sehari-hari?

Bagyo: Saya sudah 30 tahun lebih jadi desainer. Tapi banyak orang mengatakan saya penjahit. Kebetulan di sini memang khusus merancang baju pengantin, baju pesta. Jadi pasarnya memang pasar yang khusus. Harus pesan. Bisa dibilang butik.

Supardjo: Sampai saat ini masih bekerja sebagai karyawan swasta di lembaga pelatihan spesialis pengelasan di Kelurahan Pajang. Yang kedua, saya juga melayani di masyarakat sebagai ketua RW. Lalu saya di gereja sebagai prodiakon atau pelayan imam.

Artinya di pekerjaan sehari-hari sebagai pelayan, di masyarakat sebagai pelayan, di gereja juga sebagai pelayan.

Punya pengalaman di partai politik?

Bagyo: Kita tidak bergerak di politik.

Supardjo: Kalau politik saya tidak pernah terjun. Cuma biasanya orang kan jadi simpatisan dari awal memang ngefans ke salah satu partai.

Siapa yang pertama kali mendorong anda ikut pilkada?

Supardjo: Oleh mas Tuntas Subagyo, saya dan Pak Bagyo diberi mandat untuk ikut kontestasi pilkada Kota Surakarta.

*Tuntas Subagyo adalah ketua organisasi Panji-Panji Hati di bawah naungan Yayasan Surya Nusantara. Anggota Panji-Panji Hati dikenal dengan sebutan Tikus Pithi Hanata Baris (TPHB).

Bagaimana awal mula Bajo didorong maju lewat jalur independen?

Bagyo: Saya tolak empat kali. Betul saya tolak empat kali. Ini kan hal yang, nyuwun sewu, buta politik, birokrasi, dan lain sebagainya. Saya merasa bahwa saya itu belum pantas karena banyak yang lebih pantas

Supardjo : Sebetulnya saya merasa keberatan juga. Saya sendiri merasa saya itu orang kecil, bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Saya dan Pak Bagyo itu sama sekali tidak punya materi.

Mengapa akhirnya mau?

Bagyo: Tikus Pithi ini memang semua mengerucut dan itu memang hak prioritas Mas Tuntas untuk memilih saya.

Supardjo: Dimotivasi oleh mas Tuntas sebagai ketua Tikus Pithi, kita maju Wakil Walikota Surakarta itu diusung oleh semua anggota Tikus Pithi. baik yang ada di Surakarta, Solo Raya, bahkan Jawa Tengah, Jawa Timur

Bagaimana respons keluarga pertama kali?

Bagyo: Banyak yang tidak percaya. Saya dibilang wong bodho (orang bodoh) dalam arti nggak ngerti tentang politik, nggak ngerti birokrasi. Waktu deklarasi di sini 14 Maret 2019 keluarga nggak percaya. Dikiranya gojekan. Lama-lama kok beneran.

Supardjo: Ya enggak percaya. Yang jelas kan kembali ke penilaian masyarakat. Apa kowe duwe modal? Saya menyadari keluarga juga menyadari kita tidak punya apa-apa.

Berapa banyak uang yang sudah anda keluarkan sejauh ini?

Bagyo: Saya sepeser pun tidak mengeluarkan biaya dan saya tidak punya biaya.

Perubahan apa yang ingin Bajo hadirkan di Solo?

Bagyo: Solo itu kan selama ini hanya tambal sulam. Tapi 100 tahun belum tentu bisa baik. Ganti walikota, dudah-dudah meneh (dibongkar lagi), pemborosan terus. Ke depannya kan sungai harus dibangun yang bener, jalan kalau macet ya segera dibuat alternatif. Termasuk kereta bawah tanah.

Supardjo: Solo ini luar biasa. Ada dua Keraton yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran. Namun sekarang boleh dikatakan pamornya kurang. Saya dan Pak Bagyo ingin sekali menghidupkan kembali dua keraton ini.

Saya pengen nguri-uri budaya Jawi. Terutama kita ingin menjaga adat-adat ketimuran yang sekarang sudah luntur.

(syd/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]