Ricuh di Keerom, Polisi Sebut Tiga Orang Terkena Peluru Karet

CNN Indonesia | Jumat, 02/10/2020 20:04 WIB
Tiga orang terkena peluru karet dalam perusakan kantor Bupati Keerom, Papua, dengan dua di antaranya masih dirawat di RS Bhayangkara. Ilustrasi pengamanan kericuhan. (Foto: ANTARA FOTO/Zainuddin MN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi mengakui ada tiga orang yang mengalami luka tembak terkena peluru karet saat kerusuhan di Arso, Kabupaten Keerom, Papua.

"Memang benar ada tiga orang yang mengalami luka tembak saat kerusuhan yang terjadi di Keerom, Kamis (1/10), dua di antaranya dirawat di RS Bhayangkara," kata abid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal, dikutip dari Antara, Jumat (2/10).

Ketiga orang yang terkena luka tembak itu ialah AS, OS, dan RM. Dua nama terakhir masih dirawat di RS Bhayangkara di Kotaraja. AS sudah berada di Mapolres Keerom.

Sebelumnya, kantor Bupati Keerom, Papua, dilempari batu oleh sekitar 250 orang yang menolak hasil pengumuman Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) formasi 2018 pada Kamis (1/10) sekitar pukul 16.16 WIT.


Akibat kejadian itu, sebagian kaca di kantor tersebut pecah akibat lemparan batu dan kantor Disnaker dan kantor PMK hangus terbakar.

Untuk membubarkan massa, personel gabungan BKO Brimob Polda Papua bersama anggota Polres Keerom mengeluarkan tembakan peringatan ke udara dan menembakkan gas air mata.

Kamal melanjutkan ketiga orang itu terkena peluru karet yang dilontarkan anggota saat berupaya membubarkan massa yang melakukan perusakan kantor Bupati Keerom dan pembakaran kantor Disnaker.

Ia mengatakan saat ini situasi kamtibmas sudah relatif aman dan blokade disepanjang jalan Trans Papua sudah dibuka.

Terpisah, Kapolres Keerom AKBP Joko Mujianto mengaku kerusuhan yang terjadi di wilayahnya berawal dari aksi demo para pencari kerja yang tidak lolos tes CPNS namun berubah menjadi anarkistis.

Dia menyebut sudah ada empat orang diamankan yakni AS, RAM, JD dan RM, pada Kamis (1/10). Tiga orang di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka. Satu pelaku lain yang diamankan masih dalam proses pemeriksaan.

(Antara/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK