ERK Hibur Demo Omnibus Law: Semoga Sehat untuk Aksi Lanjutan

CNN Indonesia | Rabu, 28/10/2020 20:59 WIB
Band Efek Rumah Kaca (ERK) iktu manggung di ajang demo menolak Omnibus Law di Taman Proklamasi dengan membawakan lagu-lagu bertema kritik. Efek Rumah Kaca menghibur massa pedemo Omnibus Law. (Foto: CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Band Efek Rumah Kaca (ERK) turut menghibur massa aksi tolak Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja yang memadati kawasan Taman Proklamasi, Jakarta, Rabu (28/10).

Cholil Mahmud (44), frontman ERK, naik panggung sekitar pukul 18.00 WIB. Ia menyapa dan memberi semangat kepada ribuan massa aksi yang telah berdemonstrasi sejak siang hari.

"Hidup rakyat! Hidup mahasiswa, petani, buruh! Semoga kita tetap sehat dan bisa melaksanakan aksi-aksi lanjutan," seru dia.


Setelah itu, Cholil pun mengambil gitar akustik yang disediakan panitia. Ia pun memacu semangat para demonstran dengan lagu ERK yang fenomenal, "Di Udara".

Lagu itu berkisah tentang kasus pembunuhan Munir Said Thalib, pejuang hak asasi manusia (HAM) yang dibunuh dalam perjalanan udara menggunakan Garuda Indonesia, 2004.

"Ku bisa tenggelam di lautan. Aku bisa diracun di udara. Aku bisa terbunuh di trotoar jalan," Cholil menyanyikan penggalan liriknya.

"Tapi aku tak pernah mati. Tak akan berhenti," sambung dia.

Setelah tembang itu, Cholil melanjutkan dengan lagu "Bunga dan Tembok". Massa aksi turut menyanyikan lagu yang menceritakan ketidakadilan penguasa tersebut secara bersama-sama.

"Kau lebih suka membangun rumah, merampas tanah, kau lebih suka membangun jalan raya, membangun pagar besi," ucap massa aksi serempak menyanyikan lagu itu bersama sang vokalis ERK.

Selain lewat lirik-lirik lagunya yang sarat kritik sosial dan politik, ERK diketahui beberapa kali bergabung dalam aksi massa mengkritik ketidakadilan.

Misalnya, ERK turut menyuarakan kritik terhadap pelemahan KPK saat momentum pembahasan revisi UU KPK, 2019, dengan cara manggung di depan gedung lembaga antirasuah; serta konser dadakan di aksi Kamisan di depan Istana.

Sebelumnya, demo menolak Omnibus Law, pada Rabu (28/10), turut diwarnai oleh panggung musik jalanan, di Taman Proklamasi, Jakarta Pusat. Massa akasi saat itu terdiri dari mahasiswa, buruh, petani, rakyat miskin kota, dan aktivis.

(dhf/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK