PILKADA SURABAYA

Debat Pilkada, Eri Risih Surabaya Dijelekkan Machfud Arifin

CNN Indonesia | Kamis, 19/11/2020 15:25 WIB
Debat publik putaran kedua Pilkada Kota Surabaya berjalan sengit. Dua paslon saling menyerang, menyindir dan membantah satu sama lain. Dalam debat publik putaran kedua Pilkada Kota Surabaya, cawalkot Machfud Arifin (kiri) dan Eri Cahyadi saling menyerang dan membantah dengan sengit (CNN Indonesia/ Farid dan Screenshot via instagram @eriarmujiofficial)
Surabaya, CNN Indonesia --

Debat kedua Pilkada Kota Surabaya 2020 berjalan dengan tensi tinggi pada Rabu malam (18/11). Dua pasangan calon saling lempar serangan dan bantahan, baik pasangan calon urut 1 Eri Cahyadi-Armuji maupun nomor 2 Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno.

Tercatat Machfud-Mujiaman berulang kali mengeluhkan kinerja pemerintah Kota Surabaya. Pasangan Eri-Armuji, yang diusung PDIP, lalu merasa risih dan melontarkan bantahan.

Kepuasan Publik

"Suroboyo dianggap elek terus lak repot ngene iki (Surabaya dianggap jelek terus kan repot begini ini)," kata Armuji, di tengah debat, Rabu (18/11).


Armuji mempertanyakan dasar Machfud yang menyebut bahwa kondisi Surabaya masih buruk selama beberapa tahun terakhir. Ia lalu menantang Machfud menunjukan data survei kepuasan publik terhadap kinerja Pemerintah Kota dan DPRD Surabaya.

Armuji juga menyindir pernyataan Machfud yang mengklaim masih banyak perkampungan kumuh dan rumah tak layak huni di Surabaya. Menurutnya, yang ditunjukkan Mantan Kapolda Jatim itu, hanya sebagian kecil dari ribuan kampung di Kota Pahlawan yang sudah bagus.

"Dari tadi yang disampaikan kampung yang jelek padahal kampung di Surabaya ini ribuan, banyak kampung yang bagus. Dari sekian ribu kampung yang ada kalau ada 5 atau 10 kampung [dianggap jelek] itu hanya nol koma sekian persennya," ujarnya.

machfud arifin-mujiamanPasangan calon Pilkada Surabaya Machfud Arifin-Mujiaman kerap mengejek kinerja pemerintah kota Surabaya selama ini yang dipimpin Tri Rismaharini kader PDIP (Dok. Istimewa via detikcom)

Menanggapi hal itu, Machfud malah kembali menyampaikan temuannya saat berkunjung ke wilayah perkampungan PPI Surabaya. Di sana, kata dia, masih ada 225 keluarga yang belum memiliki akses sanitasi atau jamban di rumahnya. Mereka akhirnya menggunakan enam jamban yang tersebar di tiga RT, secara kolektif.

"Jadi jangan dibilang hanya beberapa kampung yang jelek, kami kemarin datang ke PPI, tiga RT, 225 KK hanya punya jamban enam, satu jamban bisa untuk 40 KK," ucapnya.

Merasa pertanyaannya tak dijawab oleh Machfud, Armuji lalu menyindir. Ia mengatakan bahwa survei kepuasan publik terhadap kinerja Pemkot dan DPRD Surabaya adalah sebesar 90 persen.

"Kepuasan publik aja enggak dijawab. Perlu diketahui kepuasan publik survei semua riset 90 persen. Jadi yang dijelekkan hanya 10 persen. Makanya jangan terlalu menjelekkan kondisi Kota Surabaya," ejek Armuji.

Jembatan Rusak

Serangan berikutnya saat Machfud mengungkit rusaknya jembatan bambu yang dibangun Pemkot Surabaya dengan anggaran Rp1,2 miliar di kawasan wisata Mangrove, Wonorejo, Rungkut, Surabaya.

Jembatan itu dibangun pada 2018-2019 lalu, saat Eri masih menjadi birokrat di Pemkot Surabaya. Machfud menilai pembangunan jembatan itu tak punya urgensi dan tidak berpihak pada masyarakat kecil.

"Eri adalah bagian dari pemerintahan saat masa lalu, kita tahu banyak bangunan yang dikerjakan seperti jembatan di Wonorejo, membangun jembatan yang tidak empati pada masyarakat kecil," kata dia.

Hal itu, kata dia, justru kontras dengan kondisi pasar-pasar di Surabaya yang menurutnya telah rusak dan tak layak. Padahal, pasar sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

"Banyak pasar yang ada di Surabaya tidak satupun yang baik, padahal itu hajat yang banyak [masyarakat] berinteraksi tiap hari, inilah yang tidak diprioritaskan pembangunan [Pemkot Surabaya] untuk pembangunan rakyat kecil," ucapnya.

Eri Cahyadi dan  ArmujiPaslon Pilkada Kota Surabaya yang diusung PDIP Eri Cahyadi dan Armuji risih ketika Machfud-Mujiaman mengejek kinerja Pemkot Surabaya dalam debat publik putaran kedua (Screenshot via instagram @eriarmujiofficial)

Menanggapi hal itu, Eri mengakui bahwa dirinya bagian dari Pemkot Surabaya yang lalu, maka dari itu ia menjadi calon wali kota. Pihaknya juga telah membuat perencanaan pembangunan yang berkelanjutan dan berpihak pada wong cilik.

"Kami akan membuat mereka [masyarakat Surabaya] tidak akan menangis lagi. Dan kami pastikan kebijakan kami akan pro dengan wong cilik," kata Eri.

Soal jembatan di Wonorejo yang rusak, Eri mengatakan hal itu akibat dari kesalahan teknis. Kontraktor pembangunan jembatan itu juga telah di-blacklist oleh pihak Pemkot Surabaya. Menurutnya kerusakan itu adalah hal yang wajar.

"Jembatan itu karena ada namanya kontraktor yang di-blacklist itu wajar. Dari sekian ratus, sekian ribu proyek ada satu yang di-blacklist, tapi kami pastikan bahwa semua pembangunan pasti akan bermanfaat bagi warga Kota Surabaya," ucapnya.

Investasi

Machfud juga sempat menyindir soal Surabaya yang menurutnya tak ramah dengan investasi. Ia bahkan menyebut Kota Pahlawan ini jauh di bawah Bekasi dan Karawang untuk soal kemudahan investasi

"Kita ingin Surabaya ramah investasi. Dibandingkan dengan Bekasi, dibandingkan dengan Karawang Surabaya masih jauh ketinggalan," ucap dia.

Selama ini, kata dia yang digembar-gemborkan Pemkot Surabaya selama ini adalah soal kemudahan perizinan pendirian usaha. Namun nyatanya masih banyak pengusaha yang merasakan kesusahan.

"Penanaman modal dari dalam negeri aja susah, perizinan di Surabaya ini susah, kayaknya online, tapi ujungnya orang harus ketemu. Bikin kafe bikin restoran susah di Surabaya, gimana mau ramah investasi," ujarnya.

Menjawab hal itu, Eri lalu menerangkan soal Incremental Capital Output Ratio (ICOR) untuk mengukur tambahan suatu investasi, dan Incremental Labour Output Ratio (ILOR) untuk mengukur efisiensi penyerapan tenaga kerja, yang sebelumnya tak dapat dijelaskan oleh paslon 2.

"Semakin tinggi ICOR di Kota Surabaya semakin bagus, sedangkan ILOR harus kita turunkan," ucapnya.

(frd/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK