Menilik 'Why Nations Fail,' Buku yang Dibaca Firli Bahuri

CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2020 19:16 WIB
Buku Why Nations Fail yang dibaca Ketua KPK Firli Bahuri, berusaha membantah asumsi bahwa kesenjangan dipengaruhi faktor keturunan dan kondisi geografis. Ketua KPK Firli Bahuri. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Buku Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty jadi perbincangan publik setelah Ketua KPK Firli Bahuri menggunakannya untuk menyinggung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membaca buku How Democracies Die.

Buku ini telah lama jadi sorotan publik di Indonesia sejak dialihbahasakan pada 2017. Pada 2019 Prabowo Subianto menggunakan buku itu untuk mengkritik kebijakan pemerintahan Joko Widodo, rivalnya di Pilpres 2019.

Buku Why Nations Fail ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson pada 2012. Buku itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Mengapa Negara-Negara Gagal: Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan.


Dalam buku itu, Acemoglu-Robinson berusaha mematahkan analisis sejumlah pakar dan ahli teori ekonomi soal alasan kesenjangan ekonomi antarnegara di dunia. Mereka tak sepakat jika kesenjangan terjadi karena kondisi geografis ataupun keturunan.

Mereka mengawali kisah dengan contoh Kota Nogales yang terbelah. Bagian utara kota itu masuk wilayah Amerika Serikat, sedangkan bagian selatan masuk Meksiko.

Meski bertetangga, nasib warga di dua bagian timpang. Warga Nogales, Arizona, AS punya pendapat per kapita US$30 ribu per tahun. Sementara warga Nogales, Sonora, Meksiko hanya punya pendapatan per kapita sekitar US$10 ribu.

Warga dewasa Nogales, Arizona, rata-rata lulus sekolah menengah, remajanya bersekolah, dan mereka menikmati pelayanan publik yang layak. Sementara warga dewasa Nogales, Sonora kebanyakan tak lulus sekolah menengah, remajanya banyak tak sekolah, dan menikmati fasilitas ala kadarnya.

Acemoglu-Robinson berpendapat perjalanan demokrasi dan tingkat koruptif lembaga ekonomi dan politik jadi faktor utama kesenjangan Nogales di Arizona dan Sonora.

"Perbedaan insentif yang diciptakan oleh berbagai lembaga yang menempati masing-masing belahan kota Nogales itulah yang membedakan tingkat kemakmuran bagi warga masyarakat yang hidup di kedua sisi tapal batas," tulis Acemoglu-Robinson.

Mereka kemudian merunut balik sejarah perkembangan demokrasi dan pembentukan lembaga di Amerika Serikat dan Meksiko. Amerika disebut hanya mengalami gonjang-ganjing selama lima tahun (1860-1865) dan berhasil keluar dengan membuat konstitusi yang menjunjung tinggi prinsip demokrasi.

Sementara itu, Meksiko dipimpin oleh diktator Augustin de Iturbide saat merdeka pada 1821. Kekuasaannya tidak dibatasi oleh lembaga-lembaga seperti presiden di Amerika Serikat.

Gaya diktator Iturbide diikuti oleh penerusnya di abad ke-19. Meksiko baru mengenyam demokrasi secara penuh pada periode 2000-an.

Dengan contoh cerita itu, Acemoglu-Robinson mulai menceritakan teori mereka bahwa interaksi lembaga ekonomi dengan lembaga politik akan menentukan apakah sebuah negara bisa tampil berjaya atau sebaliknya.

Meski mengetahui teori itu, menurut mereka, sebuah negara tak akan serta-merta membenahi lembaga mereka. Acemoglu-Robinson menyebut aturan main ditentukan siapa yang berkuasa dan bagaimana ia memainkan kekuasaannya.

"Sebuah negara belum tentu memiliki kemauan politik untuk membangun atau mengadopsi berbagai lembaga yang bisa menciptakan kemakmuran bagi segenap warganya, karena ada seperangkat lembaga lainnya yang lebih menjamin kepentingan segelintir orang yang mengendalikan perpolitikan dan berbagai lembaga yang terkait," tulis mereka.

(dhf/wis)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK