Hari Guru Nasional dan Kisah Sekolah Rimba Menolak Dibodohi

CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2020 09:07 WIB
Guru di sekolah rimba, Jambi, berharap anak-anak yang dididik nantinya tak lagi dibodohi. Kini di Hari Guru Nasional, mereka telah mendidik hampir seribu orang. Anak-anak Orang Rimba Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Jambi berada di kawasan penyangga Taman Nasional Desa Pematang Kabau, Air Hitam, Sarolangun, Jambi, Jumat (3/6). (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Jambi, CNN Indonesia --

Sekolah Rimba Sako Nini Tuo di tepian Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Provinsi Jambi, Sumatera, masih basah diguyur hujan malam itu, sepekan jelang Hari Guru Nasional 2020 yang jatuh pada Rabu (25/11).

Gentar (35), menti (petugas) Orang Rimba Kelompok Tumenggung Ngadap sudah bersiap mengajar anak-anak Orang Rimba yang ada di Sako Nini Tuo, anak Sungai Makekal, 10 Km dari Desa Jernih Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi.

Gentar yang di kelompoknya juga disapa dengan Bepak Beganggum menuju pondok-pondok Orang Rimba.


"Oi...guing pigi sokola," teriakan Gentar menggema di antara pepohonan.

Sejurus kemudian anak-anak keluar dari pondok beratapkan terpal, menuju ke arah Gentar. Anak-anak itu mengikuti gurunya menuju pondok pelajoron. Segera mereka duduk berkumpul.

"Bejarak-bejarak duduknye (jaga jarak duduknya)," kata Gentar kepada murid-muridnya, Kamis (19/11).

Anak-anak itu patuh menjaga jarak, walau tak lama kemudian mereka sudah semakin merapat mendekati gurunya. Murid Gentar beragam usia, dari yang sudah belasan, sampai budak ebun (anak kecil) yang termuda sekitar empat tahun.

Gentar membuka kelas pagi itu. Dia mengecek kemampuan anak didiknya yang sudah belasan tahun, Magar (18), Baasu (15), Begompa (15), Ngarong (13), dan Meranti (12). Tiga murid lainnya, masih usia sangat muda, Mbrusik satu-satunya perempuan (7), dan Nguris (4) dan Ngelatai (5).

Anak-anak rimba ini bersiap menerima pelajaran dari guru mereka. Gentar mengecek kemampuan murid belasan tahun.

"Coba mika tuliy, pagi ini kita belajar," perintahnya.

Segera muridnya menulis. Sesekali masih ada yang lupa huruf dan melirik kawan di sebelahnya. Gentar mengecek satu persatu tulisan mereka, memperbaiki yang keliru.

Sebenarnya anak murid Gentar di rombongan itu ada 25 orang. Hanya saja hari itu sebagian anak pergi ikut orang tua mereka mempersiapkan ritual adat Orang Rimba, sehingga yang ikut belajar beberapa orang saja.

"Mumpa iyoilah keadaan kami belajor, kadong benyok kadang sedikit, tergantung bebudak (Seperti inilah kondisi kami belajar kadang banyak, kadang sedikit tergantung muridnya)," ujar Gentar tentang sekolahnya.

Dalam mengajar anak-anak rimba, semuanya saling mencocokkan. "Hopi tentu waketunye, sebilo budak nio belajor, akeh kasih belajor, atau sebilo akeh luang akeh kasih belajor (Tidak menentu waktunya, bila anaknya ingin belajar dan saya punya waktu kami belajar)," kata Gentar.

Pendidikan yang dikembangkan di Orang Rimba mengikuti adat dan budaya mereka. Tidak ada kelas khusus, bisa di bawah pohon, di pinggir sungai, di bawah tenda atau di mana saja mereka nyaman. Juga tidak menentu waktunya, selagi muridnya mau belajar dan gurunya juga tidak ada kegiatan lain mereka terus belajar bahkan hingga larut malam.

Namun ada kalanya pelajaran terpaksa terhenti. Misalnya saja ketika ada muridnya yang sakit, maka si sakit akan dipisahkan.

Dalam istilah Orang Rimba di sebut dengan sesandingon atau jaga jarak. Adat ini sudah lama diterapkan Orang Rimba. Untuk bisa bergabung belajar anak-anak dipastikan benar-benar sehat.

Tak Ingin Tertinggal

Lantas apa yang mendorong Gentar ingin mengajar?

"Akeh ingin kami Orang Rimba piado dipaloloi (tidak dibodohi). Misalkan, kami menjual hasil rimba kami, berapo timbangan, berapo hargo, kami bisa tentu kalau kami hitung sendiri," ucap Gentar.

Gentar menyebutkan, sudah masanya Orang Rimba tidak boleh lagi tertinggal. Bahkan Gentar berniat suatu hari nanti anak-anaknya bisa lanjut sekolah formal. "Akeh ndok anak akeh bisa sekolah mumpa orang di luaron (saya ingin anak saya bisa sekolah seperti anak orang di luar)," katanya.

Gentar ingin anaknya suatu hari nanti ada yang bisa menjadi lokoter, orang kesehatan, istilah Orang Rimba untuk tenaga kesehatan.

"Kami di rimba, kalau sakit obati sendiri, kalau keluar agak susah jugo, kalau ado di antara kami nan sodah tukang kesehaton, tontu mudah kamia berobat (Kami berharap ada anak didik kami yang bisa menjadi tenaga kesehatan untuk memudahkan Orang Rimba berobat)," jelas Gentar.

Nguris, anak laki-laki satu-satunya Gentar menjadi harapannya untuk bisa sekolah lebih baik, mengikuti jenjang pendidikan formal dan memiliki kecakapan khusus kesehatan.

"Kalau anak akeh nan betina, belum boleh samo induknye untuk sekolah di luaron (untuk anak perempuan, istri saya belum mengizinkan untuk sekolah keluar),"kata Gentar.

Perempuan bagi Orang Rimba memegang peranan sebagai penentu, termasuk sekolah. Ketika istri tidak mengizinkan, pihak suami biasanya juga mengalah tidak ikut mendebatnya lebih lanjut.

Perempuan bagi Orang Rimba adalah penjaga adat. Sehingga interaksi mereka dengan dunia luar sangat dibatasi. Diyakini dengan kuatnya menjaga tradisi ini, adat budaya Orang Rimba masih bisa ditemui hingga hari ini. Meski istrinya melarang anak perempuannya sekolah formal, Gentar tetap mengajari anak-anak perempuannya membaca, menulis dan berhitung.

Gentar, merupakan kader sekolah alternatif yang digagas Komunitas Konservasi Indonesia Warsi. Awalnya Fasilitator Warsi yang menjadi tenaga pendidikan di kelompok ini. Mengajarkan mereka tiga hal pokok saja, baca, tulis dan hitung.Pelajaran ini yang disepakati para Tumenggung, pemimpin Orang Rimba untuk disampaikan pada anak-anak rimba.

Orang Rimba merupakan suku adat marginal yang tinggal di hutan sekunder dan perkebunan di Provinsi Jambi. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok dipimpin oleh Tumenggung.

Antaranggota Tumenggung masih terpecah ke dalam kelompok yang lebih kecil. Seperti Gentar, tergabung dalam Tumenggung Ngadap, hanya saja secara penghidupan mereka terpisah jarak. Tumenggung Ngadap tinggal di Sungai Sungkoi, sedangkan Gentar di Sako Nini Tuo, terpaut jarak sekitar 5 Km atau satu jam berjalan kaki.

Dengan kondisi ini, maka pendidikan untuk anak-anak rimba bisa dilangsungkan di masing-masing kelompok-kelompok kecil. Fasilitator pendidikan mengajari mereka dari pengenalan huruf dan angka, kemudian melanjutkan ke tahap selanjutnya hingga mereka fasih membaca dan menulis serta berhitung.

Anak-anak yang dianggap mampu kemudian diajarkan lagi cara mendidik anggota kelompoknya. Mereka inilah yang dinamakan kader pendidikan.Tidak ada ijazah yang mereka kantongi, apalagi sertifikasi.

Mereka hanya dianggap layak mengajar ketika mampu mengajarkan kembali materi yang didapatkan dari Fasilitator Pendidikan Warsi.

"Dengan adanya kader ini pendidikan untuk Orang Rimba menjadi lebih tersebar merata," kata Jauharul Maknun, Fasilitator Pendidikan Warsi yang menjadi mentor Gentar dalam mengajar.

Dengan kader, pendidikan yang berasal dari Orang Rimba, perempuan yang kalau dengan fasilitator pendidikan Warsi dilarang ikut, jika pengajar dari kelompok mereka boleh ikut.

"Kita berharap pendidikan walau masih terbatas baca tulis dan hitung, bisa menjangkau seluruh anak-anak rimba," kata Maknun.

Kader guru rimba silih berganti setiap tahunnya. Ada kalanya kader menikah dan kemudian tidak diizinkan istrinya mengajar, maka posisi kadernya juga bisa lepas. Seperti yang dialami Gentar.

Keluarga Sempat Tidak Mengizinkan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK