Celoteh dan Reaksi Warga Saat Tes Swab Digelar di Petamburan

CNN Indonesia | Minggu, 29/11/2020 06:43 WIB
Sejumlah warga mengaku mendukung pemeriksaan massal lantaran gratis, sebagian lainnya takut jika kemudian kedapatan sebagai warga yang positif covid-19. Warga Kelurahan Petamburan menjalani pemeriksaan rapid test antigen di Posko Lapangan Futsal RW 04, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (27/11). (CNN Indonesia/Khaira Ummah Junaedi Putri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Petugas gabungan yang terdiri dari TNI/Polri dan Dinas Kesehatan menggelar pemeriksaan deteksi virus corona (Covid-19) menggunakan rapid test antigen bagi warga Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (27/11).

Pemeriksaan itu tersebar di empat titik, yakni di Kantor Kelurahan Petamburan, Rumah salah satu warga di RT 5, Lapangan futsal RW 4 dan Sekolah Dasar 01 Petamburan.

Salah satu warga RT 12/RW 04 Kelurahan Petamburan, Ria, mengaku semangat datang jalan kaki pukul 08.30 WIB menuju Posko di Lapangan Futsal RW 04 dengan motif inisiatif pribadi. Ia pun mengaku tak takut bakal menjalani rapid test antigen yang sampelnya bakal diambil dari lendir hidung atau tenggorokan. Wanita itu menegaskan tak risau benda tumpul itu akan mengorek mukosa hidungnya. Mumpung gratis, kata ibu dua orang anak ini.


"Saya sering medical check up, sudah pernah rapid test yang biasa tiga kali," kata Ria kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/11).

Bayang-bayang hasil pemeriksaan pun tak membuatnya khawatir, sebab ia meyakini kondisi tubuhnya dalam keadaan yang prima. Apalagi, kata dia, ia tak sempat mengikuti kerumunan yang terjadi di Petamburan seperti acara penyambutan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab pada (10/11), serta acara Maulid Nabi dan pernikahan putri keempat Rizieq pada (14/11) malam itu.

"Waktu ada cara itu, saya di rumah," kata dia.

Saat ditanya perihal antusiasme keluarganya untuk mengikuti pemeriksaan ini, ia pun mengaku suaminya sempat enggan. Namun ia mengaku bakal membujuk suaminya untuk ikut dalam pemeriksaan serupa yang bakal berlanjut esok hari, Sabtu (28/11) di tempat yang sama.

"Ya, apa salahnya periksa begitu kan," pungkas Ria.

Di tempat yang sama, Warga RT 13/ RW 04 Kelurahan Petamburan Harif, datang tertatih menuju salah satu dari empat titik pemeriksaan rapid test antigen hari ini. Pria kelahiran tahun 1944 silam ini mengaku pemeriksaan rapid bahkan swab sudah pernah ia jalani sebelumnya, sehingga ia tak menaruh banyak khawatir.

Di usianya yang sudah sepuh, ia pun sadar virus ini rentan menyerang usia sepantarannya. Oleh sebab itu, pemeriksaan deteksi covid-19 menurutnya adalah sebuah hal pasti yang tak perlu ragu untuk dilakukan, apalagi kali ini gratis, kata dia.

"Kesadaran saya sendiri jadi tidak takut. Mumpung ada kesempatan gratis saya datang," kata Harif.

Usai pemeriksaan berlangsung, Harif sebetulnya mengaku tak nyaman saat petugas harus mengambil sampel lendir melalui hidungnya itu. Ia mengaku sempat geli dan terasa perih meski petugas sudah melakukan prosedur itu dengan hati-hati.

"Sebenarnya saya sudah pernah swab ya, mirip lah pakai hidung dan tenggorokan, geli gimana gitu," kata dia.


Sementara itu, salah seorang warga di RT 13/ RW 04, Ndi, mengaku maju mundur saat mendengar kampungnya dijadikan titik pemeriksaan deteksi covid-19 sejak 22 November lalu. Di satu sisi ia penasaran bagaimana rasanya pemeriksaan covid-19 karena ia belum pernah sama sekali menjajal baik rapid test dengan sampel darah, rapid test antigen maupun tes swab.

Namun di sisi lain, pria penjaja bakso ini takut terpapar covid-19, sehingga harus menjalani isolasi di Rumah Sakit Wisma Atlet, Kemayoran. Selain itu, ia meyakini kondisi tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja meskipun kadang hanya flu biasa.

"Kan takut ya dibawa ke Kemayoran sana, apa itu, di Wisma Atlet, nanti dagangan bagaimana nasibnya, gitu deh," kata Ndi.

Ndi juga meyakini apabila ia sudah mengenakan masker dan menjalani pola hidup bersih, maka kemungkinan dirinya tidak terpapar virus corona. Ia juga berharap kondisi kesehatannya bakal terus sehat, mengingat ia harus memenuhi kebutuhan dapur demi keluarga kecilnya.

"Saya dagang juga bersih, selalu pakai masker, cuci tangan, ya semoga sehat terus lah ya," ujarnya,

Senada, Rizki (bukan nama sebenarnya) mengaku enggan berduyun datang ke posko pemeriksaan yang diinisiasi petugas gabungan itu. Rizki mengaku takut apabila hasil pemeriksaan terhadap dirinya positif sehingga ia harus menjalani masa isolasi mandiri di rumah. Lagipula, ia mengaku kondisi tubuhnya baik-baik saja dalam beberapa pekan terakhir ini.

"Takut sih, banyak kemungkinan gitu, ya kalau saya negatif enak ya, kalau positif kan bingung juga," kata Rizki.

Pria kelas 3 SMA ini mengaku saat terjadi kerumunan di sekitar rumahnya, ia hanya menonton dari teras rumah dan tak ikut berkerumun. Sehingga ia yakin tubuhnya dalam kondisi fit, meskipun status orang tanpa gejala covid-19 masih menghantuinya sehingga membuatnya enggan melakukan pemeriksaan.

Sementara itu, kegiatan Rapid test antigen massal untuk mendeteksi sebaran kasus virus corona bagi warga Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, sepi peminat. Tiga jam berlalu, tercatat hanya 15 warga yang bersedia mendatangi salah satu posko pemeriksaan di Lapangan Futsal RW 4, Petamburan. Pemeriksaan dibuka sejak pukul 08.00-11.30 WIB, pantauan CNNIndonesia.com, ada tiga petugas kesehatan dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) dari Puskesmas Tanah Abang yang melakukan pemeriksaan dan pendataan warga.

Ketua RW 04 Kelurahan Petamburan Handhi Hasyim menyebut antusiasme warga di tiga titik lainnya juga tak jauh beda dengan yang ada di Lapangan Futsal, kurang lebih hanya 20 orang per posko. Ia mengaku merosotnya antusias warga akan pemeriksaan ini disebabkan atas rasa ketakutan pribadi warga. Hasyim bilang, warga yang merasa sehat takut bilamana positif terpapar covid-19, sehingga terancam mobilitas keseharian mereka.

"Ini rapid test antigen pertama ya, kemarin rapid test biasa. Minat masyarakat belum maksimal, mereka takut baca di media [tes] sakit atau apa, takut kegiatan terganggu apalagi mereka yang sehat, dia khawatir kalau tanpa gejala gitu. Jadi intinya mereka khawatir, takut, trauma, seperti itu," kata Hasyim kepada CNNIndonesia.com di lokasi, Jumat (27/11).

Hasyim pun menyebut pihaknya sudah berupaya melakukan sosialisasi dan membujuk warga secara personal, namun pada akhirnya keputusan tetap terletak di tangan warga. Hasyim menegaskan pihaknya hanya mengimbau dan bukan memaksa dalam pelaksanaan pemeriksaan kali ini.

(khr/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK