Kasus Uang Palsu, Setor Tunai ATM Diakali Pakai Duit Tempelan

CNN Indonesia | Sabtu, 28/11/2020 01:32 WIB
Komplotan uang palsu di Semarang memakai modus membelah uang asli jadi dua dan menyetorkannya secara tunai ke ATM untuk mendapat saldo lebih. Ilustrasi ATM. (Foto: Thinkstock/payphoto)
Semarang, CNN Indonesia --

Sindikat uang palsu di Semarang meraup keuntungan dengan memakai modus setor tunai duit abal-abal yang ditempelkan dengan uang asli via mesin ATM.

Kasus ini sendiri terungkap berkat laporan bank ke Polrestabes Semarang setelah menemukan setidaknya uang palsu di dalam ATM.

Empat tersangka, yakni Suripto yang merupakan warga Wonosobo, Yasir warga Banyuwangi, Sodikin warga Batang, dan Yapto warga Semarang, dibekuk di tempat yang berbeda.


Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Semarang AKBP Indra Mardiana menjelaskan modus operandi pembuatan uang palsu yang dilakukan Yapto dan rekan-rekannya cukuplah unik.

"Modus pelaku ini dengan menyetorkan uang lewat ATM setor tunai," ucap dia, di kantornya, Semarang, Jumat (27/11). 

Mulanya, kata dia, pelaku memisahkan bagian depan dan belakang uang asli pecahan Rp50 ribu atau Rp100 ribu dengan membasahinya lebih dulu.

Lapisan asli, baik yang depan maupun yang belakang, ditempelkan ke sisi pasangan uang palsu. Sehingga, tiap lembar uang abal-abal itu memiliki sisi asli dan palsu.

"Modus operandinya cukup unik. Satu lembar uang asli itu lapisannya dipisah kemudian ditempelkan dengan sisi uang palsu sesuai pasangannya. Jadi tiap lembarnya, ada sisi yang asli dan ada sisi yang palsu," terang Indra.

Cara ini, lanjutnya, dilakukan agar bisa meloloskan uang palsu dalam setor tunai ATM. Teknisnya adalah dengan menempatkan sisi uang yang asli menghadap badan nasabah saat setor untuk mengakali sensor.

"Untuk bisa tembus masuk ATM, tersangka sudah tahu teknisnya dimana sisi yang asli ditempatkan menghadap badan nasabah. Usai setor, tersangka pindah ke ATM lain untuk transaksi tarik", jelas Indra.

Dari hasil penyelidikan diketahui pembuatan uang palsu telah dilakukan para tersangka selama 3 tahun. Agar tidak dicurigai, tersangka menyasar pedagang kecil di Pasar tradisional hingga ke SPBU.

Laporan Bank

Di tempat yang sama, Kapolrestabes Semarang Kombes Polisi Auliansyah Lubis menyebut pengungkapan kasus ini berawal dari laporan bank.

"Pengungkapan kejahatan uang palsu ini diawali dari laporan bank kepada kami. Ada banyak lembar uang palsu masuk ke beberapa mesin ATM milik beberapa bank," ujarnya.

Tim Reserse Mobil Polrestabes Semarang yang dipimpin Iptu Reza Arif Hadafi kemudian menindaklanjutinya dan melakukan penangkapan tersangka Suripto dan Yasir, di depan Pasar Mranggen, Demak, Senin (23/11).

Saat itu, petugas mendapati barang bukti uang palsu pecahan Rp100 ribu berjumlah Rp6,7 juta. Kepada polisi, Suripto mengaku mendapatkan uang palsu senilai Rp10 juta dalam pecahan Rp100 ribu dengan harga Rp3 juta dari Sodikin.

Polisi pun mengembangkan penyelidikan hingga menangkap tersangka Sodikin di Purbalingga. Barang buktinya ialah uang palsu Rp200 juta. Dia mengaku uang palsu tersebut didapati dari Yapto, warga Semarang, dengan harga Rp2,7 juta rupiah untuk setiap Rp10 juta uang palsu.

Tak memakan waktu lama, Resmob Polrestabes Semarang menangkap Yapto di Semarang berikut barang bukti uang palsu Rp800 juta, alat cetak, komputer, kertas, dan pewarna.

Infografis Daftar Kasus Besar Uang Rupiah Palsu di IndonesiaInfografis Daftar Kasus Besar Uang Rupiah Palsu di Indonesia. (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)

Dari hasil penyelidikan, otak utama pelaku adalah tersangka Yapto, yang selama ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus uang palsu yang ditangani oleh Bareskrim Polri.

"Tersangka Yapto adalah pelaku utamanya. Yang bersangkutan adalah yang membuat, dan ternyata jadi DPO Bareskrim Mabes Polri", kata Aulia.

Atas perbuatannya, keempat tersangka dikenai pasal 244 dan 245 KUHP dan atau pasal 36 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

(dmr/arh)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK