WHO: Angka Kematian Covid RI 3,4%, Data Tak Penuhi Standar

CNN Indonesia | Sabtu, 05/12/2020 07:32 WIB
Jika mengikuti pedoman WHO, maka semestinya kematian pada pasien suspek, atau pasien dengan gejala Covid-19 tetap masuk dalam laporan harian. Ilustrasi. TPU Tegal Alur, pemakaman pasien terkait covid-19. (CNN Indonesia/Yogi Anugrah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka kematian atau mortality rate Covid-19 di Indonesia masih tinggi. Laporan tersebut merupakan hasil analisis WHO sepanjang 23 November-29 November.

Berdasarkan laporan tersebut, insidensi kematian Covid-19 di Indonesia sebesar 0,34 per 100.000 populasi, atau jika menggunakan persentase, sebesar 3,4 persen kematian akibat Covid-19.

Sementara menurut standar ketetapan WHO, rata-rata angka kematian global sebesar 2,39 persen. Artinya angka kematian Covid-19 di Indonesia masih lebih tinggi dari pada rata-rata global.


"Selama seminggu 23 November-29 November, jumlah kematian Covid-19 yang dikonfirmasi adalah 0,34 per 100.000 penduduk," kata WHO dalam laporan tersebut, dikutip Jumat (4/11).

Selain itu, WHO juga memperlihatkan tidak ada penurunan kasus kematian beturut-turut dalam tiga pekan terakhir di Pulau Jawa. WHO menyoroti DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, ada lebih banyak kasus kematian dalam kurun waktu 9 November-29 November.

Di DKI Jakarta, pada minggu kedua November (9-15 November) tercatat total 82 kematian, meningkat pada minggu selanjutnya (16-22 November) sebanyak 83 total kematian, dan terus meningkat (23-29 November) sebanyak 121 total kematian.

Sementara itu Jawa Tengah, ada 224 kasus kematian di pekan pertama, meningkat sebanyak 265 kasus kematian di pekan ke dua, dan 363 kasus kematian di pekan ke tiga. Di Jawa Timur, ada 124 total kasus kematian di pekan pertama, 126 di pekan ke dua, dan 226 di pekan ketiga.

Di Jawa Barat, tercatat sebanyak 42 kasus kematian di pekan pertama, 62 kasus kematian di pekan ke dua, dan ada penurunan sebanyak 32 kasus kematian di pekan ke tiga.

Selanjutnya di Yogyakarta, meskipun angkanya rendah, namun menunjukkan peningkatan. Ada total 9 kematian pada pekan pertama, lalu 11 kematian di pekan ke dua, dan 22 kematian di pekan ke tiga.

Berlanjut ke Banten, ada 14 total kasus kematian di pekan pertama, 27 di pekan ke dua, dan 31 kasus kematian di pekan ke tiga. Perlu diketahui, angka ini belum termasuk dengan kasus kematian pada pasien suspek Covid-19.

"Tidak ada provinsi di Jawa yang menunjukkan penurunan berturut-turut selama tiga minggu terakhir dalam jumlah kematian pada kasus yang telah dikonfirmasi," kata WHO.

Dalam laporan itu juga mencatat, Indonesia hanya melaporkan data kematian pada pasien Covid-19 yang sudah terkonfirmasi. Hal ini berbeda dengan standar dan perhitungan data kematian dalam pedoman WHO.

Jika mengikuti pedoman WHO, maka semestinya kematian pada pasien suspek, atau pasien dengan gejala Covid-19 meskipun belum terkonfirmasi positif, dilaporkan dalam data kematian harian.

"Berdasarkan ketersediaan data, hanya kematian Covid-19 terkonfirmasi yang dimasukkan. Namun, sesuai definisi WHO, kematian pada pasien bergejala Covid-19 yang belum terkonfirmasi, atau pasien suspek, adalah kematian terkait Covid-19," tuturnya.

Kondisi tersebut dikecualikan jika ada penyebab kematian lain yang tidak berkaitan dengan Covid-19, seperti misalnya kematian akibat kecelakaan atau trauma.

"Kecuali ada penyebab kematian alternatif yang jelas, yang tidak dapat dikaitkan dengan Covid-19, misalnya trauma [kecelakaan]," dalam laporan tersebut.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Kamis (4/12), akumulasi kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 557.887 orang. Sebanyak 462.553 dinyatakan sembuh, dan 17.355 kasus meninggal dunia.

(mln/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK