Sejumlah tunawisma yang dulu tinggal di kolong jembatan Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, kini terlunta-lunta tanpa tempat tinggal pasca-penataan lokasi itu.
Penataan ruang kota pun dinilai tak memberi solusi kepada warga miskin perkotaan yang merupakan warga asli lokasi itu.
Sebelumnya, kolong jembatan Pegangsaan sempat didatangi Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Risma pada Senin (28/12/20). Jembatan tersebut berada di dekat pintu belakang gedung Kementerian Sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai blusukan Risma, Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta melakukan penataan kolong jembatan Pegangsaan. Pelaksana Harian (Plh) Wali kota Jakarta Pusat Irwandi mengatakan pihaknya pernah mengosongkan kolong tersebut. Namun, para tunawisma kembali lagi.
"Kali ini saya mau tuntaskan. Kolong jembatan ini akan kita buat taman, jadi akses jalan warga. Menjadi tempat penyeberangan orang, melalui kolong jembatan ini," kata Irwandi dikutip dari situs resmi Pemerintah Kota Jakarta Pusat, Senin (4/1).
Zubaidah (49), salah seorang tunawisma yang tergusur dari kolong jembatan itu, mengatakan dirinya saat ini tidak memiliki tempat tinggal. Jika malam, ia bersama beberapa tunawisma yang masih bertahan akan menggelar tikar di jalan kampung sebelah kolong.
Kadang, jika sedang kosong, mereka tidur di bak truk yang biasa digunakan untuk mengangkut tarup atau tenda untuk hajatan. Truk tersebut diparkir tidak jauh dari mulut kolong. Jika hujan, baru ia akan berteduh di bawah kolong.
"Habis gimana, mau ngontrak enggak ada kerjaan, kerjaan ada kuli nyuci, itu cuma cukup buat makan doang," kata Zubaidah saat ditemui CNNIndonesia.com di sisi jembatan Pegangsaan, Kamis (4/2).
Zubaidah mengaku telah tinggal di kolong jembatan Pegangsaan bersama suaminya selama puluhan tahun. Suaminya merupakan warga setempat. Sementara, ia berasal dari kampung tidak jauh dari jembatan tersebut.
Zubaidah mengaku ia dan suaminya memiliki kartu identitas yang menyatakan sebagai bagian warga setempat. "Asli. Asli. Orang kite bukan pendatang, kite orang sini," aku dia.
Zubaidah bekerja sebagai tukang cuci kain dekor tarup. Sebelum pandemi Covid-19, dari pekerjaan tersebut ia bisa mengantongi uang sebanyak Rp50-70 ribu. Uang tersebut, hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Namun, sejak dilanda pandemi, usaha tenda sepi. Banyak warga setempat yang bergantung pada usaha tersebut, termasuk suaminya, menganggur. Kini, Zubaidah melakukan pekerjaan apapun seperti menggosok atau sekadar jasa membelikan air minum.
"Kadang disuruh orang, beliin Aqua atau apa, lumayan lah diupahin dua ribu lima ribu, buat nyambung hiduplah," kata Zubaidah.
Ia juga menuturkan, sebelum digusur, saat tinggal di kolong jembatan Pegangsaan,Zubaidah bisa memasak guna makan sehari-hari keluarganya. Hanya dengan modal Rp30 ribu, Zubaidah dan keluarga bisa menikmati makan seharian.
Senada, Dina Septiani (38), perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di sekitar Depsos bersama suaminya, kini terlunta-lunta. Seperti halnya Zubaidah, Dina mengaku tidur dengan menggelar tikar di jalan kampung Matraman Luar yang berada di sisi kolong.
"Kalo enggak ada barang-barang tendanya tidur di truk. Kalo hujan ke sini (kolong) ngobrol, ngopi," papar Dina.
Dengan terlantar, Dina dan tunawisma kerap meletakkan baju yang mereka bawa di sembarang tempat.
Menurut Zubaidah dan Dina, sebelumnya terdapat enam keluarga yang tinggal di pemukiman kolong jembatan Pegangsaan. Setelah digusur, tersisa tiga keluarga yang kini terlunta-lunta. Mereka adalah keluarga Zubaidah, Keluarga Dina, dan Ayah Dina.
Infografis Tingkat Kemiskinan RI di Era Jokowi. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Baik Zubaidah maupun Dina sebenarnya ingin menyewa tempat tinggal. Namun, mereka tidak memiliki uang. Mereka bisa saja menyewa tempat tinggal jika ada pihak yang menanggung biaya satu atau beberapa bulan pertama. Dalam waktu tersebut, mereka akan menyisihkan uang untuk biaya sewa pada bulan berikutnya.
"Dibayarin sebulan dulu aja deh nanti kami sisihkan sehari Rp10 ribu atau berapa. Ke sononya kita usaha sendiri. Kalo kayak kita orang mau teriak ke mana?" kata Dina.
Sementara itu, menurut mereka, beberapa keluarga yang pernah tinggal di kolong jembatan Pegangsaan terpaksa menyewa kamar di daerah Pisangan.
Salah satunya adalah Ali Hasan, laki-laki yang telah berusia lanjut. Ali hidup bersama saudara iparnya, seorang perempuan yang sudah sama renta. Ipar Ali merupakan penyandang tuna daksa. Untuk berjalan, ia harus mengesot.
Penggusuran kolong itu tidak hanya membuat Ali kehilangan tempat tinggal, ia juga kehilangan pekerjaannya sebagai tukang tambal ban. Sebelum digusur, Ali membuka lapak tambal ban di sisi luar kolong jembatan.
Umar Ngali, anak dari Ali Hasan mengatakan, ia harus patungan dengan kakaknya untuk biaya sewa kos sang ayah. Menurut Ali, ayahnya masih ingin membuka usaha tambal ban yang menjadi sumber penghidupannya.
"Mau nyari makan gimana? Kan sehari-hari makan perlu. Kalo tambal ban kan pasti ada pemasukan walaupun seribu dua ribu. Nggak mungkin minta ke anak buat makan," kata Umar.
Tunawisma lain yang mengontrak adalah saudara kandung Dina. Mereka terpaksa mengontrak karena memiliki anak kecil. Sejak digusur, kemenakan Dina yang masih sekolah tidak bisa belajar.
"Enggak tahu bulan depan dia gimana nasibnya," kata Dina.
Baik Zubaidah maupun Dina menolak tinggal di panti yang disediakan Dinsos. Sebab, mereka bergantung dengan mata pencaharian yang mereka dapatkan di sekitar jembatan Pegangsaan.
"Kalo tinggal di panti? Di sono emang dikasih kerjaan tapi kita nggak megang duit. Dilatih begitu. Kalo udah lancar nanti dilepas, nyari duit sendiri, gimana?" kata Zubaidah tidak setuju.
Masih Ditinggali Tunawisma
Selain difungsikan sebagai jalan penyeberangan, Pemerintah Provinsi Jakarta menata kolong jembatan tersebut menjadi taman.
Dinding kolong jembatan dibuat mural dengan gambar biota laut dengan latar warna biru. Pada sisi kanan kiri jalan ditanami berbagai bunga yang dilingkari dengan pagar besi. Selain itu, terdapat pula kolam ikan dan beberapa tempat duduk.
Infografis Daftar Bansos di 2021. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Pada Kamis (4/2), sejumlah petugas Satgas Kota Suku Dinas Bina Marga DKI Jakarta tengah menata kolong tersebut. Salah seorang petugas, Subandi, mengatakan kolong jembatan sudah steril dan akan dipasang lampu warna warni RGB.
"Seperti di kolong Kendal," kata Subandi.
Ia juga mengatakan dalam waktu dekat akan ada peresmian.
"Sekarang enak buat lewat," ujarnya.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, terdapat seorang tunawisma yang sedang tidur di balik tembok kolong yang bersisian dengan taman. Di seberang kolong yang dijadikan taman, seorang tunawisma juga tampak beranjak bangun dari kasur lusuh.
Menurut Zubaidah dan Dina, terdapat satu keluarga yang tinggal di kolong seberang. Mereka bukan warga setempat.
"Satu keluarga tapi temennya banyak. Kalau di sini kan enggak boleh bawa orang dari luar," kata Dina.
CNNIndonesia.com telah berupaya menghubungi kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Irmansyah untuk menanyakan nasib tunawisma tersebut pada Kamis (4/2) malam. Namun, nomor Irmansyah tidak bisa tersambung.
Kepala Bagian Publikasi dan Pemberitaan Kementerian Sosial Herman Koswara dan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat juga dikontak sejak Kamis (4/2) perihal ini. Namun, hingga berita ini diterbitkan, keduanya belum merespons.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah tunawisma yang dulu tinggal di kolong jembatan Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, kini terlunta-lunta tanpa tempat tinggal pasca-penataan lokasi itu.
Penataan ruang kota pun dinilai tak memberi solusi kepada warga miskin perkotaan yang merupakan warga asli lokasi itu.
Sebelumnya, kolong jembatan Pegangsaan sempat didatangi Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Risma pada Senin (28/12/20). Jembatan tersebut berada di dekat pintu belakang gedung Kementerian Sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai blusukan Risma, Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta melakukan penataan kolong jembatan Pegangsaan. Pelaksana Harian (Plh) Wali kota Jakarta Pusat Irwandi mengatakan pihaknya pernah mengosongkan kolong tersebut. Namun, para tunawisma kembali lagi.
"Kali ini saya mau tuntaskan. Kolong jembatan ini akan kita buat taman, jadi akses jalan warga. Menjadi tempat penyeberangan orang, melalui kolong jembatan ini," kata Irwandi dikutip dari situs resmi Pemerintah Kota Jakarta Pusat, Senin (4/1).
Zubaidah (49), salah seorang tunawisma yang tergusur dari kolong jembatan itu, mengatakan dirinya saat ini tidak memiliki tempat tinggal. Jika malam, ia bersama beberapa tunawisma yang masih bertahan akan menggelar tikar di jalan kampung sebelah kolong.
Kadang, jika sedang kosong, mereka tidur di bak truk yang biasa digunakan untuk mengangkut tarup atau tenda untuk hajatan. Truk tersebut diparkir tidak jauh dari mulut kolong. Jika hujan, baru ia akan berteduh di bawah kolong.
"Habis gimana, mau ngontrak enggak ada kerjaan, kerjaan ada kuli nyuci, itu cuma cukup buat makan doang," kata Zubaidah saat ditemui CNNIndonesia.com di sisi jembatan Pegangsaan, Kamis (4/2).
Zubaidah mengaku telah tinggal di kolong jembatan Pegangsaan bersama suaminya selama puluhan tahun. Suaminya merupakan warga setempat. Sementara, ia berasal dari kampung tidak jauh dari jembatan tersebut.
Zubaidah mengaku ia dan suaminya memiliki kartu identitas yang menyatakan sebagai bagian warga setempat. "Asli. Asli. Orang kite bukan pendatang, kite orang sini," aku dia.
Zubaidah bekerja sebagai tukang cuci kain dekor tarup. Sebelum pandemi Covid-19, dari pekerjaan tersebut ia bisa mengantongi uang sebanyak Rp50-70 ribu. Uang tersebut, hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Namun, sejak dilanda pandemi, usaha tenda sepi. Banyak warga setempat yang bergantung pada usaha tersebut, termasuk suaminya, menganggur. Kini, Zubaidah melakukan pekerjaan apapun seperti menggosok atau sekadar jasa membelikan air minum.
"Kadang disuruh orang, beliin Aqua atau apa, lumayan lah diupahin dua ribu lima ribu, buat nyambung hiduplah," kata Zubaidah.
Ia juga menuturkan, sebelum digusur, saat tinggal di kolong jembatan Pegangsaan,Zubaidah bisa memasak guna makan sehari-hari keluarganya. Hanya dengan modal Rp30 ribu, Zubaidah dan keluarga bisa menikmati makan seharian.
Senada, Dina Septiani (38), perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di sekitar Depsos bersama suaminya, kini terlunta-lunta. Seperti halnya Zubaidah, Dina mengaku tidur dengan menggelar tikar di jalan kampung Matraman Luar yang berada di sisi kolong.
"Kalo enggak ada barang-barang tendanya tidur di truk. Kalo hujan ke sini (kolong) ngobrol, ngopi," papar Dina.
Dengan terlantar, Dina dan tunawisma kerap meletakkan baju yang mereka bawa di sembarang tempat.
Menurut Zubaidah dan Dina, sebelumnya terdapat enam keluarga yang tinggal di pemukiman kolong jembatan Pegangsaan. Setelah digusur, tersisa tiga keluarga yang kini terlunta-lunta. Mereka adalah keluarga Zubaidah, Keluarga Dina, dan Ayah Dina.
Infografis Tingkat Kemiskinan RI di Era Jokowi. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Baik Zubaidah maupun Dina sebenarnya ingin menyewa tempat tinggal. Namun, mereka tidak memiliki uang. Mereka bisa saja menyewa tempat tinggal jika ada pihak yang menanggung biaya satu atau beberapa bulan pertama. Dalam waktu tersebut, mereka akan menyisihkan uang untuk biaya sewa pada bulan berikutnya.
"Dibayarin sebulan dulu aja deh nanti kami sisihkan sehari Rp10 ribu atau berapa. Ke sononya kita usaha sendiri. Kalo kayak kita orang mau teriak ke mana?" kata Dina.
Kolong Jembatan Pegangsaan Masih Ditnggali Tunawisma
Masih ada tunawisma yang tinggal di kolong jembatan Pegangsaan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sementara itu, menurut mereka, beberapa keluarga yang pernah tinggal di kolong jembatan Pegangsaan terpaksa menyewa kamar di daerah Pisangan.
Salah satunya adalah Ali Hasan, laki-laki yang telah berusia lanjut. Ali hidup bersama saudara iparnya, seorang perempuan yang sudah sama renta. Ipar Ali merupakan penyandang tuna daksa. Untuk berjalan, ia harus mengesot.
Penggusuran kolong itu tidak hanya membuat Ali kehilangan tempat tinggal, ia juga kehilangan pekerjaannya sebagai tukang tambal ban. Sebelum digusur, Ali membuka lapak tambal ban di sisi luar kolong jembatan.
Umar Ngali, anak dari Ali Hasan mengatakan, ia harus patungan dengan kakaknya untuk biaya sewa kos sang ayah. Menurut Ali, ayahnya masih ingin membuka usaha tambal ban yang menjadi sumber penghidupannya.
"Mau nyari makan gimana? Kan sehari-hari makan perlu. Kalo tambal ban kan pasti ada pemasukan walaupun seribu dua ribu. Nggak mungkin minta ke anak buat makan," kata Umar.
Tunawisma lain yang mengontrak adalah saudara kandung Dina. Mereka terpaksa mengontrak karena memiliki anak kecil. Sejak digusur, kemenakan Dina yang masih sekolah tidak bisa belajar.
"Enggak tahu bulan depan dia gimana nasibnya," kata Dina.
Baik Zubaidah maupun Dina menolak tinggal di panti yang disediakan Dinsos. Sebab, mereka bergantung dengan mata pencaharian yang mereka dapatkan di sekitar jembatan Pegangsaan.
"Kalo tinggal di panti? Di sono emang dikasih kerjaan tapi kita nggak megang duit. Dilatih begitu. Kalo udah lancar nanti dilepas, nyari duit sendiri, gimana?" kata Zubaidah tidak setuju.
Masih Ditinggali Tunawisma
Selain difungsikan sebagai jalan penyeberangan, Pemerintah Provinsi Jakarta menata kolong jembatan tersebut menjadi taman.
Dinding kolong jembatan dibuat mural dengan gambar biota laut dengan latar warna biru. Pada sisi kanan kiri jalan ditanami berbagai bunga yang dilingkari dengan pagar besi. Selain itu, terdapat pula kolam ikan dan beberapa tempat duduk.
Infografis Daftar Bansos di 2021. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Pada Kamis (4/2), sejumlah petugas Satgas Kota Suku Dinas Bina Marga DKI Jakarta tengah menata kolong tersebut. Salah seorang petugas, Subandi, mengatakan kolong jembatan sudah steril dan akan dipasang lampu warna warni RGB.
"Seperti di kolong Kendal," kata Subandi.
Ia juga mengatakan dalam waktu dekat akan ada peresmian.
"Sekarang enak buat lewat," ujarnya.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, terdapat seorang tunawisma yang sedang tidur di balik tembok kolong yang bersisian dengan taman. Di seberang kolong yang dijadikan taman, seorang tunawisma juga tampak beranjak bangun dari kasur lusuh.
Menurut Zubaidah dan Dina, terdapat satu keluarga yang tinggal di kolong seberang. Mereka bukan warga setempat.
"Satu keluarga tapi temennya banyak. Kalau di sini kan enggak boleh bawa orang dari luar," kata Dina.
CNNIndonesia.com telah berupaya menghubungi kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Irmansyah untuk menanyakan nasib tunawisma tersebut pada Kamis (4/2) malam. Namun, nomor Irmansyah tidak bisa tersambung.
Kepala Bagian Publikasi dan Pemberitaan Kementerian Sosial Herman Koswara dan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat juga dikontak sejak Kamis (4/2) perihal ini. Namun, hingga berita ini diterbitkan, keduanya belum merespons.