Beda Suara Rocky Gerung & Dokter Tirta soal Kerumunan Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2021 07:55 WIB
Kunjungan kerja Jokowi ke NTT memecah respons publik, ada yang mengkritik aksi presiden yang dianggap memicu kerumunan, ada pula yang menyebut itu spontan. Kunjungan kerja Jokowi ke NTT memecah respons publik, ada yang mengkritik aksi presiden yang dianggap memicu kerumunan di tengah pandemi Covid-19. Tapi ada pula yang menyebut itu terjadi spontan bentuk antusiasme warga. (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (23/2) lalu menjadi sorotan publik lantaran dianggap menciptakan kerumunan di tengah pandemi virus corona.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, tampak warga berkerumun dan berdesakan mengelilingi mobil yang ditumpangi orang nomor satu di Indonesia tersebut. Momen itu pun lantas menuai beragam pendapat dari publik, ada mengkritik Jokowi tapi ada pula yang menganggap kerumunan terjadi spontan.

Seperti Rocky Gerung misalnya, pengamat politik itu menganggap tindakan Jokowi kala itu memancing kerumunan, usai presiden melempar benda-benda dari dalam mobil. Rocky menilai mestinya Jokowi tidak melakukan tindakan tersebut jika menganggap saat ini masih pandemi Covid-19.


"Kalau saya lihat tadi video itu, itu artinya memang presiden memancing kerumunan dengan melempar-lemparkan benda-benda dari dalam mobil yang disebut hadiah, kan itu artinya minta rakyat berkumpul, 'ni gua punya hadiah', kira kira begitu kan," kata Rocky dikutip dari akun YouTube Rocky Gerung Official, Rabu (24/2).

Lebih lanjut, Rocky menyebut, aksi Jokowi muncul dari sunroof mobil saat itu merupakan sebuah adegan yang dibuat dramatis tapi berakibat tragis. Hal itu, kata dia, lantaran masyarakat membandingkan dengan kerumunan yang ditimbulkan oleh pentolan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shibab yang diperkarakan.

Rocky juga berpendapat Jokowi seharusnya bisa saja langsung mengakui kesalahan pada peristiwa itu, lalu kemudian membayar denda. Upaya itu menurut Rocky perlu dilakukan Jokowi guna meredam ocehan publik.

"Tanpa perlu istana kasih apology dulu, 'oke saya buat kesalahan karena itu saya akan membayar denda Rp50 juta' itu sebetulnya lebih beradab supaya kontroversi berhenti," kata dia.

Pemaparan Rocky Gerung saat Deklarasi Aliansi Pengusaha Nasional di Djakarta Teater, Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019. Aliansi Pemgusshs Nasional mendukung Paslon 02 pada pemilu 17 April mendatang. CNNIndonesia/Safir MakkiPengamat politik, Rocky Gerung saat Deklarasi Aliansi Pengusaha Nasional di Djakarta Teater, Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Berbeda dengan Rocky, Relawan Peduli Pencegahan Covid-19 Tirta Mandira Hudhi atau lebih akrab disapa Dokter Tirta menilai sanksi kerumunan tak relevan bila diterapkan pada kasus kerumunan warga yang terjadi usai kedatangan Jokowi di NTT.

Tirta menilai kerumunan warga itu terjadi secara spontan, bukan datang karena ada undangan. Menurutnya, kumpulan orang itu muncul karena Jokowi merupakan tokoh yang berpotensi mengundang kerumunan di setiap aktivitas kerjanya.

"Jadi kembali untuk penerapan sanksi kerumunan menurut saya sudah tidak relevan untuk ditegakkan," kata Tirta melalui video yang diunggah dari akun Instagram @dr.tirta, CNNIndonesia.com telah diberi izin untuk mengutipnya.

Tirta justru mengapresiasi Jokowi yang tetap mengimbau warga NTT untuk tetap memakai masker saat kerumunan terjadi. Namun ia meminta, agar insiden kerumunan itu dapat menjadi pelajaran bagi tim protokoler presiden untuk melakukan upaya pengawalan secara masif. Terutama ketika Jokowi melakukan kunjungan kerja di kemudian hari.

"Semoga ke depannya istana lebih selektif dan protektif jika agenda pak presiden di lapangan, karena antusiasme warga yang sangat besar," pungkas Tirta.

Tak hanya Rocky dan Tirta, sorotan kritik untuk Jokowi juga datang dari Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Benny K. Harman. Ia menyindir dengan menyebut Jokowi hendak menguji kekebalan vaksin Covid-19 yang telah diterima beberapa waktu lalu.

Selain itu, Benny pun menilai insiden kerumunan itu terjadi karena Jokowi ingin menguji nyali Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam penegakan hukum terkait pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19.

Sementara Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban menilai Jokwoi tak bersalah dalam kerumunan yang muncul saat kunjungan kerja tersebut. Kesalahan, menurutnya, dilakukan oleh tim protokoler yang menyiapkan kedatangan Jokowi.

Zubairi pun meminta momen itu menjadi evaluasi bagi para protokoler yang berada di tempat tersebut. Para protokoler, kata Zubairi, mestinya menyadari pesan Jokowi bahwa selain kebijakan, yang penting adalah implementasi.

Presiden Jokowi meninjau tanggul Citarum yang jebol.Presiden Jokowi saat meninjau tanggul Citarum yang jebol. (Foto: Rusman - Biro Pers)

Adapun buntut dari pecah suara publik itu lantaran sebuah momen yang terekam dalam rekaman video beredar di media sosial. Dalam video terlihat Jokowi tampak menggunakan mobil hitam. Warga mengelilingi mobil tersebut.

Kendaraan itu pun sempat terhenti di tengah jalan. Mantan Wali Kota Solo itu lantas membuka atap mobil. Ia keluar dari rooftop mobil dan melambaikan tangan ke arah warga.

Deputi bidang Protokol, Pers dan Media Bey Machmudin menyebut kerumunan terjadi secara spontan karena warga antusias menyambut kedatangan Jokowi. Bey menuturkan saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rombongan presiden di pinggir jalan.

(khr/nma)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK