Eks Panitera Rohadi Ajukan JC: Siap Bongkar Aktor Lain

CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2021 15:13 WIB
Permohonan menjadi JC itu diajukan eks panitera pengganti PN Jakut, Rohadi, dalam persidangan Pengadilan Tipikor Jakarta kasus dugaan pengurusan perkara. Eks Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rohadi. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Terdakwa kasus dugaan suap terkait pengurusan perkara, Rohadi, mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC) atau saksi pelaku yang bekerja sama. Mantan panitera pengganti pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu mengaku siap berterus terang mengungkap pihak lain yang terlibat dalam kasus pengurusan perkara.

"Terkait permohonan Justice Collaborator, kami akan ajukan permohonan dan menyerahkan suratnya ke Yang Mulia," ujar penasihat hukum Rohadi, Fariz Risvano, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (25/2).

Sementara itu, majelis hakim menyatakan bakal mempelajari surat permohonan JC Rohadi.


"Surat tersebut akan majelis pelajari tentang maksud, tujuan dan relevansi perkara," kata Hakim Ketua, Albertus Usada.

Seusai sidang, Fariz menuturkan kliennya siap bekerja sama dalam setiap pemeriksaan di persidangan. Ia berujar Rohadi akan mengungkapkan keterlibatan pihak lain dalam persidangan kasus pengurusan perkara.

"Pak Rohadi siap untuk mengungkap siapa pun untuk pelaksanaan penegakan hukum yang sedang berjalan. Nanti pak Rohadi sendiri yang akan menyampaikan [keterlibatan pihak lain] dalam perkembangan persidangan ini," kata Fariz.

Status JC memungkinkan seorang terpidana mendapat berbagai keringanan dalam hal masa hukumannya. Misalnya, remisi. Syaratnya, terutama, sang terpidana bukanlah pelaku utama kejahatan terorganisasi itu.

Rohadi sebelumnya didakwa menerima suap sebesar Rp1,21 miliar dari Robert Melianus Nauw dan Jimmy Demianus Ijie terkait pengaturan perkara. Suap diberikan agar Robert dan Jimmy dapat diputus bebas di tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA).

Robert dan Jimmy merupakan anggota DPRD Papua Barat periode 2009-2014 yang terjerat kasus korupsi.

Rohadi juga didakwa telah menerima sejumlah pemberian uang. Masing-masing dari Jeffri Darmawan melalui perantara Rudi Indawan sebesar Rp110 juta; dari Yanto Pranoto melalui perantara Rudi Indawan Rp235 juta; dari Ali Darmadi Rp1.608.500.000,00; serta dari Sareh Wiyono Rp1,5 miliar.

Rohadi

Pemberian uang juga terkait dengan pengaturan sejumlah perkara.

Jaksa juga mendakwa Rohadi menerima gratifikasi berupa uang-uang yang ditransfer pihak lain dengan jumlah sebesar Rp11.518.850.000.

Tak hanya itu, Rohadi juga didakwa melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) berupa menukarkan sejumlah mata uang asing (valas) menjadi mata uang rupiah dengan nilai transaksi penukaran seluruhnya sebesar Rp19.408.465.000.

(ryn/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK