Bertemu Tim Vaknus, Ganjar Ingin Berdikari soal Vaksin

CNN Indonesia | Jumat, 23/04/2021 04:40 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta laporan perkembangan penelitian dari tim vaksin Nusantara yang digagas Menkes Terawan Agus Putranto. Gubernur Jateng bertemu dengan tim peneliti vaksin Nusantara di kantornya. (CNN Indonesia/ Damar)
Semarang, CNN Indonesia --

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bertemu tim peneliti vaksin Nusantara terkait kegiatan di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang dan Rumah Sakit Dr. Muwardi Solo, Jawa Tengah.

Pertemuan berlangsung tertutup dan berjalan singkat tak sampai satu jam di ruang tamu Ganjar.

Usai pertemuan, tim peneliti vaksin Nusantara yang berjumlah 5 orang langsung meninggalkan tempat pertemuan dan menolak untuk memberi keterangan.


Usai pertemuan, Ganjar mengaku pihaknya hanya ingin mengetahui laporan perkembangan penelitian vaksin yang dikembangkan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto selama di Semarang dan Solo.

"Sehingga saya nanti bisa menjelaskan kepada publik apa yang terjadi supaya tidak menjadi kontroversi dan jangan sampai ada nuansa politiknya," kata Ganjar, Kamis (22/4).

Ganjar mengatakan tim peneliti vaksin Nusantara baru sebatas menjelaskan secara lisan. Politikus PDIP itu meminta mereka memberikan laporan tertulis mengenai penelitian vaksin berbasis sel denditrik tersebut.

"Saya minta untuk dibuatkan tertulisnya, perkembangannya sampai di mana, apa yang belum beres, apa yang tidak beres, kelembagaannya , regulasinya sudah fit atau belum , metode metodologinya, sampel-sampelnya," ujarnya.

Ganjar menyebut pemerintah membutuhkan dosis vaksin Covid-19 yang banyak untuk memenuhi target vaksinasi. Menurutnya, kapasistas dalam negeri untuk membuat vaksin sendiri juga patut dilihat. Ia pun berkaca pada India yang mulai kesulitan mendapatkan vaksin.

"Jadi kita mesti betul-betul mandiri, berdikari untuk vaksin," katanya.

Sejumlah tokoh juga telah menjalani proses pengambilan sampel darah vaksin Nusantara. Mereka di antaranya mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, sejumlah anggota DPR, hingga mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Setelah pengambilan sampel darah, maka akan diproses selama tujuh hari. Dalam waktu tersebut, sampel darah akan dibiakkan dan dikenalkan dengan protein spike dari virus Covid-19.

Jika hasilnya memenuhi syarat penerima vaksin, maka para relawan yang telah diambil sampel darahnya akan dipanggil kembali dan menjalani penyuntikan.

Di sisi lain, BPOM mendapatkan beberapa temuan yaitu komponen yang digunakan dalam penelitian tidak sesuai pharmaceutical grade dan kebanyakan impor. Sehingga, sampai saat ini BPOM belum mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II vaksin Nusantara.

BPOM lantas membuat kesepahaman dalam Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kementerian Kesehatan dan TNI AD perihal nasib vaksin Nusantara yang saat ini tengah dalam proses pengambilan sampel darah relawan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Vaksin yang digagas Terawan itu diputuskan hanya dilakukan guna kepentingan penelitian dan pelayanan. Artinya, proses vaksin Nusantara ini bukan uji klinis vaksin untuk dimintakan izin edar oleh BPOM.

"Namanya sekarang penelitian melalui pelayanan, itu istilahnya," kata Kepala BPOM Penny K Lukito saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (19/4).

(dmr/fra)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK