Lebaran 2021, Asa dalam Mangkuk Mi dan Terminal Mati

Feybien Ramayanti, CNN Indonesia | Kamis, 13/05/2021 09:06 WIB
Terminal Pondok Pinang di Jakarta Selatan, adalah satu dari sekian pangkalan bus di Ibu Kota yang berhenti beroperasi saat masa larangan mudik 6-17 Mei. Suasana Terminal Pondok Pinang, Jakarta, pada hari pertama pelarangan mudik selama pandemi Covid-19, Kamis (6/5). (CNN Indonesia/Feybien Ramayanti)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sepasang mata pria hampir paruh baya di hadapan saya memandang lurus ke ruang lowong di depannya. Hamparan lengang itu lebih mirip lapangan sonder rumput ketimbang terminal.

Lobang pada lahan lapang beraspal itu jadi kelihatan karena tak lagi tertutup badan kendaraan. Tak satupun bus terparkir di sana. Apalagi penumpang. Tidak pula orang-orang dengan gembolan kardus-kardus atau tas gendong. Lalu lalang agen perjalanan pun tak ada.

Tapi ini tetap terminal. Terminal Pondok Pinang--dulunya Terminal Lebak Bulus--di Jakarta Selatan.


Hari itu Kamis, 6 Mei 2021. Hari pertama penerapan larangan mudik lebaran yang ditetapkan pemerintah hingga 17 Mei mendatang. Wabah virus corona yang berjangkit sejak tahun lalu dan hingga kini belum terkendali, membuat aturan itu mesti berlaku.

Kata pemerintah, melalui televisi, virus yang sudah menginfeksi lebih 1,7 juta orang itu bisa cepat menular dari satu orang ke orang lain. Itu sebab pergerakan perlu dibatasi, agar virus tak cepat menyebar. Salah satunya dengan melarang mudik lebaran tahun ini.

Dari salah satu warung, pria yang mengamat-amati lengang terminal tadi mengaku memahami kondisi tersebut. Ia berusaha patuh aturan pemerintah. Tapi sekaligus juga tak bisa berkilah, kenyataannya, lebih setahun belakangan dagangannya sepi.

Pelarangan mudik dan penonaktifan terminal dua minggu ini sudah tentu membuat kantongnya kian remuk.

"Penghasilan sudah bukan berkurang lagi. Tapi minus. Penghasilan yang kemarin didapat, mau nombokin, buat sekarang juga sudah minus," laki-laki itu bercerita setengah mengeluh saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Hidayat, penjual mie ayam dan pemilik warung di Terminal Pondok Pinang.Hidayat, penjual mi ayam dan pemilik warung di Terminal Pondok Pinang. (CNN Indonesia/Feybien Ramayanti)

Namanya Hidayat. Ia sudah belasan tahun berjualan mi ayam di terminal ini, jauh sebelum berganti nama jadi Terminal Pondok Pinang.

Bila hari-hari normal, ia bisa mengantongi sekitar Rp2 juta dalam sehari. Sebab meski lokasi warungnya di pojok terminal, mi ayam Hidayat tergolong makanan yang diminati.

Namun itu dulu, masa-masa itu kini hanya bisa dijadikan cerita dan tinggal kenangan.

Seperti sekarang misalnya, jarum jam sudah mendekati angka 12. Biasanya, pada waktu-waktu ini dia disibukkan meracik mi ayam untuk mengisi perut sopir bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) dan para calon penumpang.

Tetapi siang itu, Hidayat hanya bisa duduk terpaku. Sesekali dia menyandarkan tubuh di depan gerobak mi. Warungnya kosong. Mangkuk-mangkuk bergambar ayam jago itu menganggur, ditumpuk di balik gerobak.

Sejak wabah meruyak, kondisi keuangannya kian sulit. Apalagi enam bulan sejak kasus Covid-19 pertama diumumkan pada Maret 2020 lalu, Hidayat sama sekali tak berjualan. Ia, kala itu sempat jadi pengangguran.

Saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dilonggarkan, perekonomiannya memang berangsur berjalan. Meski tak langsung normal, seringkali tersendat. Kalau sedang banyak pelanggan, paling banter dia bisa mengumpulkan Rp700 ribu sehari.

Itu pun, kata dia, kelewat ngepas jika mengingat perlu putar uang untuk jualan, belum lagi kebutuhan harian keluarga, makan sehari-hari, menyisihkan uang untuk sekolah anak, kiriman ke orang tua hingga, tagihan kontrakan.

Lanjut baca ke halaman berikutnya ...

Nasib Para Penghuni di Terminal Bus Mati Suri

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK