Nestapa Orangutan Tersingkir Tambang di Hutan Kalimantan

CNN Indonesia | Sabtu, 29/05/2021 13:40 WIB
BKSD Kalimantan Timur menyebut lahan di Desa Sepaso Timur, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, sudah tak layak jadi tempat tinggal orangutan. Orangutan yang tersisa di hutan Kalimantan, 16 Februari 2021. (REUTERS/BOSF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seekor orangutan jantan yang tengah berjalan sendirian di lahan konsesi tambang, Kalimantan Timur, siang itu. Ia terlihat kebingungan. Seolah tidak yakin akan melangkahkan kakinya ke mana, seperti tersesat di rumah sendiri.

Orangutan dikenal sebagai hewan yang semi-soliter. Tidak seperti gorila atau simpanse yang senang hidup berkelompok, orangutan umumnya lebih nyaman menyendiri. Dengan naluri introversi yang dimilikinya, orangutan mampu bertahan hidup tanpa bantuan kawanan lain.

Sepanjang mata memandang tak ada hamparan hijau maupun tutupan hutan yang akrab di mata orangutan. Tanah yang dia pijak gersang. Yang dia lihat justru hamparan tanah kering dan beragam alat berat.


Penampakan orangutan itu juga aneh di mata pekerja di lokasi tersebut. Mereka pun bingung kenapa ada seekor primata di tengah lahan konsesi pertambangan.

"Orangutan ingin jalan ini, ingin menyebrang di tikungan," kata seseorang di dalam rekaman video yang menunjukkan orangutan tengah menyusuri konsesi pertambangan.

Ketua Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur Nur Kabalai mengatakan video tersebut diambil seorang sopir truk yang sedang melintas di wilayah konsesi pertambangan di Desa Sepaso Timur, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Mendapat laporan adanya orangutan yang tersesat di lokasi tambang, Nur langsung menurunkan tim untuk mencari orangutan itu dan menganalisa apakah habitatnya berada tak jauh dari lokasi tersebut.

Kamera drone ia lepaskan untuk memantau kondisi tutupan hutan. Hasilnya, Nur mengatakan sudah tidak banyak tutupan hutan di kawasan itu. Ia menilai kawasan itu sudah tidak layak menjadi tempat tinggal orangutan.

"Dari hasil drone itu terlihat, memang kawasan itu kawasan tambang. Sebelah kirinya [konsesi perkebunan] sawit, sebelah kanannya kebun masyarakat," kata dia kepada CNNIndonesia.com, dikutip Jumat (28/5).

Dalam kata lain, orangutan sudah kehilangan habitatnya di kawasan yang kini dialihfungsikan untuk aktivitas pertambangan, perkebunan sawit, hingga perkebunan masyarakat.

Tiga hari berturut-turut Nur dan anak buahnya berupaya menyisir kawasan tambang untuk mencari keberadaan orangutan. Namun batang hidungnya tak juga ditemukan. Akhirnya mereka menyerah dan pulang ke Samarinda.

Namun tak lama sesampainya di kota, Nur kembali mendapat laporan dari buruh di perkebunan sawit tak jauh dari lokasi tambang. Mereka mengatakan ada dua orangutan memasuki perkebunan sawit.

Ketika Nur datang ke lokasi, lagi-lagi usahanya sia-sia. Orangutan itu sudah pergi entah ke mana. Nur bercerita baru beberapa hari lalu pihaknya menyelamatkan satu orangutan di perkebunan sawit itu. Artinya ada tiga orangutan yang sempat berkeliaran dan tersesat di konsesi tambang dan sawit di sana.

Nur tidak heran ada orangutan memasuki wilayah proyek. Pasalnya kawasan Kutai Timur memang banyak menyimpan habitat orangutan. Ia mengatakan 68 persen orangutan berada di kawasan hutan yang tidak terlindungi.

Sehingga ketika kawasan hutan diserahkan kepada korporasi karena sudah mengantongi izin usaha, orangutan tersingkir dari habitatnya.

Menurut Nur seharusnya sebelum aktivitas proyek dilakukan, orangutan di kawasan tersebut dipindahkan ke habitat yang aman terlebih dahulu. Namun kerap kali upaya itu terlupakan.

"Ini yang perlu kita segera lakukan sosialisasi, SOP ketika ketemu dan mendapat [orangutan di lokasi proyek atau pemukiman] seperti kemarin, harus segera melaporkan ke kami," lanjut dia.

Pembunuhan Orangutan dan Hilangnya Habitat Hutan Alam

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK