Cegah Klaster PTM, 52 Ribu Sekolah Dites Covid Per Bulan

CNN Indonesia | Senin, 27/09/2021 20:42 WIB
Pemerintah akan menggelar tes Covid-19 kepada 1,7 juta rombel di 52 ribu sekolah serta menerapkan apikasi Pedulilindungi di masa PTM. Ilustrasi siswa di masa PTM terbatas. (Foto: ANTARA FOTO/RAHMAD)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengetesan Covid-19 akan digelar terhadap 1,7 juta rombongan belajar di 52 ribu sekolah setiap bulannya selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

Rombongan belajar (rombel) sendiri merupakan kelompok peserta didik pada satuan kelas dalam satu satuan pendidikan alias satu kelas.

"Biayanya sudah kita hitung, ini make sense. Jadi ada 52 ribu sampel sekolah akan kita testing, dan 1,7 juta rombongan belajar ditargetkan testing setiap bulannya, atau ada 30 ribu testing [ke rombongan belajar] sehari," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Konferensi Pers virtual tentang PPKM, Senin (27/9).


Jika ditemukan kasus positif Covid-19 saat PTM berjalan, nasib kelanjutan kegiatan belajar mengajar bakal didasarkan pada hasil positivity rate atau rasio kasus positif di sekolah.

PTM berlanjut jika angka positivity rate kurang dari 1-4 persen populasi sekolah. Sebaliknya, PTM disetop jika kasus positif lebih dari 5 persen populasi.

"Jadi PTM bakal tetap berjalan kalau kurang dari 1 persen, dan antara 1-5 persen. Untuk rombongan belajar yang positif tetap dikarantina, yang tidak terpapar bisa lanjut PTM," tutur dia.

Pihaknya juga mengupayakan metode active case finding atau pelacakan kontak erat. Artinya, bakal dilakukan pelacakan kontak erat kepada minimal 15 orang dari 1 kasus positif.

Di tempat yang sama, Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan berencana mengintegrasikan aplikasi PeduliLindungi untuk PTM di sekolah.

"Integrasi kepada PeduliLindungi dan mengimplementasi program itu di sekolah-sekolah kita," kata dia, tanpa memaparkan lebih jauh soal mekanismenya.

Sebelumnya, aplikasi PeduliLindungi menjadi salah satu syarat masyarakat beraktivitas pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). 

"Kita akan spesifik menutup sekolah, di mana kalau sudah melampaui 5 persen positivity rate. Jadi secara klinis dan juga statistik jauh lebih valid, jauh lebih targeted dan tidak merugikan," ungkap Nadiem.

Terpisah, Pemerintah Kota Tangerang melakukan tes massal sebagai bagian dari penapisan atau screening terhadap guru dan murid terkait pembukaan 148 sekolah jenjang SMP, dari total 199 unit, untuk PTM.

"Sisanya tahap empat," kata Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Tangerang Eni Nurhaeni.

Sementara, Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai menerapkan tatap muka sebagai transisi perkuliahan dari daring atau hybrid. Bagi mahasiswa yang akan masuk kampus, ITB mewajibkan sudah divaksin minimal satu kali.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Jaka Sembiring mengatakan, kuliah tatap muka diselenggarakan untuk meningkatkan atmosfer akademik.

"Kegiatan PTM ini bukan bersifat euforia melainkan telah diukur untuk meningkatkan dan membangun kembali atmosfer akademik," kata Jaka, Senin (27/9).

Infografis Syarat Sekolah Boleh Tatap MukaInfografis Syarat Sekolah Boleh Tatap Muka. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)

Hoaks Klaster Sekolah

Sementara itu, Budi Gunadi dan Nadiem Makarim menepis kabar soal ribuan klaster sekolah saat PTM berlangsung.

Sebelumnya, gaduh kabar 1.296 sekolah menjadi klaster Covid-19 diduga imbas PTM terbatas, usai ada penuturan dari Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek Jumeri.

Data terbaru Kemenkes per 1-21 September 2021, kata Budi, ada 75 kasus positif dari total 6.085 pemeriksaan terhadap siswa di sekolah di 4 provinsi. Kebanyakan temuan kasus juga bukan merupakan klaster Covid-19 sekolah.

Jakarta contohnya, hanya ada 66 kasus positif dari 2.271 kasus. Temuan positif di Jakarta juga bukan merupakan klaster Covid-19 karena hanya 1-2 kasus positif di satu sekolah.

"Kalau kemarin beredar hoaks itu klasternya sedemikian banyak, sebenarnya enggak demikian. Klaster itu lebih sedikit, dan saya sampaikan kepada Mendikbudristek Nadiem Makarim kalau kita harus belajar hidup dengan ini," kata Budi.

Senada, Nadiem menyebut data itu merupakan data kumulatif dari awal penyebaran Covid, bukan data satu bulan terakhir selama PTM.

(mln/dmi/ekm/hyg/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK