NU Jatim Ingin Usulkan Lagi Metode Ahwa Pilih Ketum-Rais Aam

CNN Indonesia
Rabu, 13 Oct 2021 14:52 WIB
Ketua PWNU Jatim mengaku pihaknya ingin mengusulkan kembali metode ahlul halli wal aqdi (ahwa) dalam muktamar untuk memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Ilustrasi muktamar NU. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Surabaya, CNN Indonesia --

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ingin mengusulkan kembali mengusulkan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah atau Ketua Umum PBNU, saat Muktamar ke-34 di Lampung 23-25 Desember 2021.

Hal itu disampaikan Ketua PWNU Jatim Marzuki Mustamar. Ia mengatakan Ahwa akan coba diusulkan kembali oleh diusulkan pihaknya, lantaran mekanisme itu merupakan cara dan tradisi NU sejak dulu dalam memilih pemimpin.

"Ingin kembali ke salaf shalih. Dulu waktu zaman Mbah Kiai Hasyim Asy'ari terpilih rais, lalu Mbah Hasyim pilih ini [ketua dengan mekanisme Ahwa]," kata Marzuki, Rabu (13/10).


Mekanisme Ahwa merupakan sistem pemilihan yang memberikan mandat pengambil keputusan penuh kepada sembilan kiai sepuh yang telah ditentukan dalam muktamar.

Ia mengatakan usulan sistem Ahwa akan disampaikan saat Muktamar di Lampung mendatang. Sebelumnya ia menyebut usulan ini sempat ditolak dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, September lalu.

"Ketika gagal Munas Mubes kemarin tentu kiai kiai tetap mengamanatkan barang kali nanti ada sidang tatib di muktamar, terus diberi kesempatan usul-usul lagi. Namanya juga berjuang," ucapnya.

Marzuki lantas menerangkan preseden sejarah penggunaan metode ahwa dalam memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Itu, sambungnya, seperti yang digunakan dalam Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo, Jatim. Saat itu Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dipilih dengan sistem Ahwa.

"Terus jaman Muktamar Situbondo, terpilih Kiai Achmad Siddiq sebagai Rais Aam lewat Ahwa. Ketika itu salah satu tokoh Ahwa Mbah Kiai As'ad, pilih Gus Dur [Abdurrahman Wahid] aja [sebagai Ketum PBNU]," ucapnya.

Selain itu, Marzuki juga mengatakan metode Ahwa juga pernah digunakan dalam memilih Rais Aam PBNU saat Muktamar pada 2015 silam di Jombang, Jawa Timur.

Tak hanya itu, Marzuki mengatakan mekanisme semacam Ahwa juga acap kali digunakan kiai-kiai dan masyayikh di kalangan pondok pesantren untuk memilih ketua atau pengasuh pesantrennya.

"Itu lebih praktis, dan seperti di pesantren. Mbah kiai dawuh [berpesan], ada di pilihan ketua pondok," ucapnya.

Di samping itu, dalam Muktamar ke-34 mendatang, PWNU Jatim juga memohon kepada beberapa kiai sepuh untuk bersedia menjadi anggota Ahwa di mana beberapa diantaranya adalah KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Jazuli, KH Fuad Hasan, KH Miftachul Akhyar, dan KH Ubaidilah Faqih.

"Beliau-beliau layak keilmuannya, baik pengaruhnya mengakar, wibawanya. Kebetulan yang banyak dari Jatim, seperti Wali Songo di Jatim ada lima," pungkas Marzuki.

Sebagai informasi, Muktamar NU yang sempat ditunda karena pandemi Covid tahun lalu rencananya bakal digelar 23-25 Desember 2021 di Lampung. Dalam muktamar itu akan pula mencari Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode selanjutnya.

Dalam Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang digelar di Jakart apada 25-26 September lalu disepakati untuk penentuan siapa yang akan menjadi ketua umum akan dipilih melalui metode voting, sementara pemilihan Rais Aam PBNU nantinya akan dipilih melalui metode Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

(frd/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER