Untuk mengurangi hukumannya, pada 2011, Blazer sepakat untuk merekam pembicaraan para koleganya terkait kasus tersebut. Saat itu, Blazer merupakan pejabat tertinggi kedua FIFA di CONCACAF.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyuapan bermula pada 2004 dan terus berlanjut hingga 2011,"kata Blazer kepada Hakim Raymond Dearie. "Kami juga setuju menerima suap dari pembayaran hak siar dan lainnya pada penyelenggaraan Piala Emas 1996, 1998, 2000, 2002, dan 2003."
Dirilisnya pengakuan dan dokumen itu oleh jaksa penuntut umum Amerika Serikat, mematahkan pembelaan beberapa pihak yang mengakui tak pernah ada suap di tubuh otoritas sepak bola dunia itu. Seperti dikatakan Presiden FIFA yang baru saja mengumumkan rencana pengunduran dirinya, Sepp Blatter, bahwa ia tidak tahu mengenai suap sebesar 10 juta dolar AS tersebut.
National Post menuliskan, interpol sudah mengeluarkan perintah penangkapan untuk dua mantan petinggi FIFA dan empat eksekutifnya terkait korupsi dan pemerasan. Mantan petinggi FIFA dan CONCACAF, Jack Warner, serta mantan petinggi CONMEBOL asal Paraguay, Nicolás Leoz, disebut-sebut adalah dua di antara target interpol tersebut.
Menindaklanjuti kasus yang diselidiki pihak amerika Serikat, jaksa penuntut umum Swis mulai membuka penyelidikan terkait penunjukan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 di Rusia dan Qatar. (vri)