Surat tersebut tak dibalas pihak PT GTS, hingga pada 8 April BOPI kembali mengirimkan surat untuk mempertanyakan kelengkapan permohonan rekomendasi dan mempresentasikan ajang ISC di hadapan BOPI dan Tim Transisi. Namun hingga hari ini, Selasa (12/4), surat BOPI tak kunjung mendapat respons.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sekarang menunggu saja. Diberikan atau tidak rekomendasi tergantung dari kelengkapan persyaratan yang kami minta. Semakin lama mereka memberikan apa yang kami minta, semakin sedikit waktunya."
Adapun syarat yang harus dipenuhi PT GTS untuk mendapatkan rekomendasi dari BOPI untuk menggelar ISC kurang lebih sama seperti pada saat PT Liga Indonesia mengajukan rekomendasi Liga Super Indonesia (ISL), seperti legalitas perusahaan, administrasi pemain maupun pelatih, kontrak klub, NPWP, dan pajak.
"Kalau PT GTS sudah memenuhi kriterianya, ya tunjukkan. Termasuk juga kontrak stadion dan status pemain asing. Kami akan tunggu, mungkin pekan depan mereka akan kirim surat balasan. Akan tetapi tidak ada jaminan verifikasi dapat selesai dalam waktu 10 hari atau lebih cepat," ucap Noor.
Sekjen BOPI, Heru Nugroho, juga menyayangkan sikap PT GTS yang minim komunikasi dengan pihaknya terkait rekomendasi penyelenggaran ISC 2016.
"Kami sudah melaksanakan perintah dari Pak Menpora (Imam Nahrawi) agar pro aktif, tapi sampai sekarang surat kami saja tidak ditanggapi," katanya.
Sebelumnya Direktur Kompetisi dan Regulasi PT GTS, Ratu Tisha Destria, mengaku pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan BOPI dan kepolisian. Jika ada rekomendasi yang perlu dilengkapi, Tisha mengaku siap untuk mengurusnya.
"Mudah-mudahan saja lancar, kami harus memahami kondisi negara sendiri. Kami sih berharap sejauh ini lancar dan seharusnya tidak ada apa-apa," ucap Tisha. (har)