Pemerintah lebih memilih mengucurkan dana untuk gelaran Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) dari pada PON Remaja 2017 yang keduanya diselenggarakan di Jateng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga telah mengeluarkan surat pada 14 Oktober lalu yang isinya tidak merekomendasikan pelaksanaan PON Remaja 2017.
Jateng juga meminta kepada KONI Pusat untuk memperhatikan dan menindaklanjuti surat dari Kemenpora sesuai dengan mekanisme organisasi yang berlaku.
Sebenarnya, Kemenpora mengizinkan PON Remaja tetap digelar. Tapi, Kemenpora tidak bisa memberikan bantuan dana yang dibutuhkan oleh Jateng untuk melaksanakannya.
Menpora Imam Nahrawi menegaskan, ajang multievent nasional yang digelar harus terencana dan terukur dengan hasil akhir yang jelas.
Wacana lain menyebut, adanya penggabungan POPNAS dan PON Remaja sebagai solusi. Hanya saja, jika disatukan namanya harus tetap menggunakan POPNAS karena pos anggarannya sudah tercantum atas nama tersebut.
"Silakan yang punya ide siapa (menggabungkan POPNAS dan PON Remaja). Kami melihat bahwa sesuai saran Presiden semua harus berujung pada Olimpiade dan sekarang pemerintah punya kewajiban untuk mengarahkan itu.
"Jangan sampai ada anggaran yang tumpang tindih, karena kalau tidak begini semua pasti bikin event yang sama," ujar Imam yang ditemui di ruang rapat Komisi X DPR-RI Senayan, Jakarta, Kamis (20/10).
Meski demikian, Imam mempersilakan jika KONI pusat tetap mendukung penyelenggaraan PON Remaja baik secara moril maupun materil. Sebab, sejauh ini pihak Jateng juga setuju dengan gagasan pemerintah yang lebih fokus pada POPNAS. (jun)