Jelang Piala AFF 2016

Indonesia, Pabrik Bomber yang Mulai Berhenti Produksi

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Kamis, 17/11/2016 10:34 WIB
Indonesia, Pabrik Bomber yang Mulai Berhenti Produksi Ilham Jaya Kesuma sukses jadi bomber tersubur di Piala AFF 2004. (AFP PHOTO/ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dulu sempat dikenal sebagai penghasil bomber tersubur di tiap penyelenggaraan Piala AFF. Namun predikat itu mulai luntur seiring tak adanya pencetak gol terbanyak dari Indonesia dalam tiga edisi terakhir.

Gendut Doni Christiawan mengawali kehebatan Indonesia dalam hal produksi bomber tersebut. Saat itu Gendut Doni jadi bintang dalam perjalanan Indonesia sepanjang gelaran Piala AFF 2000.

Gendut Doni menyumbang tiga gol sepanjang penyisihan dan membuat Indonesia lolos ke babak sdemifinal dengan status runner up.


Di babak semifinal, sepasang gol dari Gendut Doni membantu Indonesia menaklukkan Vietnam dengan skor 3-2. Pemain bernomor punggung 22 itu mencetak gol di menit akhir babak perpanjangan waktu. Gendut Doni dengan dingin menyelesaikan assist Kurniawan Dwi Yulianto.

Sayang, sukses Gendut Doni jadi pencetak gol terbanyak tak diiringi keberhasilan Indonesia jadi juara.

Di babak final, Indonesia kalah 1-4 dari Thailand yang diwarnai hattrick Worrawoot Srimaka. Tiga gol Worrawoot juga membuat dirinya berdiri bersama Gendut Doni jadi pencetak gol terbanyak.

Dua tahun berselang giliran Bambang Pamungkas yang bersinar. Bomber Persija Jakarta ini sukses menjawab harapan Indonesia di lini depan.

Pada babak penyisihan, Bambang tampil menggila dengan mencetak hattrick ke gawang Kamboja (4-2) dan quattrick ke gawang Filipina (13-1).

Bambang kemudian sukses mencetak gol semata wayang ke gawang Malaysia untuk mengantar 'Tim Merah-Putih' ke partai puncak.

Di partai final, Indonesia bermain imbang 2-2 di waktu normal menghadapi Thailand dan memaksa terjadinya adu penalti untuk menentukan pemenang.

Bambang berhasil melaksanakan tugasnya namun Indonesia kalah 2-4 dari Thailand. Mitos gelar pencetak gol terbanyak tak jodoh dengan titel juara kembali terulang di 2002.

Mitos tersebut semakin menguat di tahun 2004. Bomber Persita Tangerang, Ilham Jaya Kesuma berhasil melanjutkan kiprah gemilang di kompetisi domestik saat berkostum tim nasional.

Ilham mencetak tujuh gol sepanjang gelaran kompetisi, lima dicetak di babak penyisihan dan dua di laga semifinal. Tetapi lagi-lagi, Indonesia tak berdaya dan kalah 2-5 dalam agregat lawan Singapura di partai puncak.

Akhir kejayaan Indonesia sebagai pabrik bomber subur ada di edisi 2008 saat Budi Sudarsono menggenggam predikat bomber tersubur bersama Agu Casmir (Singapura) dan Teerasil Dangda (Thailand). Hattrick Budi ke gawang Kamboja di babak penyisihan plus satu gol ke gawang Myanmar membuatnya melesakkan empat gol sepanjang gelaran turnamen tersebut.

Di edisi 2008 ini, predikat pencetak gol terbanyak tak juga mengiringi sukses Indonesia meraih trofi. Indonesia tersingkir di tangan Thailand lewat agregat 1-3 di babak semifinal.

Usai keberhasilan Budi, tak ada lagi pemain Indonesia yang mampu jadi bomber tersubur di gelaran Piala AFF pada tiga edisi berikutnya, 2010, 2012, dan 2014.

Di 2010, Cristian Gonzales dan Muhammad Ridwan hanya membukukan tiga gol, tertinggal dua gol dari Safee Sali.

Dua tahun berikutnya, Indonesia bahkan tak mampu bersaing dalam perburuan predikat bomber tersubur. Tak ada pemain Indonesia yang sanggup mencetak lebih dari satu gol di turnamen edisi 2012 ini.

Pada edisi 2014, Indonesia juga tak sanggup berkompetisi di perebutan sepatu emas. Ramdani Lestaluhu dan Zulham Zamrun yang jadi pemain tersubur Indonesia hanya mampu mencetak dua gol, tertinggal empat gol dari Mohammad Safiq Rahim yang menguasai persaingan tersebut.

Di Piala AFF 2016, ada sejumlah nama yang bisa diharapkan Indonesia untuk keluar sebagai pencetak gol terbanyak Piala AFF, seperti Boaz Solossa, Zulham Zamrun, hingga Andik Vermansah.

Peluang pemain Indonesia untuk jadi pencetak gol terbanyak tentunya bergantung pada perjalanan 'Skuat Garuda', begitu juga sebaliknya.

Semakin jauh tim nasional melangkah, maka bomber-bomber Indonesia berpeluang besar untuk mencetak lebih banyak gol. Bila bomber Indonesia semakin tajam di lini depan, maka itu berarti timnas Indonesia juga lebih berpeluang memenangi pertandingan. (vws)