Ya, banyak terobosan yang telah dilakukan Milla selama kurang dari dua tahun masa kepelatihannya meski gagal mengantar Timnas Indonesia U-23 ke final SEA Games 2017 dan tak sanggup membawa Hansamu Yama dan kawan-kawan lolos semifinal Asian Games 2018.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luis Milla sudah mengenal baik para penggawa Timnas Indonesia. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari) |
Terlepas dari gaji fantastis -jika dibandingkan gaji pelatih asing lain di Indonesia- ada sejumlah faktor yang memaksa PSSI harus mempertahankan Luis Milla.
Fondasi Kuat
Utamanya, mantan pelatih timnas Spanyol U-21 tersebut sudah meletakkan fondasi kuat di skuat Garuda selama hampir dua tahun terakhir. Selain itu, Milla juga sudah mengenal baik sebagian besar pemain Indonesia.
Tak hanya mengenal baik para penggawa Timnas Indonesia U-23, pria berusia 52 tahun itu juga rajin memantau perkembangan pemain senior di kompetisi Liga 1. Itu mengapa ia tak ragu memanggil Stefano Lilipaly di menit-menit akhir jelang pendaftaran skuat Asian Games 2018.
Timnas Indonesia mengundak decak kagum. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Selain itu, Milla juga jeli melihat potensi pemain sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tak jarang pemain harus beradaptasi dengan posisi berbeda di Timnas Indonesia.
Ricky Fajrin misalnya. Bek kiri Bali United ini mulai terbiasa tampil sebagai bek tengah bersama dengan Hansamu Yama Pranata. Evan Dimas yang lebih dikenal sebagai gelandang serang diplot sebagai pemain jangkar dan berfungsi sebagai deep lying playmaker.
Ricky Fajrin diplot sebagai bek tengah di Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Strategi false nine yang populer di Spanyol juga menjadi salah satu opsi Milla di lapangan. Alberto Goncalves pernah dicadangkan untuk memuluskan taktik 'penyerang palsu' sesuai dengan keinginannya.
Perbaikan Mental
Mental Timnas Indonesia di bawah arahan Milla mulai teruji di masa-masa kritis, terutama ketika menghadapi situasi tertinggal. Kondisi ini pernah terjadi di fase grup saat menghadapi Hong Kong.
Indonesia yang butuh kemenangan sempat tertinggal 0-1 dari Hong di babak pertama. Namun, mental anak-anak Garuda justru terlecut di babak kedua. Tiga gol mampu dihasilkan skuat Indonesia untuk membalikkan keadaan dengan kemenangan 3-1.
Timnas Indonesia kalah adu penalti dari Uni Emirat Arab. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Pengalaman di Asian Games 2018 bisa jadi modal bagus Indonesia di ajang Piala AFF 2018. Setidaknya skuat arahan Luis Milla sudah menunjukkan mental bagus untuk bangkit dalam situasi krisis.
Risiko Pergantian Pelatih
PSSI tahu betul risiko yang harus dihadapi jika harus mengganti pelatih dua bulan jelang Piala AFF 2018 bergulir. Meski asisten pelatih Bima Sakti bisa meneruskan filosofi permainan Luis Milla, namun sentuhan akhir di lapangan pasti berbeda.
Tak mudah bagi seorang asisten bisa mendapat kepercayaan penuh dari pemain dalam waktu yang singkat. Situasi yang serupa pernah terjadi di kubu timnas Spanyol di Piala Dunia 2018.
Ada risiko besar jika harus mengganti pelatih jelang Piala AFF 2018. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Beruntung Milla akhirnya bersedia memperpanjang kontrak bersama Timnas Indonesia. Dengan besaran gaji yang cukup gemuk, tak salah jika PSSI menargetkan Milla untuk mengantar Timnas Indonesia menjuarai Piala AFF yang akan digelar mulai November mendatang. (jun/bac)
Luis Milla sudah mengenal baik para penggawa Timnas Indonesia. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Timnas Indonesia mengundak decak kagum. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ricky Fajrin diplot sebagai bek tengah di Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Timnas Indonesia kalah adu penalti dari Uni Emirat Arab. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ada risiko besar jika harus mengganti pelatih jelang Piala AFF 2018. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)