ANALISIS

Alasan PSSI Mati-matian Pertahankan Milla di Timnas Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 20:03 WIB
Alasan PSSI Mati-matian Pertahankan Milla di Timnas Indonesia Luis Milla bersedia memperpanjang kontrak di krusi pelatih Timnas Indonesia. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teka-teki nasib Luis Milla di kursi pelatih Timnas Indonesia akhirnya terjawab. Pelatih asal Spanyol itu tetap dipertahankan PSSI meski sudah dua kali gagal mencapai target di dua ajang penting yang dilakoni Garuda.

Ya, banyak terobosan yang telah dilakukan Milla selama kurang dari dua tahun masa kepelatihannya meski gagal mengantar Timnas Indonesia U-23 ke final SEA Games 2017 dan tak sanggup membawa Hansamu Yama dan kawan-kawan lolos semifinal Asian Games 2018.

Terlepas dari kegagalan di dua ajang tersebut, kepemimpinan Milla di Tim Merah Putih layak diacungi jempol. Sebab, mantan pemain Barcelona dan Real Madrid itu mampu mengubah gaya bermain anak-anak Indonesia.


Pelatih senior Benny Dolo yang kesehatannya tengah menurun, justru memuji kontribusi Milla. Anak-anak Indonesia dinilai sudah mulai terbiasa dengan filosofi sepak bola modern yang mengandalkan permainan dinamis.

Luis Milla sudah mengenal baik para penggawa Timnas Indonesia.Luis Milla sudah mengenal baik para penggawa Timnas Indonesia. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan dianggap berani mengambil inisiatif menyerang sejak awal laga. Kombinasi umpan-umpan pendek dan cepat ala tiki-taka Spanyol pun mulai diserap skuat Timnas Indonesia.

"Dibutuhkan pemahaman strategi dan keputusan cepat dari setiap pemain untuk memainkan sepak bola modern. Kapan harus mengumpan, menusuk ke daerah pertahanan lawan, dan yang terpenting kreatif membongkar pertahanan lawan," kata Benny Dolo dalam perbincangan dengan CNNIndonesia.com belum lama ini.

Terlepas dari gaji fantastis -jika dibandingkan gaji pelatih asing lain di Indonesia- ada sejumlah faktor yang memaksa PSSI harus mempertahankan Luis Milla.

Fondasi Kuat

Utamanya, mantan pelatih timnas Spanyol U-21 tersebut sudah meletakkan fondasi kuat di skuat Garuda selama hampir dua tahun terakhir. Selain itu, Milla juga sudah mengenal baik sebagian besar pemain Indonesia.

Tak hanya mengenal baik para penggawa Timnas Indonesia U-23, pria berusia 52 tahun itu juga rajin memantau perkembangan pemain senior di kompetisi Liga 1. Itu mengapa ia tak ragu memanggil Stefano Lilipaly di menit-menit akhir jelang pendaftaran skuat Asian Games 2018.

Timnas IndonesiaTimnas Indonesia mengundak decak kagum. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Selama kepemimpinannya, Milla juga berani bereksperimen. Salah satunya adalah gemar menggonta-ganti komposisi pemain baik di laga uji coba maupun saat tampil di ajang sesungguhnya. Kebijakan rotasi pemain membuat tim lawan sulit menebak strategi dan skuat utama yang dimiliki Indonesia.

Selain itu, Milla juga jeli melihat potensi pemain sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tak jarang pemain harus beradaptasi dengan posisi berbeda di Timnas Indonesia.

Ricky Fajrin misalnya. Bek kiri Bali United ini mulai terbiasa tampil sebagai bek tengah bersama dengan Hansamu Yama Pranata. Evan Dimas yang lebih dikenal sebagai gelandang serang diplot sebagai pemain jangkar dan berfungsi sebagai deep lying playmaker.

Ricky Fajrin diplot sebagai bek tengah di Timnas Indonesia.Ricky Fajrin diplot sebagai bek tengah di Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Milla juga berani membangkucadangkan Evan bila berhadapan dengan tim yang lebih agresif di lini tengah. Muhammad Hargianto bisa jadi pilihan mendampingi Zulfiandi di lini tengah untuk meredam agresivitas lawan.

Strategi false nine yang populer di Spanyol juga menjadi salah satu opsi Milla di lapangan. Alberto Goncalves pernah dicadangkan untuk memuluskan taktik 'penyerang palsu' sesuai dengan keinginannya.

Perbaikan Mental

Mental Timnas Indonesia di bawah arahan Milla mulai teruji di masa-masa kritis, terutama ketika menghadapi situasi tertinggal. Kondisi ini pernah terjadi di fase grup saat menghadapi Hong Kong.

Indonesia yang butuh kemenangan sempat tertinggal 0-1 dari Hong di babak pertama. Namun, mental anak-anak Garuda justru terlecut di babak kedua. Tiga gol mampu dihasilkan skuat Indonesia untuk membalikkan keadaan dengan kemenangan 3-1.

Timnas Indonesia kalah adu penalti dari Uni Emirat Arab.Timnas Indonesia kalah adu penalti dari Uni Emirat Arab. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Hal serupa juga terjadi ketika Indonesia kontra Uni Emirat Arab di babak 16 besar. Sempat tertinggal dua kali, Indonesia sanggup menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Sayang, Garuda Muda harus mengakui keunggulan UEA di babak adu penalti.

Pengalaman di Asian Games 2018 bisa jadi modal bagus Indonesia di ajang Piala AFF 2018. Setidaknya skuat arahan Luis Milla sudah menunjukkan mental bagus untuk bangkit dalam situasi krisis.

Risiko Pergantian Pelatih

PSSI tahu betul risiko yang harus dihadapi jika harus mengganti pelatih dua bulan jelang Piala AFF 2018 bergulir. Meski asisten pelatih Bima Sakti bisa meneruskan filosofi permainan Luis Milla, namun sentuhan akhir di lapangan pasti berbeda.

Tak mudah bagi seorang asisten bisa mendapat kepercayaan penuh dari pemain dalam waktu yang singkat. Situasi yang serupa pernah terjadi di kubu timnas Spanyol di Piala Dunia 2018.

Ada risiko besar jika harus mengganti pelatih jelang Piala AFF 2018.Ada risiko besar jika harus mengganti pelatih jelang Piala AFF 2018. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Fernando Hierro, legenda timnas Spanyol, tak sanggup menggantikan peran Juan Lopetegui yang dua hari didepak jelang laga perdana Spanyol di Piala Dunia 2018. Meski bertabur pemain bintang, La Furia Roja terseok-seok di fase grup dan harus puas tersingkir di babak 16 besar.

PSSI juga bakal mendapat tekanan besar dari penggemar sepak bola Indonesia yang sudah kadung jatuh cinta kepada Milla. Apalagi para suporter menuding PSSI tak becus menyelesaikan masalah gaji Milla secara profesional.

Beruntung Milla akhirnya bersedia memperpanjang kontrak bersama Timnas Indonesia. Dengan besaran gaji yang cukup gemuk, tak salah jika PSSI menargetkan Milla untuk mengantar Timnas Indonesia menjuarai Piala AFF yang akan digelar mulai November mendatang. (jun/bac)