Wajah Winarni hanya berjarak sekitar satu sentimeter dari kepala Fariz yang terbaring lemas diatas kasur Ruang PICU di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Kamis (8/11). Sambil mengelus kepala Fariz dengan tangan kanannya, bibir juara dunia angkat besi kelas 50 kilogram pada 1997 tersebut tak berhenti berucap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fariz menderita Atresia Esofagus atau tak ada jalur pencernaan dari mulut ke perut.
"Namanya ibu ke anak ya, kalau dikasih semangat seperti itu kayaknya," ucap Winarni terhenti sejenak, mengatur nada bicara yang mulai bergetar dan mata berkaca-kaca.
"Ayo cepat sembuh [Fariz], cepat semangat, sudah lama sekali sih [sakit]. Sudah jauh dari kakaknya juga, sudah masuk empat bulan [di rumah sakit]. Panjang perjalanannya hingga tiba saatnya dia dioperasi," ucapnya melanjutkan.
Winarni menyebut kondisi Fariz semakin lama semakin membaik. Winarni mengatakan berat Fariz hanya delapan kilogram sebelum terbang ke Jakarta dari Lampung. Sekarang, berat Fariz naik menjadi 12,9 kilogram.
Winarni adalah peraih medali perunggu Olimpiade Sydney 2000. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H) |
"Tinggal tunggu pemulihan saja. Operasi yang pertama itu tanggal 1 November, yaitu tarik usus dari bawah hingga ke kerongkongan. Lalu pada 6 November kemarin menyambungkannya," ujar Taufik.
"Alhamdulillah sekarang ususnya sudah tersambung, tapi untuk sementara makannya masih lewat selang yang di perut. Kata dokter memang begitu, bertahap. Sekarang makan masih susu, selain susu masih belum bisa yang lain," ucap Taufik.
"Sebelumnya hampir dua bulan di kos-kosan. Begitu dirawat di sini [RSCM], baru tinggal di rumah singgah," tutur Taufik.
Setelah operasi, lanjut Taufik, Fariz masih harus menjalani masa pemulihan sebelum lepas selang di perut. Kurang lebih dua atau tiga pekan lagi Fariz bisa keluar dari rumah sakit. (map/ptr)
Winarni adalah peraih medali perunggu Olimpiade Sydney 2000. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)