Menyukai olahraga terutama sepak bola, penggemar Manchester United. Pernah bekerja di Harian Olahraga TopSkor, kini menjadi writer di CNNIndonesia.com
Bukan Lagi 'Setan' yang Menakutkan
Surya Sumirat | CNN Indonesia
Senin, 17 Des 2018 15:48 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa pola, tanpa determinasi, dan jauh dari kata indah. Jika digambarkan, demikianlah Manchester United berlaga musim ini. Terlebih lagi ketika ditekuk Liverpool di Stadion Anfield pada Minggu (16/12). Tim asuhan Jose Mourinho itu seperti tidak tahu cara bermain bola yang baik dan lupa menyerang.Saat ditekan The Reds, lini belakang Man United bermain praktis. Lebih tepatnya memilih membuang bola ke samping atau ke depan dengan cepat ketimbang melihat sekeliling lalu memberikan bola kepada pemain yang kosong.
Menengok permainan macam itu, saya dan beberapa teman menyebutnya permainan kick and pray alias tendang lalu berdoa, seraya berharap ada rekan setim yang bisa mengejar bola tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Luis Milla Buka Peluang Latih Persib Bandung |
Tetapi bagaimanapun harus diakui bahwa itu adalah kualitas Man United di musim ini. Meski dihuni banyak bintang dengan harga mahal, tetap saja membuat target Man United di 2018/2019 mengincar peringkat empat besar, bukan perburuan gelar juara.
Saat menjamu Tottenham Hotspur yang menghuni peringkat ketiga klasemen Man United kalah 1-3. Lalu ditahan imbang Chelsea 2-2. Tiga pekan berikutnya Setan Merah kalah 1-3 dalam Derby Manchester melawan Man City dan diimbangi Arsenal 2-2 di pekan ke-15.
Kekalahan dari Liverpool membuat Man United tidak pernah menang melawan tim papan atas di musim ini. (REUTERS/Carl Recine) |
Padahal, rapor gagal menang melawan tim papan atas di putaran pertama tidak pernah ada di era Sir Alex Ferguson. Ketika ditangani pelatih medioker macam David Moyes pun Man United masih bisa menang 1-0 atas Arsenal di paruh pertama.
Louis van Gaal yang menjadi manajer Man United di musim 2014/2015 sukses mengalahkan Arsenal 2-1 dan Liverpool 3-0.
Persoalan Man United di Liga Inggris bukan saja terjadi di musim ini atau di masa Jose Mourinho, tetapi setelah ditinggal Ferguson. Itu karena Man United terlambat dalam merespons perkembangan tim-tim lawan.
Pep Guardiola juga sudah menyatu dengan Man City di musim keduanya dan sukses meraih Liga Inggris pertamanya. Kini di musim ketiganya bersama The Citizens Guardiola kembali dalam jalur membidik gelar Liga Inggris.
Mauricio Pochettino bersama Tottenham Hotspur mulai merusak dominasi empat besar Liga Inggris sejak 2014 sampai dengan saat ini. Di luar itu Unai Emery yang baru merasakan Liga Inggris di musim 2018/2019 juga mulai meramaikan persaingan bersama Arsenal.
Para manajer di atas kecuali Pep Guardiola termasuk ke dalam sosok yang piawai dalam mengelola tim dan pemainnya. Meski tidak selalu membeli pemain mahal, tetapi setiap pembeliannya efisien dan sesuai kebutuhan tim.
Mourinho tidak harus menjadi sosok yang disalahkan dari keterpurukan Man United. (REUTERS/Carl Recine) |
Sedangkan Mourinho membuang Henrikh Mkhitaryan, padahal dibeli di bawah kepemimpinannya. Paul Pogba yang merupakan pemain termahal Man United juga justru bersitegang dengan Mourinho.
Satu hal yang tidak kalah penting, Man United tampaknya belum terbiasa dengan pembelian instan. Yang dibutuhkan Man United untuk kembali berjaya hanyalah memiliki manajer seperti Alex Ferguson. Meski bertangan besi, Ferguson adalah manajer yang tahu kebutuhan tim sehingga bisa diterapkan dalam permainan di lapangan.
Menurut Transfermarkt David Moyes menghabiskan £69,42 juta (sekitar Rp1,2 triliun) untuk membeli Marouane Fellaini dan Juan Mata. Louis van Gaal mendapat anggaran hampir lima kali lipat lebih banyak dibanding Moyes. Manajer asal Belanda itu menghabiskan £309,38 juta (sekitar Rp 5,6 triliun) selama dua musim di Old Trafford.
Man United butuh manajer seperti Alex Ferguson untuk kembali berjaya di Liga Inggris. (REUTERS/Russell Cheyne) |
Mourinho sebenarnya bisa membuktikan berprestasi dengan instan usai meraih gelar juara Liga Europa di musim pertamanya, tetapi tidak berprestasi di Liga Inggris.
Manajer asal Portugal itu pun beralasan, bahwa terpuruknya Man United di musim ini karena ia gagal mendapatkan bek tengah incaran di bursa transfer. Dalam hal ini manajemen klub tidak bisa disalahkan.
Tetapi Mourinho juga tidak bisa selalu menjadi orang yang disudutkan dari keterpurukan Man United. Siapa pun manajer baru Man United yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan seperti Ferguson akan sulit membawa Setan Merah berjaya dan menjadi tim yang kembali menakutkan bagi lawan. (ptr)
Kekalahan dari Liverpool membuat Man United tidak pernah menang melawan tim papan atas di musim ini. (REUTERS/Carl Recine)
Mourinho tidak harus menjadi sosok yang disalahkan dari keterpurukan Man United. (REUTERS/Carl Recine)
Man United butuh manajer seperti Alex Ferguson untuk kembali berjaya di Liga Inggris. (REUTERS/Russell Cheyne)