Prestasi Sepak Bola Indonesia Jadi Alasan Polri Bentuk Satgas

CNN Indonesia | Selasa, 08/01/2019 19:01 WIB
Prestasi Sepak Bola Indonesia Jadi Alasan Polri Bentuk Satgas Prestasi sepak bola Indonesia yang mandek jadi alasan Polri bentuk Satgas Anti Mafia Bola untuk memberantas pengaturan skor. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan prestasi sepak bola Indonesia yang mandek menjadi alasan dibentuknya Satgas Anti Mafia Bola.

Dedi juga menyadari bahwa kasus-kasus soal dugaan pengaturan skor bukan lagi hal baru di kompetisi sepak bola tanah air karena kerap mencuat ke permukaan. Namun, ia menilai saat ini merupakan momen tepat bagi kepolisian melakukan langkah nyata dan jangka panjang.

"Pada prinsipnya, jika melihat tuntutan masyarakat sudah sangat masif. Kemudian melihat prestasi sepak bola di Indonesia, itu berbanding terbalik dengan cabang olahraga lain pada saat Asian Games [2018] kemarin."


"Itu salah satu trigger [pemicunya]. Ini harus segera diubah. Kalau tidak segera ditangani, sepak bola Indonesia akan sulit untuk terus berkembang. Apalagi kita memiliki harapan berbicara di tingkat internasional. Di tingkat lokal saja carut-marut seperti ini, betul itu," terang Dedi saat kunjungan ke redaksi CNNIndonesia.com, Selasa (8/1).

Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan prestasi sepak bola Indonesia yang mandek jadi alasan terbentuknya Satgas Anti Mafia Bola. (Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan prestasi sepak bola Indonesia yang mandek jadi alasan terbentuknya Satgas Anti Mafia Bola. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Lulusan Akademi Polisi 1990 itu pun menilai kualitas para penyidik kepolisian yang bagus saat ini jadi pertimbangan pula bagi pihaknya baru membentuk Satgas Anti Mafia Bola.

"Berbagai kasus [dugaan pengaturan skor] yang pernah ditangani, mohon maaf, profesionalitas penyidik pada saat itu tidak sedalam [sekarang] ini. Mengupas dan menganalisis seluruh alat bukti yang ditemukan, tidak sehebat tim yang sekarang ini."

"Makanya kenapa di masa lalu ketika sudah ditangani oleh kepolisian dilepas lagi? Alat buktinya enggak cukup terus. Tapi ketika tim ini sudah dibentuk dan menemukan alat bukti yang kuat, enggak ada alasan [sejumlah orang] ditetapkan sebagai tersangka," kata Dedi.

Jika semua bukti kuat dan analisis mendalam sudah didapatkan dan mengacu pada tersangka tertentu, Dedi melanjutkan, polisi tak akan pilih-pilih.

Ada dukungan moril juga dari pimpinan. 'Kamu [para penyidik] jangan takut, semua masyarakat mendukung kamu, PSSI mendukung kamu . Jika kamu melakukan penegakan hukum, lakukan secara profesional," terang Dedi.

Lebih lanjut, Dedi menegaskan keberadaan Satgas Anti Mafia Bola ini bukan hanya bersifat kasuistik atau sementara, melainkan untuk jangka panjang.

Kepolisian melalui satgas Anti Mafia Bola saat ini sudah menangkap dan menetapkan lima orang sebagai tersangka terkait skandal pengaturan skor di kompetisi Indonesia. Mereka ialah Johar Lin Eng, Priyanto, Anik Yuni Artika Sari, Dwi Irianto alias Mbah Putih, dan wasit laga Liga 3, Nurul Safarid.

Nurul Safarid diduga menerima suap Rp45 juta untuk memenangkan Persibara Banjarnegara atas PS Pasuruan di Liga 3. (bac/jun)