Testimoni

Osas Saha, Liburan Berujung Jadi WNI

Osas Saha, CNN Indonesia | Senin, 14/10/2019 20:00 WIB
Osas Saha menjadi WNI pada 2018. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Manchester United adalah klub kesukaan saya. Karena itu juga nama saya menjadi Osas Saha. Sebenarnya tidak ada itu nama 'Saha' di paspor saya. Tetapi karena saya suka MU, dan saat itu ada striker Louis Saha, maka nama saya jadi Osas Saha. Saya sangat senang dengan Louis Saha.

Setiap hari saya selalu menghabiskan waktu dengan bermain bola ketika masih kecil. Kami biasa melakukan itu setelah pulang sekolah. Masa kecil saya habiskan di Lagos, Nigeria, kota kelahiran saya.

Lagos mirip dengan Jakarta. Padat, ramai, dan macet. Meski banyak orang bilang Lagos kota kumuh, tapi dari sana banyak lahir pemain-pemain top Eropa dan mungkin dunia. Ya, sebut saja Taribo West dan Obafemi Martins.


Kemahiran saya bermain bola berlanjut sampai ke tingkat sekolah. Saat masih sekolah tingkat SMP saya masuk di akademi Chykes Davies. Di Chykes Davies saya dipantau salah satu klub di Divisi Satu di Nigeria, Prime FC.

Osas Saha menjalani proses naturalisasi sejak 2016.Osas Saha menjalani proses naturalisasi sejak 2016. (Dok. PSSI)
Saya sempat ditawari kontrak oleh Prime FC. Tetapi ketika itu orang tua melarang bermain, karena mereka ingin saya fokus ke sekolah dahulu. Sangat disayangkan.

Sempat singgah juga di klub Bonnyrigg White Eagles. Hanya saja, setelah lulus saya kembali ke Prime FC, dan sekitar dua musim saya berada di klub tersebut.

Pada awal 2006 cerita perjalanan karier saya sebagai pesepakbola dimulai. Ada ajakan dari pemain senior ketika itu, namanya Bamidele Frank Bob Manuel. Dia pernah bermain di Persik Kediri, Persebaya Surabaya, dan juga Arema.

Bob Manuel mengajak saya untuk datang ke Indonesia. Tapi bukan untuk bermain, bukan seleksi di klub sepak bola. Saya ke Indonesia awalnya hanya ingin melihat-lihat situasi di sini. Jalan-jalan.

Osas Saha, Liburan Berujung Jadi WNI
Ketika Bob minta saya ke Indonesia, saya bilang, "Oke saya datang ke Indonesia". Sempat ada kekhawatiran dari orang tua saya akan meninggalkan Lagos dan Nigeria. Karena itu pertama kali saya meninggalkan Nigeria.

Bagi kami saat melewati usia 18 anak laki-laki harus bisa berjuang untuk keluarga. Jadi meskipun orang tua khawatir, tapi saat itu saya seperti tidak memiliki pilihan, saya harus berkarier di luar Nigeria.

Awal-awal saya memang hanya jalan-jalan, seperti liburan di Indonesia. Sekitar tiga atau empat bulan saya menikmati Indonesia. Lalu secara tidak sengaja ada tawaran seleksi di PSDS Deli Serdang pada 2006 itu.

Saya ikut ke sana dan akhirnya mendapat kontrak di PSDS pada 2006/2007. Saya merasa nyaman, enak di PSDS. Sejak itu saya memutuskan melanjutkan karier di Indonesia dan melupakan bermain di Eropa.

Sejak dari PSDS saya bermain di PSAP Sigli, PSMS Medan, Persepam Madura United, Persiram Raja Ampat, Semen Padang, lalu pindah ke Malaysia bersama Penang FA.

Osas Saha, Liburan Berujung Jadi WNIOsas Saha mengaku panggilannya terinspirasi dari Louis Saha. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)
Pada 2016 saya kembali lagi ke Indonesia dengan Perseru Serui. Tahun 2018 saya bergabung dengan Persija Jakarta di putaran kedua Liga 1, lalu di musim ini dengan Tira-Kabo.

Secara menyeluruh saya menganggap karier sepak bola saya sejauh ini berjalan cukup oke, puji Tuhan. Karena bagi saya, setiap tahun kita harus berusaha lebih bagus.

[Gambas:Video CNN]
Di PSMS saya merasa oke, Persikabo oke, Persija juga oke, jadi bagi saya semuanya oke. Semuanya spesial untuk saya, ada pengalaman di setiap klub.

Kita semua tahu kondisi sepak bola Indonesia seperti apa, ada enaknya dan ada yang tidak enak. Tetapi, bagi saya semua itu tergantung masing-masing orang. Semua yang tidak enak menjadi motivasi untuk saya, untuk mengubah yang tidak enak menjadi enak.

Contohnya saat di Persija. Saya tidak nyaman di Persija karena jarang main. Namun Tuhan memberikan sesuatu di balik hal itu, Persija jadi juara Liga 1. Jadi di balik sesuatu pasti ada tujuan lainnya.

Di Liga Indonesia mungkin kondisi keuangan klub-klubnya tidak semuanya bagus, bisa jadi masih lebih bagus di Malaysia. Tetapi di Malaysia atmosfer pertandingan dan suporternya tidak seperti di Indonesia. Atmosfer pertandingan di Indonesia luar biasa.

Setelah lama di Indonesia saya jadi makin senang tinggal di sini. Saya mulai kepikiran untuk menjadi Warga Negara Indonesia. Saya konsultasi dengan orang tua, saya cerita panjang kepada mereka tentang keinginan jadi WNI.

Orang tua menerima maksud dan keinginan saya. Bagi mereka yang penting saya bahagia. Oke, baik saya melanjutkan proses menjadi WNI, saya ingin naturalisasi.

Saya mulai proses naturalisasi sekitar 2016, dan saya melakukan itu sendiri tanpa sponsor dari klub. Lalu proses naturalisasi itu berlanjut di 2018, dan saya menjadi WNI pada tahun itu. Dua tahun itu proses yang sesuai prosedur sebenarnya.

Saat ingin naturalisasi saya tidak ada target untuk membela Timnas Indonesia. Tetapi dalam formulir menjadi WNI itu tertulis saya harus siap berjuang untuk Indonesia, dan saya isi itu.

Osas Saha berhasil menjadi juara Liga 1 bersama Persija Jakarta.Osas Saha berhasil menjadi juara Liga 1 bersama Persija Jakarta. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Saya juga sudah bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bahkan saya bisa menghafal Indonesia Raya sebelum jadi WNI. Karena dalam pertandingan di sini suka ada lagu Indonesia Raya, seperti di Piala Presiden. Saya ikut menyanyikan itu, hingga akhirnya hafal Indonesia Raya.

Ketika tidak ada orang menyangka saya masuk Timnas Indonesia sebagai pemain naturalisasi, saya pikir itu hal wajar. Karena saya naturalisasi dengan sendiri dan tidak ada pemberitaan soal itu.

Padahal dahulu saat kecil saya sangat ingin bermain untuk timnas Nigeria. Saya pikir wajar, setiap anak-anak ingin memperkuat negara kelahirannya. Bahkan saya pernah memperkuat timnas Nigeria U-17. Hanya saja kariernya begitu-begitu saja, dan tidak jadi ke timnas Nigeria.

Tapi siapa sangka saya justru bermain untuk timnas senior Indonesia. Seperti janji saya saat jadi WNI, ketika dibutuhkan saya siap maksimal memberikan kontribusi untuk Timnas Indonesia.

Kalau bisa saya ingin lebih mengharumkan lagi nama Indonesia di internasional. Saya ingin bisa menjadi sejarah bagi prestasi Timnas Indonesia.

Medan Kota Kenangan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2