ANALISIS

Virus Corona Bisa Berdampak Baik untuk Sepak Bola Eropa

Surya Sumirat, CNN Indonesia | Sabtu, 04/04/2020 09:30 WIB
Sejumlah perubahan diprediksi bisa terjadi di sepak bola Eropa sebagai efek dari pandemi virus corona atau Covid-19 di awal 2020 ini. UEFA tunda sejumlah ajang karena virus corona. (AFP/FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi virus corona atau Covid-19 yang muncul pada awal 2020 ini diharapkan bisa mengubah sepak bola Eropa dan dunia ke arah yang lebih baik lagi.

Sebelum virus corona muncul, sepak bola di Eropa tampak baik-baik saja. Namun pada kenyataannya masih menyimpan sejumlah persoalan, terutama terkait ketimpangan antara klub besar dan kecil.


Klub-klub besar akan makin kuat dan kaya dengan kekuatan uang yang mereka miliki. Sedangkan tim-tim medioker atau kecil sekalipun tidak akan berdaya menandingi klub-klub besar tersebut. 


Pemain-pemain potensial dari klub medioker atau kecil bisa saja pindah dengan mudah dari klub tersebut dengan rayuan gelimangan uang klub besar. Imbasnya, klub kecil kembali harus memutar otak mencari pemain yang bisa membuat mereka bisa bersaing dan bertahan di kompetisi itu.

Sementara itu, klub-klub besar dengan latar belakang sejarah serta prestasi yang mereka punya seperti duduk manis menanti pundi-pundi uang kembali terisi oleh 'setoran' dari sponsor dan juga penggemar.

Akan tetapi, kondisi tersebut bisa mengalami sedikit perubahan atau bahkan signifikan setelah pandemi Covid-19 ini berakhir.

Virus corona membuktikan diri bisa memberikan dampak besar bagi keuangan klub, baik kecil maupun besar. Akan tetapi, klub-klub kecil yang tentu merasakan imbas paling besar dari krisis ini.

Tidak ada pemasukan dari tiket penonton, tidak juga mendapat dana hak siar. Ditambah lagi, kunjungan fan ke stadion, museum, maupun fasilitas klub lainnya, nihil karena larangan dari pemerintah selama masa karantina. Di lain sisi, operasional klub terus mengalir untuk membayar gaji pegawai dan aspek lainnya.

Gaji pesepakbola Eropa bisa mengalami penyesuaian sebagai akibat virus corona.Gaji pesepakbola Eropa bisa mengalami penyesuaian sebagai akibat virus corona. (Mike Egerton/PA via AP)
Barcelona sudah merasakan itu. Bahkan Blaugrana melakukan pemotongan gaji pada pemain-pemainnya sebesar 70 persen, termasuk Lionel Messi selama pandemi berlangsung.

Tidak hanya itu, Luis Suarez dan kawan-kawan juga akan membantu Barcelona agar para pegawainya di luar pemain bisa 100 persen menerima gaji. 

Juventus juga disebut-sebut akan melakukan langkah serupa, mengurangi gaji para pemainnya. Potongan 20 sampai 30 persen bakal didapat Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan agar Si Nyonya Tua memiliki napas panjang di tengah wabah Covid-19.

Ini jadi bukti, kehidupan klub elite di ujung tanduk. Masa krisis ini membuka peluang klub-klub melakukan penyesuaian gaji pegawainya di masa mendatang. Hal tersebut sudah diprediksi pelatih Everton, Carlo Ancelotti.

Virus Corona untuk Sepak Bola Eropa yang Lebih Baik
"Uang hak siar akan turun, pemain, dan pelatih juga akan mendapatkan bayaran lebih sedikit. Tiket akan lebih murah, karena orang tidak memiliki banyak uang. Ekonomi akan berbeda dan begitu juga sepak bola. Mungkin akan lebih baik," ujar Ancelotti.

Ancelotti bisa benar. Sepak bola bisa lebih baik lagi. Salah satunya tidak ada transfer gila-gilaan di setiap jendela transfer. Gaji pemain dan pelatih juga akan lebih stabil.

Dengan gaji yang lebih masuk akal, klub-klub medioker atau kecil memiliki peluang terbuka mendapatkan pemain dengan kualitas bagus yang setara pemain bintang. Persaingan antarklub di level domestik atau internasional pun bisa lebih terjaga.

Senada dengan Ancelotti, sejarawan dan akademisi sepak bola David Goldbatt juga percaya situasi genting bisa menciptakan kesempatan bagus.

Tidak akan ada lagi transfer besar seperti Neymar karena Covid-19.Tidak akan ada lagi transfer besar seperti Neymar karena Covid-19. (AP Photo/Christophe Ena)
"Seperti kebanyakan hal, krisis adalah peluang," tutur Goldbatt dikutip dari AFP.

Wabah corona memengaruhi bursa transfer bukan hal yang baru untuk saat ini. Sejak beberapa pekan lalu, rumor itu muncul, dan akan menjadi kenyataan.

Tidak saja jendela transfer yang bisa terganggu, tetapi banderol harga pemain juga dapat terkena efeknya. Sejumlah media di Eropa menyebut tidak akan ada transfer pemain yang menyentuh angka 100 juta euro pada bursa transfer berikutnya.

Manchester United disebut akan memanfaatkan situasi ini guna menahan Paul Pogba tidak pergi dari Old Trafford. MU hanya akan melepas Pogba pergi jika ada yang berani menebus harga 113 juta euro atau minimal tidak kurang dari 100 juta euro.

[Gambas:Video CNN]

Mantan Presiden Bayern Munchen Uli Hoeness juga memperkirakan, tidak akan mungkin ada klub yang bisa jor-joran dalam belanja pemain selama dua atau tiga musim ke depan. Pasalnya, perekonomian setiap negara terpengaruh dengan virus corona ini, dan sepak bola sudah merasakan dampaknya.

Dengan berkurangnya gaji serta harga transfer, hak siar televisi di setiap kompetisi pun tidak akan memiliki selisih yang jauh.

Di musim ini, Premier League masih jadi liga dengan hak siar tertinggi, yaitu 10,4 miliar euro untuk kontrak 2019 sampai 2022. Berbeda jauh dengan La Liga Spanyol yang hanya 1,14 miliar euro untuk kontrak 2019 sampai 2022.

Seiring dengan pemulihan perekonomian setiap negara dan sponsor, harga hak siar televisi ini bisa lebih adil dan masuk logika usai pandemi corona. 

Virus Corona untuk Sepak Bola Eropa yang Lebih Baik
Perubahan lain yang bisa terdampak karena corona adalah jadwal kompetisi. Di musim ini, pertandingan liga-liga di Eropa berantakan, begitu juga dengan Liga Champions serta Liga Europa. Piala Eropa 2020 bahkan ditunda ke 2021.

UEFA mendesak kompetisi domestik selesai bulan Juni, disusul menyelesaikan Liga Champions dan Liga Europa pada bulan Juli serta Agustus. Seluruh pertandingan di ajang tersebut digelar tertutup.

Namun, rencana itu bisa buyar jika pandemi corona berlanjut melewati April dan Mei. Situasi tersebut bisa 'memakan' jadwal kompetisi di musim 2020/2021. Musim 2020/2021 bisa tetap sesuai rencana dengan catatan kompetisi musim ini dihilangkan.


Keinginan UEFA menggelar Piala Eropa 2020 pada 2021 mendatang di 12 stadion dan 12 negara juga punya kans mengalami perubahan. Piala Eropa 2020 bisa kembali ke tradisi menggunakan negara tuan rumah.

Niat melangsungkan Piala Eropa 2020 pada pertengahan tahun juga dapat gagal, karena ancaman perubahan iklim. Di tambah lagi, sampai dengan saat ini masih ada delapan tim yang harus melakukan kualifikasi guna mendapatkan empat tempat tersisa di putaran final Piala Eropa 2020. (ptr)