Awalnya ada penebalan kulit di telapak kaki saya. Lalu kulit itu coba saya tipiskan, tetapi bukan dengan alat yang tepat. Saya tipiskan pakai silet. Ternyata ketipisan dan menjadi luka.
Luka tersebut belum kering sudah saya pakai untuk latihan. Lama-lama makin terasa sakit. Buat jalan terasa sakit, 'sengkring-sengkring' gitu setiap saya melangkah. Akhirnya saya putuskan operasi yang membuat saya harus istirahat selama tiga bulan pada 2005, belum termasuk trauma dan penyembuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sony Dwi Kuncoro memberi beban pada bagian tubuh lain seperti lutut, paha, dan pinggang. (AFP/SAEED KHAN) |
Di masa itu penggunaan sport science belum semaju sekarang, alat-alat yang ada juga belum selengkap sekarang.
Pada Kejuaraan Dunia 2007, saya sempat cedera sehingga dua minggu tak bisa latihan. Namun saya tetap berangkat karena jelang Kejuaraan Dunia saya merasa sudah sehat.
Di babak pertama, saya main kesulitan lawan Chetan Anand. Salah satu pengurus berkata pada saya untuk stop saja tidak usah dipaksakan bila memang sakit.
Lama-lama saya bisa beradaptasi dan lebih pintar dalam bermain dengan kondisi cedera tersebut. Saya bisa menang lawan Peter Gade dan Lee Chong Wei secara beruntun. Pengurus sampai bingung karena saya bisa menang dan masuk final padahal sakit. Di final laga lawan Lin Dan memang berat, saya memang kalah dari segi permainan.
Terus terang saya tidak menyangka bisa masuk final, karena target saya yang penting tampil. Saya juga cuma bawa pakaian sedikit karena saya juga pesimistis dan berpikir bakal kalah cepat. Ternyata saya bisa menang terus sehingga saya harus nyuci terus lantaran stok pakaian sedikit. Hahaha..
Dalam kondisi naik-turun, Sony Dwi Kuncoro meraih medali perak Kejuaraan Dunia 2007 tetapi kemudian gagal mendapat medali di Olimpiade Beijing 2008. (AFP/INDRANIL MUKHERJEE) |
Itu salah satu kesalahan saya dan saya menyesal. Saya memang kalah di tangan Lee Chong Wei namun saat itu saya seolah tidak bisa memberikan perlawanan.
Harusnya saya tidak terlalu forsir tenaga saat latihan dan hanya habis-habisan di pertandingan. Namun dalam masa persiapan, saya merasa tubuh saya dalam kondisi bagus sehingga saya terus genjot latihan. Akhirnya, ketika melawan Lee Chong Wei, seolah-olah tinggal sisa ampasnya saja.
Di tahun 2008 saya sebenarnya mencatat prestasi bagus berupa hattrick super series. Kemenangan di Indonesia Open sebelum Olimpiade itu juga yang membuat saya merasa percaya diri dengan kondisi tubuh dalam persiapan menuju Olimpiade.
Tahun 2008 Sony Dwi Kuncoro mencatat hattrick gelar super series, termasuk Indonesia Open. (AFP/BAY ISMOYO) |
Pernikahan saya di Surabaya jadi tak mungkin bagi saya untuk datang, ijab-kabul depan penghulu, lalu pulang lagi ke Jakarta. Saya harus persiapan ini-itu sehingga saya nekat pergi selama tiga pekan.
Tiga pekan di Surabaya, saya sempat dapat ancaman tidak diberangkatkan ke Kejuaraan Dunia 2009. Saya dianggap tak punya persiapan padahal saya juga sempat latihan sendiri di Surabaya selama seminggu.
Ternyata saya dapat hasil bagus di Kejuaraan Dunia 2009. Saya mengalahkan Lee Chong Wei dan akhirnya merebut medali perunggu.
[Gambas:Video CNN]
Sony Dwi Kuncoro memberi beban pada bagian tubuh lain seperti lutut, paha, dan pinggang. (AFP/SAEED KHAN)
Dalam kondisi naik-turun, Sony Dwi Kuncoro meraih medali perak Kejuaraan Dunia 2007 tetapi kemudian gagal mendapat medali di Olimpiade Beijing 2008. (AFP/INDRANIL MUKHERJEE)
Tahun 2008 Sony Dwi Kuncoro mencatat hattrick gelar super series, termasuk Indonesia Open. (AFP/BAY ISMOYO)
Sony Dwi Kuncoro sudah mencuri perhatian sejak usia muda. (AFP/BAY ISMOYO)
Sony Dwi Kuncoro berhasil jadi juara Asia 2002 saat masih berusia 18 tahun. (AFP/TOSHIFUMI KITAMURA)
Sony Dwi Kuncoro meraih medali perunggu di Olimpiade 2004. (AFP/ROSLAN RAHMAN)
Sony Dwi Kuncoro bermain dalam generasi emas badminton yang berisi Lin Dan, Taufik Hidayat, Lee Chong Wei, dan Peter Gade. (AFP/NOAH SEELAM)
Sony Dwi Kuncoro masih punya gairah untuk aktif di dunia badminton. (AFP/LIU JIN)