ANALISIS

Hujan Batu di Liga 1, Boleh Coba Hujan Emas di Negeri Orang

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Kamis, 19/11/2020 19:29 WIB
Pepatah hujan batu di negeri sendiri lebih baik dibanding hujan emas di negeri orang kini sedang diuji kebenarannya dalam konteks kompetisi sepak bola. Rivaldo Todd Ferre diminati klub luar negeri. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pepatah hujan batu di negeri sendiri lebih baik dibanding hujan emas di negeri orang kini sedang diuji kebenarannya dalam konteks kompetisi sepak bola.

Bukan kerusuhan yang terjadi. Tidak ada batu melayang ke tengah lapangan, namun Liga 1 masih beku dan belum bergulir lagi setelah terdampak pandemi Covid-19.

Di tengah karut marut penyelesaian permasalahan yang tak kunjung usai, kompetisi sepak bola pun turut merasakan dampak. Bersama dengan Brunei Darussalam, Indonesia merupakan negara Asia Tenggara yang belum menjalankan kompetisi. Berbeda dengan Indonesia, negara di bagian utara Kalimantan itu memang sudah memutuskan menghentikan sepak bola sejak pandemi Covid-19.


Ada situasi riskan yang mengintai jika Liga 1 dibiarkan berjalan, yakni masalah kesehatan orang-orang yang turut terlibat di dalamnya termasuk pemain, pelatih, wasit, panitia pelaksana pertandingan dan lainnya.

Di sisi lain, tanpa kompetisi berarti tidak ada uang berputar dan aktor utama serta aktor pendukung lapangan hijau pun merasakan dampak besar. Beberapa bahkan banting setir menjalani profesi lain demi periuk nasi tetap mengebul.

Pemain Timnas U-22 Evan Dimas (kiri) dan Ezra Walian berlatih sebelum berlaga pada SEA Games XXIX Kuala Lumpur 2017 di Stadion UKM, Bangi, Selangor, Malaysia, Senin (14/8). Timnas Indonesia akan menjalani pertandingan pertama melawan Timnas Thailand di Stadion Shah Alam, Selangor Malaysia pada Selasa (15/8). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama/17.Evan Dimas pernah merasakan merumput di Malaysia. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama/17)

Seiring sebangun dengan kompetisi mandek, muncul 'kompetitor' untuk PT Liga Indonesia Baru bernama tarkam atau juga populer dengan istilah fun game. Di media sosial terlihat beberapa pemain elite, bahkan pemilik caps di Timnas Indonesia, ikut bermain.

Bagi beberapa pemain sebenarnya mereka memiliki kemampuan berlaga di tempat lain yang lebih pantas dan berkelas, yaitu di liga luar negeri. Liga sepak bola di Indonesia yang terhenti juga dipantau negara tetangga sehingga belakangan muncul rumor ketertarikan klub asing kepada pemain Indonesia.

Talenta sepak bola lokal boleh dikata tidak habis-habis, selalu muncul potensi yang menjanjikan dari tahun ke tahun. Maka jamak jika klub-klub liga tetangga, seperti Malaysia, Thailand, atau Myanmar melirik.

Ristomoyo, Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, dan Andik Vermansah pernah menjadi bagian sukses klub Selangor meraih kejayaan. Sementara Evan Dimas, Ilham Udin Armayn, David Laly, Dedi Gusmawan, Irfan Bachdim, dan sederet nama lain pernah berkecimpung di liga luar.

Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, Rochy Putiray bahkan pernah mengadu nasib lebih jauh lagi, bukan sekadar main di negara tetangga.

Banner Live Streaming MotoGP 2020

Hanya saja ada faktor lain yang membuat para pemain tak mau beranjak dari negeri sendiri, seperti sudah merasa menjadi bintang dan rasa cepat puas ditengarai jadi penyebab, begitu pula soal home sick yang seperti jadi rahasia umum.

Kualitas liga tetangga, khususnya Malaysia Thailand dan Australia sudah diakui. Kendati aura liga sepak bola nasional merupakan salah satu yang kesohor lantaran fanatisme suporter yang kerap memenuhi bangku-bangku stadion, namun liga di Negeri Jiran pun tentu tak kaleng-kaleng.

Jika Liga Indonesia masih hanya mengandalkan jumlah animo penonton, liga tetangga agaknya sudah lebih baik dalam urusan penjadwalan kompetisi, finansial, serta infrastruktur dan pembinaan usia muda.

Pemain belakang Mitra Kukar, Rudolf Yanto Basna. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)Rudolof Yanto Basna sedang menjalani karier di Liga Thailand bersama klub Prachuap. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)

Bermain di kompetisi bagus yang tertata rapi berarti bisa mendongkrak performa pemain. Kualitas lawan yang tinggi bisa menuntut seorang pemain turut meningkatkan level kemampuan. Dengan demikian maka diharapkan muncul reaksi berantai yang bisa berdampak jika pemain-pemain disatukan dalam wadah tim nasional.

Saat ini terhitung beberapa saja pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri seperti Rudolof Yanto Basna yang merumput di Thailand, sementara ada Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman yang mencoba peruntungan di Eropa. Selain tentu pemain-pemain blasteran macam Elkan Baggott yang sudah kadung mendapat privilege berkompetisi di luar lantaran faktor domisili.

Todd Rivaldo Ferre, Ryuji Utomo, Hansamu Yama Pranata, Evan Dimas, dan Osvaldo Haay belakangan ramai diperbincangkan memiliki kans menjajal liga tetangga yang sudah kembali berlangsung.

Masalah kenyamanan bermain bisa berperan besar dalam kualitas di atas lapangan adalah faktor personal pemain yang bergantung pada banyak hal. Bisa jadi berada jauh dari keluarga dan berkomunikasi dengan bahasa asing atau budaya yang tidak sreg menjadi faktor yang mengurangi minat pesepakbola Indonesia main di luar.

Namun tak ada salahnya juga mencoba pengalaman yang belum tentu datang lagi di masa depan. Apalagi saat ini belum jelas lagi kapan wasit meniup peluit tanda kick off dan gaji masih dibayar tak sampai separuh.

(har)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK