ANALISIS

Ketika Sang Dewi Mengancam Raksasa Eropa

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Rabu, 24/02/2021 08:24 WIB
Atalanta vs Real Madrid di Liga Champions kali ini tidak bisa disebut pertarungan David vs Goliath, karena La Dea dapat dikategorikan sebagai raksasa. Atalanta bakal menyulitkan Real Madrid di Liga Champions. (AP/Peter Dejong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Atalanta vs Real Madrid di Liga Champions kali ini tidak bisa disetarakan pertarungan David vs Goliath karena La Dea kini cukup meyakinkan dan Los Blancos sedang tak menakutkan. Justru sebaliknya, kali ini Atalanta yang bisa dikategorikan sebagai Goliath

Evolusi Atalanta masih berada di jalurnya. Klub asal Bergamo, Italia, itu cukup konsisten berada di persaingan papan atas kompetisi domestik juga kontinental.

Jika di Italia berada di peringkat kelima dan masih memiliki kans merecoki zona empat besar, maka Atalanta di Liga Champions masih punya peluang besar mengulang capaian musim lalu ketika berhasil masuk ke babak perempat final.


Di babak 16 besar, Atalanta yang memiliki julukan La Dea atau Dewi akan menghadapi Madrid. Namun kali ini Atalanta tak dianggap remeh, justru sebaliknya klub biru hitam tersebut dianggap punya kemampuan mengatasi perlawanan Los Merengues yang sedang pincang.

Atalanta musim ini tak beda jauh dengan musim lalu. Anak asuh Gian Piero Gasperini mampu menjawab tantangan di pentas Eropa. Meski sempat mengalami kekalahan 0-5 dari Liverpool, Gli Orobici kemudian mampu membalas dengan kemenangan 2-0 atas The Reds.

Dua kemenangan atas Ajax dan Midtjylland serta dua hasil seri melawan wakil Belanda dan Denmark itu membuat Atalanta lolos dari Grup D sebagai runner up.

Atalanta's Colombian forward Duvan Zapata celebrates scoring his team's first goal during the UEFA Champions League group D football match, between Atalanta and Ajax at the Atleti Azzurri d'Italia stadium in Bergamo, northern Italy, on October 27, 2020. (Photo by MIGUEL MEDINA / AFP)Duvan Zapata andalan Atalanta di lini depan. (Photo by MIGUEL MEDINA / AFP)

Berada lama di bawah arahan Gasperini, sejak 2016, Atalanta sudah berpengalman dengan formasi 3-4-3 yang cukup ofensif. Kemampuan gelandang-gelandang dan pemain depan bermain secara cair menjadi andalan Gasperini.

Di situ Duvan Zapata, Luis Muriel, Josip Ilicic, Marten De Roon, Hans Hateboer, Papu Gomez dan Remo Freuler memainkan peran penting.

Permainan penuh energi adalah ciri khas Atalanta yang bisa merepotkan Madrid saat bermain di Stadion Atleti Azzurri.

Guna memaksimalkan kesempatan bermain kandang di leg pertama, Atalanta bisa memainkan permainan yang menyerang dengan garis pertahanan tinggi untuk terus menekan Madrid dan membuat permainan berjalan satu arah saja.

[Gambas:Video CNN]

Kandang Atalanta jadi saksi bagaimana Zapata dan kawan-kawan mencetak 53 gol di Serie A dan menjadi kesebelasan tersubur kedua di Liga Italia. Meski demikian ada fakta mereka digulingkan lima gol tanpa balas ketika menjamu Liverpool.

Ketersediaan pemain membuat Gasperini bisa bebas memilih pemain. Hingga H-1 dipastikan hanya Hateboer yang absen. Sementara pemain-pemain lain bisa berharap ditempatkan menjadi starter untuk menjadi pelaku sejarah menghadapi pemilik gelar terbanyak di Liga Champions.

Kenangan akan keberhasilan mengalahkan Valencia pada babak 16 besar Liga Champions musim lalu bakal mengangkat moral Atalanta ketika menghadapi Madrid di fase yang sama musim ini.

Jika musim lalu Atalanta diibaratkan sebagai Cinderella karena kisah yang mengejutkan, dan nyaris menembus semifinal, musim ini Atalanta sudah menjadi klub yang berpengalaman dan sudah diantisipasi oleh banyak klub lain termasuk Madrid yang harap-harap cemas menjalani laga tandang kali ini.

Madrid Ala Kadarnya

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK