PSM dan Persija memang menjadi bagian dalam hidup saya. Tidak terpisahkan. Kedua klub memiliki tempat di hati saya. Jadi jika ada yang bertanya, pilih PSM atau Persija? Maka saya tidak bisa menjawabnya.
Saya punya memori yang tak terlupakan di kedua klub itu. Bagaimana mungkin saya bisa memilih jika dua-duanya ada di dalam hati saya? PSM dan Persija adalah kuasa Tuhan yang membuat saya terkenal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita manis soal PSM dan Persija nyatanya diawali cerita yang pahit. Saya yang semula bermain sepak bola di Brasil kemudian mendapat tawaran dari agen untuk bermain di Indonesia.
Saya tidak tahu apa-apa soal Indonesia waktu itu. Selain itu saya juga masih punya kontrak dengan klub Bangu yang memiliki prestasi cukup bagus. Saya tidak terima tawaran agen dan tetap bermain di Brasil.
Pada 1995 Bangu mengalami masalah finansial, mereka tak bisa membayar saya secara penuh. Problem itu membuat saya mulai berpikir meninggalkan klub. Kebetulan tawaran dari agen untuk bermain di Indonesia datang lagi. Saya pun tidak pikir panjang dan langsung mengiyakan ajakan agen tersebut.
Apalagi agen itu bilang saya sudah dijanjikan bermain di sebuah klub dan dapat kontrak besar dari klub di Indonesia tersebut.
Tetapi ternyata saya ditipu. Agen bohong soal kepastian bermain dan kontrak besar. Saya belum punya klub waktu datang ke Indonesia, jadi tidak ada itu kontrak besar. Saya harus seleksi dulu sebelum main.
Saya kesal dengan kondisi itu, tetapi saya tidak bisa balik ke Brasil. Di balik situasi sulit saat itu saya punya tekad untuk bisa sukses di Indonesia. Saya harus bisa, saya harus yakin.
Setelah ikut tes saya akhirnya bisa bermain untuk PSM. Satu jalan sudah terbuka, tetapi ada banyak hal lain yang harus saya lewati, salah satunya adalah adaptasi.
Harus saya akui Indonesia masih sangat asing buat saya. Ribuan kilometer dari Brasil. Waktu itu belum ada internet seperti sekarang. Untuk telepon ke Brasil bisa, tetapi mahal sekali.
Saya beruntung dikelilingi orang-orang baik yang bersahabat dan menganggap saya sebagai keluarga. Di PSM saya begitu diterima dengan baik. Saya mau apapun, teman-teman dan tim pasti selalu membantu.
Selain teman-teman dan keluarga besar PSM, salah satu cara saya beradaptasi dengan Indonesia adalah makanan. Saya suka sekali seafood dan di Makassar saya setiap hari makan ikan. Tetapi makan ikan terus saya bosan juga. Waktu itu saya belum bisa bahasa Indonesia, jadi saya mau minta makanan lain seperti daging ayam atau sapi saya harus menggunakan bahasa isyarat...hahaha.
Saya baru bisa mengerti pelan-pelan bahasa Indonesia setelah enam bulan di Makassar.
Untuk adaptasi di dalam lapangan saya tidak terlalu masalah. PSM dan saya punya kesamaan, selalu ingin menang dan memberikan yang terbaik. Salah satu cara saya memberi yang terbaik untuk PSM selain berusaha maksimal di dalam lapangan adalah saya berusaha meyakinkan Jacksen F. Tiago bergabung ke PSM.
Kebetulan saya pernah bermain dengan Jacksen di Brasil, tetapi Jacksen pergi lebih dulu ke Indonesia. Kemudian saya bersama Marcio Novo, pemain PSM yang datang dari Brasil bersama saya, membantu PSM mendatangkan Jacksen. Jacksen hanya satu musim di Makassar dia kemudian ke Persebaya Surabaya.
PSM kalau saya bilang adalah tim yang punya karakter kuat. Kerja sama tim yang kompak di dalam dan di luar lapangan adalah kelebihan tim itu. Satu yang saya tidak lupa, PSM itu punya ciri khas bermain keras, tetapi bukan kasar dan tetap fair play. Saya menulis ini sambil teringat kawan-kawan dulu seperti Ali Baba, Ansar Razak dan lainnya.
Saya tidak dapat gelar juara di PSM, tetapi PSM memberi saya segalanya. Dua hal yang tidak akan pernah saya lupa adalah pernikahan saya dan kelahiran anak saya terjadi di Makassar.
Manajemen memberi saya tiket untuk mendatangkan kekasih saya, Denise, yang sekarang menjadi istri saya. Waktu itu dia datang bersama teman wanitanya yang kemudian menjadi istri dari Marcio Novo. Kami berdua dinikahkan dan dirayakan di sana.
Kelahiran anak pertama saya, Yasmin, juga di Makassar. Waktu itu dua hari sebelum hari kelahiran saya harus tinggalkan istri saya di Makassar karena PSM harus bermain Piala Winners Asia di Korea Selatan.
Itulah alasan mengapa saya kemudian memberi nama hotel saya Hotel Makassar di Macae, Brasil.
Apakah itu berarti saya tidak cinta Jakarta? Tidak begitu, friend. Di Jakarta banyak kenangan manis juga. Banyak cerita-cerita menyenangkan.
Tentu gelar juara adalah salah satunya. Bersama Persija pada 2001 itu sangat tidak terlupakan. Kami juara di Liga Indonesia, dan kami juga juara di Piala Toyota di Brunei Darussalam. Musim yang luar biasa.
Bersama Persija di Brunei, selain menjadi juara, saya juga menjadi top skor dan pemain terbaik. Waktu itu pertandingan Persija di Brunei disiarkan sampai Brasil. Jadi setelah saya mencetak gol, saya mendapat banyak telepon dari teman-teman dan keluarga.
"Luci kamu cetak gol, itu bagus sekali, saya lihat itu," kata teman-teman yang menelepon saya waktu itu. Saya bangga sekali.
Kalau berbicara soal perbedaan PSM dan Persija tidak banyak. Sama seperti PSM, Persija kompak, tim yang bekerja keras, namun di Persija ada lebih permainan teknik.
Untuk tekanan saya rasa tidak ada yang lebih berat. PSM dan Persija sama-sama haus kemenangan. Ada suporter-suporter fanatik yang sungguh gila. Buat saya tekanan itu tidak masalah.
Untuk kehidupan luar lapangan saya tidak menemui kesulitan di Jakarta. Karena saya sudah bisa bahasa Indonesia, saya juga sudah pernah tiga musim di PSM, dan saya juga suka kehidupan di Ibu Kota.
Luciano Leandro ketika bertemu dengan (alm) Sofyan Hadi, pelatih yang membawa Persija juara Liga Indonesia 2001. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Soal kepindahan dari PSM ke Persija tidak lepas dari kerusuhan 1998. Waktu itu liga sudah berjalan tetapi berhenti. Pemain-pemain pulang kampung. Saya balik ke Brasil.
Setelah musim baru mau dimulai, saya tidak ada ikatan kontrak lagi dengan PSM. Kemudian dari Persija ada bapak Gubernur Sutiyoso telepon saya dan dia bertanya, "Kamu mau bermain untuk Persija?"
Karena saya tidak ada kontrak lagi dengan klub manapun, jadi saya jawab telepon pak Sutiyoso dan akhirnya saya bergabung dengan Persija.
Macan Kemayoran, Juku Eja, dan Indonesia adalah hadiah dari Tuhan untuk saya. Cara orang-orang Indonesia menerima saya dan bagaimana saya dipandang sebagai idola adalah prestasi saya yang terbaik. Nilainya lebih dari trofi atau gelar juara apapun.
Saya senang sekali bisa mendapat banyak teman, tidak hanya pelatih dan pemain, tetapi juga ada dari media dan lainnya yang mengingat saya sampai sekarang.
Karena itu saya menolak tawaran klub-klub luar Indonesia yang sempat menawari saya bergabung ketika saya masih bermain di PSM dan Persija. Kalau tidak salah ingat ada klub dari Singapura, Brunei, dan Malaysia yang sudah menghubungi saya.
Sepak bola bagi saya orang Brasil bukan hal asing. Tentu saya bermain bola sejak kecil, saya bermain bola di manapun bersama teman. Di lapangan, di jalanan, di pantai, di tempat futsal.
Bahkan ibu saya bilang, saya sudah bermain bola di dalam perutnya. Katanya saya suka menendang-nendang perut ibu saya waktu masih berada dalam kandungan, hahaha.
Karier sepak bola saya dimulai di klub daerah tempat saya tinggal, Americano. Saya mengikuti salah satu kakak saya yang sudah lebih dulu bermain di situ.
Kemudian saya melanjutkan karier profesional di Goytacaz FC, UN Macae, Firburguense, dan Bangu FC. Setelah itu saya pindah ke Indonesia.
Sepak bola Indonesia tidak berbeda jauh dengan Brasil, ada gairah besar orang-orang Indonesia dan Brasil soal olahraga ini.
Hanya saja ada perbedaan besar dan boleh dibilang ini jadi pengalaman pahit saya selama main di Indonesia. Di Brasil saya belum pernah menemui ada penonton masuk ke lapangan dan menyerang pemain. Tetapi di Indonesia saya menjadi saksi sekaligus korban. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali.
Yang pertama terjadi ketika PSM bermain tandang ke Barito Putera. Saya tidak tahu kalau ada sejarah buruk soal PSM dan Barito. Saya bermain sampai tiba-tiba penonton masuk lapangan dan saya ditimpuk batu. Saya mendapat luka di wajah.
Pengalaman buruk kedua ketika saya bermain untuk Persija dan bermain di Bandung melawan Persib. Penonton juga sampai masuk dan kali ini wajah saya bengkak terkena lemparan.
Saya tidak ada dendam. Hal itu sudah lama terjadi, jadi bukan masalah lagi. Tetapi itu membuat saya kaget karena saya benar-benar belum pernah melihat kejadian seperti itu di Brasil. Mungkin kalau ribut antara penonton di mana saja di dunia ini pasti ada, tetapi kalau penonton masuk ke lapangan baru di Indonesia saja saya melihatnya.
Fanatik membela sebuah klub buat saya wajar, saya menghargai itu. Tetapi menurut saya tetap harus fair play dan tetap sportif.
Terlepas soal keributan suporter, sepak bola Indonesia bagi saya menarik. Negara ini punya segalanya untuk bisa jadi yang terbaik. Ada talenta, ada lapangan, ada banyak hal yang bisa mendukung perkembangan sepak bola di Indonesia.
Ketika saya baru sampai di Indonesia dan menjalani musim pertama, saya sudah melihat banyak pemain-pemain dengan kelebihan. Semakin lama bermain di Indonesia, saya juga melihat banyak pemain bagus.
Teman-teman saya seperti Aji Santoso, Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, Nuralim, Widodo Cahyono Putro, Imran Nahumarury itu semua pemain bagus.
Hanya saja pemain-pemain di Indonesia belum memiliki rasa kepercayaan diri untuk bisa bersaing. Mereka harus tanamkan keyakinan bahwa mereka bisa dan sanggup bersaing.
Belakangan ini saya baca berita juga soal pemain-pemain muda Indonesia yang bermain di luar negeri, ada di Eropa dan Asia. Ini adalah kabar bagus. Dengan bermain di luar negeri, mereka bisa menambah wawasan soal sepak bola. Saya yakin sepak bola Indonesia bisa berkembang jauh lagi.
Satu hal yang harus juga diperhatikan adalah organisasi (PSSI). Bagaimana organisasi harus berjalan dengan baik dalam membina dan memajukan sepak bola Indonesia.
Saya cinta dengan sepak bola Indonesia, itu yang membuat saya beberapa kali kembali ke Indonesia sebagai pelatih. Saya sempat melatih di Persma Manado, PSMS Medan, serta PSM, tim yang dulu pernah saya bela.
Terakhir saya berada di Indonesia ketika melatih Persipura Jayapura. Kota yang indah, dan kehidupan yang mirip dengan di Brasil. Saya tidak akan pernah lupakan itu. Sayang, waktu di Persipura persiapan sangat sedikit sehingga kami belum bisa menampilkan yang terbaik di liga waktu itu.
Selain menjadi pelatih, saya pun terbuka jika ada pemain Indonesia yang ingin mencari pengalaman di Brasil. Saya pernah membantu anak dari Gomes de Oliveira (mantan pemain asal Brasil yang melatih banyak klub di Indonesia) bermain di Brasil. Selama saya bisa, saya akan coba bantu.
Saya masih punya keyakinan saya akan kembali ke Indonesia dan meraih sukses di sana seperti dulu ketika saya menjadi pemain. Tetapi tentu itu semua butuh waktu dan proses. Semoga saya bisa kembali ke Indonesia dan bertemu dengan kalian semua friend.
PSM dan Persija memang menjadi bagian dalam hidup saya. Tidak terpisahkan. Kedua klub memiliki tempat di hati saya. Jadi jika ada yang bertanya, pilih PSM atau Persija? Maka saya tidak bisa menjawabnya.
Saya punya memori yang tak terlupakan di kedua klub itu. Bagaimana mungkin saya bisa memilih jika dua-duanya ada di dalam hati saya? PSM dan Persija adalah kuasa Tuhan yang membuat saya terkenal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita manis soal PSM dan Persija nyatanya diawali cerita yang pahit. Saya yang semula bermain sepak bola di Brasil kemudian mendapat tawaran dari agen untuk bermain di Indonesia.
Saya tidak tahu apa-apa soal Indonesia waktu itu. Selain itu saya juga masih punya kontrak dengan klub Bangu yang memiliki prestasi cukup bagus. Saya tidak terima tawaran agen dan tetap bermain di Brasil.
Pada 1995 Bangu mengalami masalah finansial, mereka tak bisa membayar saya secara penuh. Problem itu membuat saya mulai berpikir meninggalkan klub. Kebetulan tawaran dari agen untuk bermain di Indonesia datang lagi. Saya pun tidak pikir panjang dan langsung mengiyakan ajakan agen tersebut.
Apalagi agen itu bilang saya sudah dijanjikan bermain di sebuah klub dan dapat kontrak besar dari klub di Indonesia tersebut.
Tetapi ternyata saya ditipu. Agen bohong soal kepastian bermain dan kontrak besar. Saya belum punya klub waktu datang ke Indonesia, jadi tidak ada itu kontrak besar. Saya harus seleksi dulu sebelum main.
Saya kesal dengan kondisi itu, tetapi saya tidak bisa balik ke Brasil. Di balik situasi sulit saat itu saya punya tekad untuk bisa sukses di Indonesia. Saya harus bisa, saya harus yakin.
Setelah ikut tes saya akhirnya bisa bermain untuk PSM. Satu jalan sudah terbuka, tetapi ada banyak hal lain yang harus saya lewati, salah satunya adalah adaptasi.
Harus saya akui Indonesia masih sangat asing buat saya. Ribuan kilometer dari Brasil. Waktu itu belum ada internet seperti sekarang. Untuk telepon ke Brasil bisa, tetapi mahal sekali.
Saya beruntung dikelilingi orang-orang baik yang bersahabat dan menganggap saya sebagai keluarga. Di PSM saya begitu diterima dengan baik. Saya mau apapun, teman-teman dan tim pasti selalu membantu.
Selain teman-teman dan keluarga besar PSM, salah satu cara saya beradaptasi dengan Indonesia adalah makanan. Saya suka sekali seafood dan di Makassar saya setiap hari makan ikan. Tetapi makan ikan terus saya bosan juga. Waktu itu saya belum bisa bahasa Indonesia, jadi saya mau minta makanan lain seperti daging ayam atau sapi saya harus menggunakan bahasa isyarat...hahaha.
Saya baru bisa mengerti pelan-pelan bahasa Indonesia setelah enam bulan di Makassar.
Untuk adaptasi di dalam lapangan saya tidak terlalu masalah. PSM dan saya punya kesamaan, selalu ingin menang dan memberikan yang terbaik. Salah satu cara saya memberi yang terbaik untuk PSM selain berusaha maksimal di dalam lapangan adalah saya berusaha meyakinkan Jacksen F. Tiago bergabung ke PSM.
Kebetulan saya pernah bermain dengan Jacksen di Brasil, tetapi Jacksen pergi lebih dulu ke Indonesia. Kemudian saya bersama Marcio Novo, pemain PSM yang datang dari Brasil bersama saya, membantu PSM mendatangkan Jacksen. Jacksen hanya satu musim di Makassar dia kemudian ke Persebaya Surabaya.
PSM kalau saya bilang adalah tim yang punya karakter kuat. Kerja sama tim yang kompak di dalam dan di luar lapangan adalah kelebihan tim itu. Satu yang saya tidak lupa, PSM itu punya ciri khas bermain keras, tetapi bukan kasar dan tetap fair play. Saya menulis ini sambil teringat kawan-kawan dulu seperti Ali Baba, Ansar Razak dan lainnya.
Saya tidak dapat gelar juara di PSM, tetapi PSM memberi saya segalanya. Dua hal yang tidak akan pernah saya lupa adalah pernikahan saya dan kelahiran anak saya terjadi di Makassar.
Manajemen memberi saya tiket untuk mendatangkan kekasih saya, Denise, yang sekarang menjadi istri saya. Waktu itu dia datang bersama teman wanitanya yang kemudian menjadi istri dari Marcio Novo. Kami berdua dinikahkan dan dirayakan di sana.
Kelahiran anak pertama saya, Yasmin, juga di Makassar. Waktu itu dua hari sebelum hari kelahiran saya harus tinggalkan istri saya di Makassar karena PSM harus bermain Piala Winners Asia di Korea Selatan.
Itulah alasan mengapa saya kemudian memberi nama hotel saya Hotel Makassar di Macae, Brasil.
Apakah itu berarti saya tidak cinta Jakarta? Tidak begitu, friend. Di Jakarta banyak kenangan manis juga. Banyak cerita-cerita menyenangkan.
Tentu gelar juara adalah salah satunya. Bersama Persija pada 2001 itu sangat tidak terlupakan. Kami juara di Liga Indonesia, dan kami juga juara di Piala Toyota di Brunei Darussalam. Musim yang luar biasa.
Bersama Persija di Brunei, selain menjadi juara, saya juga menjadi top skor dan pemain terbaik. Waktu itu pertandingan Persija di Brunei disiarkan sampai Brasil. Jadi setelah saya mencetak gol, saya mendapat banyak telepon dari teman-teman dan keluarga.
"Luci kamu cetak gol, itu bagus sekali, saya lihat itu," kata teman-teman yang menelepon saya waktu itu. Saya bangga sekali.
Kalau berbicara soal perbedaan PSM dan Persija tidak banyak. Sama seperti PSM, Persija kompak, tim yang bekerja keras, namun di Persija ada lebih permainan teknik.
Untuk tekanan saya rasa tidak ada yang lebih berat. PSM dan Persija sama-sama haus kemenangan. Ada suporter-suporter fanatik yang sungguh gila. Buat saya tekanan itu tidak masalah.
Untuk kehidupan luar lapangan saya tidak menemui kesulitan di Jakarta. Karena saya sudah bisa bahasa Indonesia, saya juga sudah pernah tiga musim di PSM, dan saya juga suka kehidupan di Ibu Kota.
Luciano Leandro ketika bertemu dengan (alm) Sofyan Hadi, pelatih yang membawa Persija juara Liga Indonesia 2001. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Soal kepindahan dari PSM ke Persija tidak lepas dari kerusuhan 1998. Waktu itu liga sudah berjalan tetapi berhenti. Pemain-pemain pulang kampung. Saya balik ke Brasil.
Setelah musim baru mau dimulai, saya tidak ada ikatan kontrak lagi dengan PSM. Kemudian dari Persija ada bapak Gubernur Sutiyoso telepon saya dan dia bertanya, "Kamu mau bermain untuk Persija?"
Karena saya tidak ada kontrak lagi dengan klub manapun, jadi saya jawab telepon pak Sutiyoso dan akhirnya saya bergabung dengan Persija.
Macan Kemayoran, Juku Eja, dan Indonesia adalah hadiah dari Tuhan untuk saya. Cara orang-orang Indonesia menerima saya dan bagaimana saya dipandang sebagai idola adalah prestasi saya yang terbaik. Nilainya lebih dari trofi atau gelar juara apapun.
Saya senang sekali bisa mendapat banyak teman, tidak hanya pelatih dan pemain, tetapi juga ada dari media dan lainnya yang mengingat saya sampai sekarang.
Karena itu saya menolak tawaran klub-klub luar Indonesia yang sempat menawari saya bergabung ketika saya masih bermain di PSM dan Persija. Kalau tidak salah ingat ada klub dari Singapura, Brunei, dan Malaysia yang sudah menghubungi saya.
Perbedaan Sepak Bola Brasil dan Indonesia: Batu dan Suporter
Luciano Leandro tak hanya bermain, tetapi juga pernah melatih di Indonesia. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Sepak bola bagi saya orang Brasil bukan hal asing. Tentu saya bermain bola sejak kecil, saya bermain bola di manapun bersama teman. Di lapangan, di jalanan, di pantai, di tempat futsal.
Bahkan ibu saya bilang, saya sudah bermain bola di dalam perutnya. Katanya saya suka menendang-nendang perut ibu saya waktu masih berada dalam kandungan, hahaha.
Karier sepak bola saya dimulai di klub daerah tempat saya tinggal, Americano. Saya mengikuti salah satu kakak saya yang sudah lebih dulu bermain di situ.
Kemudian saya melanjutkan karier profesional di Goytacaz FC, UN Macae, Firburguense, dan Bangu FC. Setelah itu saya pindah ke Indonesia.
Sepak bola Indonesia tidak berbeda jauh dengan Brasil, ada gairah besar orang-orang Indonesia dan Brasil soal olahraga ini.
Hanya saja ada perbedaan besar dan boleh dibilang ini jadi pengalaman pahit saya selama main di Indonesia. Di Brasil saya belum pernah menemui ada penonton masuk ke lapangan dan menyerang pemain. Tetapi di Indonesia saya menjadi saksi sekaligus korban. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali.
Yang pertama terjadi ketika PSM bermain tandang ke Barito Putera. Saya tidak tahu kalau ada sejarah buruk soal PSM dan Barito. Saya bermain sampai tiba-tiba penonton masuk lapangan dan saya ditimpuk batu. Saya mendapat luka di wajah.
Pengalaman buruk kedua ketika saya bermain untuk Persija dan bermain di Bandung melawan Persib. Penonton juga sampai masuk dan kali ini wajah saya bengkak terkena lemparan.
Saya tidak ada dendam. Hal itu sudah lama terjadi, jadi bukan masalah lagi. Tetapi itu membuat saya kaget karena saya benar-benar belum pernah melihat kejadian seperti itu di Brasil. Mungkin kalau ribut antara penonton di mana saja di dunia ini pasti ada, tetapi kalau penonton masuk ke lapangan baru di Indonesia saja saya melihatnya.
Fanatik membela sebuah klub buat saya wajar, saya menghargai itu. Tetapi menurut saya tetap harus fair play dan tetap sportif.
Terlepas soal keributan suporter, sepak bola Indonesia bagi saya menarik. Negara ini punya segalanya untuk bisa jadi yang terbaik. Ada talenta, ada lapangan, ada banyak hal yang bisa mendukung perkembangan sepak bola di Indonesia.
Ketika saya baru sampai di Indonesia dan menjalani musim pertama, saya sudah melihat banyak pemain-pemain dengan kelebihan. Semakin lama bermain di Indonesia, saya juga melihat banyak pemain bagus.
Teman-teman saya seperti Aji Santoso, Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, Nuralim, Widodo Cahyono Putro, Imran Nahumarury itu semua pemain bagus.
Hanya saja pemain-pemain di Indonesia belum memiliki rasa kepercayaan diri untuk bisa bersaing. Mereka harus tanamkan keyakinan bahwa mereka bisa dan sanggup bersaing.
Belakangan ini saya baca berita juga soal pemain-pemain muda Indonesia yang bermain di luar negeri, ada di Eropa dan Asia. Ini adalah kabar bagus. Dengan bermain di luar negeri, mereka bisa menambah wawasan soal sepak bola. Saya yakin sepak bola Indonesia bisa berkembang jauh lagi.
Satu hal yang harus juga diperhatikan adalah organisasi (PSSI). Bagaimana organisasi harus berjalan dengan baik dalam membina dan memajukan sepak bola Indonesia.
Saya cinta dengan sepak bola Indonesia, itu yang membuat saya beberapa kali kembali ke Indonesia sebagai pelatih. Saya sempat melatih di Persma Manado, PSMS Medan, serta PSM, tim yang dulu pernah saya bela.
Terakhir saya berada di Indonesia ketika melatih Persipura Jayapura. Kota yang indah, dan kehidupan yang mirip dengan di Brasil. Saya tidak akan pernah lupakan itu. Sayang, waktu di Persipura persiapan sangat sedikit sehingga kami belum bisa menampilkan yang terbaik di liga waktu itu.
Selain menjadi pelatih, saya pun terbuka jika ada pemain Indonesia yang ingin mencari pengalaman di Brasil. Saya pernah membantu anak dari Gomes de Oliveira (mantan pemain asal Brasil yang melatih banyak klub di Indonesia) bermain di Brasil. Selama saya bisa, saya akan coba bantu.
Saya masih punya keyakinan saya akan kembali ke Indonesia dan meraih sukses di sana seperti dulu ketika saya menjadi pemain. Tetapi tentu itu semua butuh waktu dan proses. Semoga saya bisa kembali ke Indonesia dan bertemu dengan kalian semua friend.