Sara Ahmed, lifter berhijab tampil di Olimpiade 2016. (AFP/STOYAN NENOV)
Jakarta, CNN Indonesia --
Atlet berhijab memiliki perjuangan luar biasa dalam berburu prestasi. Mereka yang mengenakan hijab tidak saja berharap naik podium dalam kejuaraan, tetapi juga menginginkan pahala dari Allah subhanahu wata'ala.
Dua target tersebut coba dijalankan para atlet wanita tersebut di waktu yang bersamaan. Hanya saja, upaya mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Di samping pandangan miring banyak orang, termasuk dari para rival yang notabene sesama atlet, atlet berhijab ini juga harus lolos dari peraturan dalam cabang olahraga itu sendiri.
Olimpiade Rio de Janeiro 2016 di Brasil seperti jadi tonggak dari era baru atlet berhijab. Sejumlah atlet yang mengenakan hijab menuai prestasi: mulai dari Sara Ahmed yang meraih perunggu di cabang angkat besi kelas 69 kg, hingga Ibtihaj Muhammad yang juga mendapat perunggu di cabor anggar nomor tim sabel putri.
Ibtihaj Muhammad menjadi wanita pertama muslim yang mengenakan hijab untuk kontingen Amerika Serikat di Olimpiade pada 2016. Dia juga jadi wanita muslim Amerika pertama yang meraih medali di multi-cabang empat tahunan tersebut.
Sementara itu Sara Ahmed menjadi wanita pertama Mesir yang meraih medali selama 104 tahun negara tersebut ikut Olimpiade. Selain itu Sara Ahmed juga jadi wanita pertama dari Arab yang memenangi medali Olimpiade cabang angkat besi.
Capaian-capaian dari Ibtihaj Muhammad dan Sara Ahmed itu mampu membuka 'mata dunia' tentang pandangan terhadap atlet wanita berhijab.
Bisa jadi Ibtihaj jadi salah satu yang beruntung sebagai atlet muslim berhijab. Karena sebelum kesuksesannya di Brasil, tidak sedikit atlet berhijab yang dilarang tampil mengikuti turnamen karena mengenakan hijab. Alasannya dianggap membahayakan dirinya sendiri dan juga lawan karena bentuk hijab yang tidak simpel.
Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) jadi salah satu yang pernah melarang 'hijab' dalam kompetisi mereka. FIBA tidak melarang secara langsung penggunaan hijab, akan tetapi menggunakan istilah 'pemain tidak boleh memakai peralatan (benda) yang dapat menyebabkan pemain lain cedera'.
Pada 2016, Amaiya Zafar yang berusia 16 tahun didiskualifikasi dari kejuaraan Nasional Tinju Sugar Bert karena panitia menganggap hijab yang dikenakannya melanggar kode keselamatan mereka.
Kulsoom Abdullah juga pernah mendapat adangan dari Badan Angkat Besi Amerika Serikat karena tidak mengizinkannya mengenakan lengan panjang, celana, dan hijab sebagai pengganti singlet.
Baru setelah Kulsoom Abdullah mengeluarkan siaran pers soal alasan tidak bisa bertanding sebagai wanita Muslim, federasi angkat besi itu mengizinkannya mewakili Pakistan di kompetisi internasional.
Kulsoom Abdullah yang berdarah Pakistan-Amerika jadi lifter berhijab pertama yang mengikuti kejuaraan internasional pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2011 di Paris, Prancis, saat itu Kulsoom memilih menjadi wakil Pakistan. Larangan tampil mengenakan hijab sempat membuat Kulsoom berprasangka.
"Sepertinya karena takut atau tidak suka pada apa yang mereka anggap [negatif], atau bahwa itu akan mengambil alih dunia, bisa dikatakan begitu," ucap Kulsoom.
Akan tetapi, pandangan dan perlakuan dunia olahraga terhadap atlet berhijab kini berubah.
Dikutip dari Rollingstone.com, sejumlah pihak menilai Ibtihaj Muhammad adalah katalisator pembawa perubahan bagi atlet wanita Muslim. Bukan saja karena pencapaian luar biasanya di Olimpiade, tetapi juga efek setelahnya.
Ibtihaj Muhammad jadi salah satu atlet Olimpiade yang paling banyak dibicarakan seperti halnya Michael Phelps dan Simone Biles.
Pada masa tersebut, Ibtihaj melakukan yang terbaik demi menangkis sorotan berlebihan pada agamanya, atau apa yang dia kenakan saat berkompetisi di tingkat dunia.
Lebih dari itu, lewat hijab dan pencapaiannya tersebut, Ibtihaj sukses menunjukkan keanggunan dan kerendahan hati di panggung olahraga terbesar di dunia.
Ibtihaj tampil di kompetisi anggar ketika berusia 13. Orang tuanya memilih anggar sebagai olahraga untuk Ibtihaj karena dianggap cocok untuk yang berhijab.
Bahkan salah satu perusahaan apparel besar dunia, Nike, memiliki pendapatan kurang dari US$5 miliar atau setara dengan Rp73,108 triliun dalam waktu kurang dari 5 tahun penjualan hijab olahraga.
Nike menggunakan ketenaran Ibtihaj di Olimpiade 2016 sebagai langkah mendukung gerakan 'pro hijab'. Meskipun pada akhirnya, merek dagang Louella yang jadi milik Ibtihaj sendiri tidak terlibat dalam kampanye Nike tersebut.
Peraturan dalam setiap federasi olahraga tidak secara khusus melarang hijab. Akan tetapi dengan bahasa umum melarang penggunaan penutup kepala selama berkompetisi. Karena pasal itu, bukan saja atlet muslim yang terpengaruh, tetapi juga atlet Sikh dan Yahudi.
Mantan pemain timnas sepak bola wanita Afganistan, Hajar Abulfazl, meluruskan anggapan hijab bisa menyebabkan cedera atau menghambat penampilan di lapangan.
"Hijab tidak menimbulkan masalah atau kesulitan dalam berkompetisi. Ada desain khusus, termasuk yang disetujui FIFA, yang kami pakai di sepak bola dan tersedia di olahraga lain. Saya tidak pernah mengalami [cedera] atau mengetahui siapa pun yang mengalami cedera akibat hijab," kata Hajar.
Dalam pandangan Hajar, sejak beberapa tahun lalu banyak perusahaan memproduksi hijab olahraga, hanya saja terkendala pemasaran.
"Banyak perusahaan yang datang dengan hijab olahraga, hanya saja mereka tidak punya jangkauan yang sama dengan yang dimiliki Nike. Jika Anda bertanya kepada orang-orang dalam komunitas muslim, kami semua tahu bahwa ada akses untuk hijab olahraga dari perusahaan butik yang lebih kecil," tutur Hajar.
Batu sandungan bagi atlet berhijab tidak saja datang dari peraturan dalam federasi olahraga, tetapi juga budaya di negara tersebut.
Salah satu contohnya yang dialami Hajar Abulfazl sendiri sebagai generasi pertama pesepakbola Afganistan sejak kejatuhan Taliban pada 2001. Hajar tercatat pernah menjadi pemain timnas wanita Afganistan lebih dari satu dekade.
Akan tetapi, sebelum meraih pencapaiannya tersebut, Hajar lebih dahulu dihadapkan pada kehidupan konservatif di Afganistan, bahwa budaya di negara itu mendorong perempuan cukup menjadi ibu rumah tangga dibanding atlet.
Sebagian keluarga Hajar setuju dengan cita-citanya menjadi bintang si kulit bundar, mungkin hanya pamannya yang tidak sepakat dengan keinginannya itu. Karena faktor tersebut, Hajar biasa menyelinap keluar rumah untuk bermain sepak bola.
Aktivis dan jurnalis olahraga Shireen Ahmed menilai, penampilan atlet berhijab di kejuaraan internasional kini terlihat normal akibat dampak yang ditimbulkan Ibtihaj Muhammad serta atlet wanita Muslim lain.
"Pandangan seorang wanita Muslim berkerudung di tempat-tempat yang belum terlihat tidak selalu dipahami atau diterima," ucap Ahmed.
"Tapi dia sangat tulus dalam menjelaskan tentang perjalanannya: Dia tidak harus melanggar larangan dalam olahraganya," kata Ahmed menambahkan.
Ibtihaj pun berharap, ke depan makin banyak wanita Muslim yang memiliki prestasi besar di dunia olahraga.
"Saya berharap, ada wanita Muslim lain yang lebih dahulu melakukan semua hal yang saya capai, saya tetap merasa sangat bersyukur dengan itu," ujar Ibrihaj.
"Saya berharap ada banyak sekali wanita Muslim yang muncul setelah saya, dan semoga perjalanan mereka akan lebih mudah, karena saya telah meletakkan dasar ini untuk menunjukkan bahwa hal itu mungkin," tutur Ibtihaj melanjutkan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Atlet berhijab memiliki perjuangan luar biasa dalam berburu prestasi. Mereka yang mengenakan hijab tidak saja berharap naik podium dalam kejuaraan, tetapi juga menginginkan pahala dari Allah subhanahu wata'ala.
Dua target tersebut coba dijalankan para atlet wanita tersebut di waktu yang bersamaan. Hanya saja, upaya mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Di samping pandangan miring banyak orang, termasuk dari para rival yang notabene sesama atlet, atlet berhijab ini juga harus lolos dari peraturan dalam cabang olahraga itu sendiri.
Olimpiade Rio de Janeiro 2016 di Brasil seperti jadi tonggak dari era baru atlet berhijab. Sejumlah atlet yang mengenakan hijab menuai prestasi: mulai dari Sara Ahmed yang meraih perunggu di cabang angkat besi kelas 69 kg, hingga Ibtihaj Muhammad yang juga mendapat perunggu di cabor anggar nomor tim sabel putri.
Ibtihaj Muhammad menjadi wanita pertama muslim yang mengenakan hijab untuk kontingen Amerika Serikat di Olimpiade pada 2016. Dia juga jadi wanita muslim Amerika pertama yang meraih medali di multi-cabang empat tahunan tersebut.
Sementara itu Sara Ahmed menjadi wanita pertama Mesir yang meraih medali selama 104 tahun negara tersebut ikut Olimpiade. Selain itu Sara Ahmed juga jadi wanita pertama dari Arab yang memenangi medali Olimpiade cabang angkat besi.
Capaian-capaian dari Ibtihaj Muhammad dan Sara Ahmed itu mampu membuka 'mata dunia' tentang pandangan terhadap atlet wanita berhijab.
Bisa jadi Ibtihaj jadi salah satu yang beruntung sebagai atlet muslim berhijab. Karena sebelum kesuksesannya di Brasil, tidak sedikit atlet berhijab yang dilarang tampil mengikuti turnamen karena mengenakan hijab. Alasannya dianggap membahayakan dirinya sendiri dan juga lawan karena bentuk hijab yang tidak simpel.
Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) jadi salah satu yang pernah melarang 'hijab' dalam kompetisi mereka. FIBA tidak melarang secara langsung penggunaan hijab, akan tetapi menggunakan istilah 'pemain tidak boleh memakai peralatan (benda) yang dapat menyebabkan pemain lain cedera'.
Pada 2016, Amaiya Zafar yang berusia 16 tahun didiskualifikasi dari kejuaraan Nasional Tinju Sugar Bert karena panitia menganggap hijab yang dikenakannya melanggar kode keselamatan mereka.
Kulsoom Abdullah juga pernah mendapat adangan dari Badan Angkat Besi Amerika Serikat karena tidak mengizinkannya mengenakan lengan panjang, celana, dan hijab sebagai pengganti singlet.
Baru setelah Kulsoom Abdullah mengeluarkan siaran pers soal alasan tidak bisa bertanding sebagai wanita Muslim, federasi angkat besi itu mengizinkannya mewakili Pakistan di kompetisi internasional.
Kulsoom Abdullah yang berdarah Pakistan-Amerika jadi lifter berhijab pertama yang mengikuti kejuaraan internasional pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2011 di Paris, Prancis, saat itu Kulsoom memilih menjadi wakil Pakistan. Larangan tampil mengenakan hijab sempat membuat Kulsoom berprasangka.
"Sepertinya karena takut atau tidak suka pada apa yang mereka anggap [negatif], atau bahwa itu akan mengambil alih dunia, bisa dikatakan begitu," ucap Kulsoom.
Akan tetapi, pandangan dan perlakuan dunia olahraga terhadap atlet berhijab kini berubah.
Dikutip dari Rollingstone.com, sejumlah pihak menilai Ibtihaj Muhammad adalah katalisator pembawa perubahan bagi atlet wanita Muslim. Bukan saja karena pencapaian luar biasanya di Olimpiade, tetapi juga efek setelahnya.
Ibtihaj Muhammad jadi salah satu atlet Olimpiade yang paling banyak dibicarakan seperti halnya Michael Phelps dan Simone Biles.
Pada masa tersebut, Ibtihaj melakukan yang terbaik demi menangkis sorotan berlebihan pada agamanya, atau apa yang dia kenakan saat berkompetisi di tingkat dunia.
Lebih dari itu, lewat hijab dan pencapaiannya tersebut, Ibtihaj sukses menunjukkan keanggunan dan kerendahan hati di panggung olahraga terbesar di dunia.
Ibtihaj tampil di kompetisi anggar ketika berusia 13. Orang tuanya memilih anggar sebagai olahraga untuk Ibtihaj karena dianggap cocok untuk yang berhijab.
Bahkan salah satu perusahaan apparel besar dunia, Nike, memiliki pendapatan kurang dari US$5 miliar atau setara dengan Rp73,108 triliun dalam waktu kurang dari 5 tahun penjualan hijab olahraga.
Nike menggunakan ketenaran Ibtihaj di Olimpiade 2016 sebagai langkah mendukung gerakan 'pro hijab'. Meskipun pada akhirnya, merek dagang Louella yang jadi milik Ibtihaj sendiri tidak terlibat dalam kampanye Nike tersebut.
Hijab Bukan Halangan dalam Olahraga
Ibtihaj Muhammad memilih anggar karena seragamnya menutupi aurat. (AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV)
Peraturan dalam setiap federasi olahraga tidak secara khusus melarang hijab. Akan tetapi dengan bahasa umum melarang penggunaan penutup kepala selama berkompetisi. Karena pasal itu, bukan saja atlet muslim yang terpengaruh, tetapi juga atlet Sikh dan Yahudi.
Mantan pemain timnas sepak bola wanita Afganistan, Hajar Abulfazl, meluruskan anggapan hijab bisa menyebabkan cedera atau menghambat penampilan di lapangan.
"Hijab tidak menimbulkan masalah atau kesulitan dalam berkompetisi. Ada desain khusus, termasuk yang disetujui FIFA, yang kami pakai di sepak bola dan tersedia di olahraga lain. Saya tidak pernah mengalami [cedera] atau mengetahui siapa pun yang mengalami cedera akibat hijab," kata Hajar.
Dalam pandangan Hajar, sejak beberapa tahun lalu banyak perusahaan memproduksi hijab olahraga, hanya saja terkendala pemasaran.
"Banyak perusahaan yang datang dengan hijab olahraga, hanya saja mereka tidak punya jangkauan yang sama dengan yang dimiliki Nike. Jika Anda bertanya kepada orang-orang dalam komunitas muslim, kami semua tahu bahwa ada akses untuk hijab olahraga dari perusahaan butik yang lebih kecil," tutur Hajar.
Batu sandungan bagi atlet berhijab tidak saja datang dari peraturan dalam federasi olahraga, tetapi juga budaya di negara tersebut.
Salah satu contohnya yang dialami Hajar Abulfazl sendiri sebagai generasi pertama pesepakbola Afganistan sejak kejatuhan Taliban pada 2001. Hajar tercatat pernah menjadi pemain timnas wanita Afganistan lebih dari satu dekade.
Akan tetapi, sebelum meraih pencapaiannya tersebut, Hajar lebih dahulu dihadapkan pada kehidupan konservatif di Afganistan, bahwa budaya di negara itu mendorong perempuan cukup menjadi ibu rumah tangga dibanding atlet.
Sebagian keluarga Hajar setuju dengan cita-citanya menjadi bintang si kulit bundar, mungkin hanya pamannya yang tidak sepakat dengan keinginannya itu. Karena faktor tersebut, Hajar biasa menyelinap keluar rumah untuk bermain sepak bola.
Aktivis dan jurnalis olahraga Shireen Ahmed menilai, penampilan atlet berhijab di kejuaraan internasional kini terlihat normal akibat dampak yang ditimbulkan Ibtihaj Muhammad serta atlet wanita Muslim lain.
"Pandangan seorang wanita Muslim berkerudung di tempat-tempat yang belum terlihat tidak selalu dipahami atau diterima," ucap Ahmed.
"Tapi dia sangat tulus dalam menjelaskan tentang perjalanannya: Dia tidak harus melanggar larangan dalam olahraganya," kata Ahmed menambahkan.
Ibtihaj pun berharap, ke depan makin banyak wanita Muslim yang memiliki prestasi besar di dunia olahraga.
"Saya berharap, ada wanita Muslim lain yang lebih dahulu melakukan semua hal yang saya capai, saya tetap merasa sangat bersyukur dengan itu," ujar Ibrihaj.
"Saya berharap ada banyak sekali wanita Muslim yang muncul setelah saya, dan semoga perjalanan mereka akan lebih mudah, karena saya telah meletakkan dasar ini untuk menunjukkan bahwa hal itu mungkin," tutur Ibtihaj melanjutkan.