Wahyana, Guru SMP Raih Mimpi Pimpin Final Olimpiade Tokyo
CNN Indonesia
Rabu, 04 Agu 2021 06:23 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Wahyana memimpin final badminton tunggal putri Olimpiade Tokyo 2020. Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia memang gagal mengirim wakilnya ke final tunggal putri badminton Olimpiade Tokyo 2020. Namun, setidaknya Wahyana, wasit Indonesia asal Sleman, menjadi saksi drama sengit tersebut.
Wahyana bertugas dengan maksimal saat Chen Yu Fei dari China mendulang medali emas usai menumbangkan Tai Tzu Ying asal Taiwan di laga final, Senin (3/8). Ia menjadi saksi drama sengit berdurasi 81 menit itu.
Jika medali emas adalah incaran setiap atlet, maka memimpin jalannya laga di Olimpiade merupakan mimpi bagi tiap wasit. Wahyana, berhasil mewujudkan impiannya satu tahun jelang memasuki masa pensiun.
"Semua wasit itu mendambakan bisa bertugas di Olimpiade karena ini merupakan event tertinggi di dunia dan tidak semua wasit bisa terpilih untuk tugas di ajang ini," kata Wahyana saat dihubungi, Selasa (3/8).
Bukan perjalanan singkat baginya untuk bisa memimpin laga di ajang sekelas Olimpiade. Butuh tahun demi tahun agar bisa mengantongi lisensi dari Badminton World Federation (BWF) sebagai syarat utamanya.
Wahyana terjun ke dunia perwasitan tepok bulu usai memutuskan untuk tak melanjutkan kariernya sebagai pemain voli. Dibekap cedera panjang, dirinya lantas banting profesi menjadi guru olahraga di SMP Negeri 4 Patuk, Gunungkidul, DIY.
Di masa-masa itu pula, Wahyana pernah menjadi hakim garis tingkat kabupaten selama 1998-2000. Tahun-tahun berikutnya, pria yang kini berusia 54 tahun ini mulai menempuh ujian demi ujian guna memperoleh lisensi wasit. Mulai dari level kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional.
"Nah dari lisensi dan pengalaman yang sudah saya miliki karena sudah cukup lama juga saya menjadi wasit internasional terhitung mulai 2006, maka boleh dikatakan saya merupakan salah satu wasit senior di dunia," klaimnya.
Wahyana dinyatakan lulus ujian akreditasi wasit tingkat Asia pada 2006. Prestasi ini membawanya menuju level selanjutnya yaitu sertifikasi wasit yang akhirnya didapat dua tahun berselang.
Empat tahun setelahnya, Wahyana lulus ujian akreditasi wasit tingkat BWF dan baru pada 2016 dirinya melewati ujian sertifikasi BWF.
Bermodal sederet sertifikat itu, Wahyana memimpin semua turnamen bergengsi. Mulai dari PON, Sudirman Cup, Thomas dan Uber Cup, SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia, hingga terbaru Olimpiade. Terhitung sudah ada sekitar 77 caps internasional yang dilakoninya.
"Dari 77 atau 78 (caps) itu, sebanyak 99 persen saya tugasnya sampai final," tutur pria yang berdomisili di Sidomulyo, Godean, Sleman.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikutnya...
Puluhan tahun berkecimpung sebagai pengadil, Wahyana sering menjadi saksi berbagai partai besar. Satu yang ia rasa paling membekas adalah perseteruan antara dua raja di kelas tunggal putra. Yakni, Lin Dan dan Lee Chong Wei.
Tensi di setiap pertemuan antara pebulu tangkis asal Tiongkok dan Malaysia itu, diakuinya, selalu tinggi. Wahyana terbawa rivalitas 'Super Dan' dan 'The Mighty Chong Wei'.
"Lee Chong Wei lawan Lin Dan itu betul-betul sama-sama mempunyai kualitas yang luar biasa," kisahnya menggebu.
"Jadi di situ membutuhkan konsentrasi yang luar biasa juga, karena bisa dikatakan mereka sama-sama pemain top dunia di eranya," lanjut pria kelahiran 10 September 1967 tersebut.
Di era sekarang, laga yang mempertemukan Kento Momota dan Viktor Axelsen juga tak kalah sangar. Meski, untuk tunggal putra Indonesia, menurutnya sejauh ini belum ada yang bisa menyamai level permainan Taufik Hidayat.
Begitu pula untuk kelas ganda putra. Pasangan klasik Rexy Mainaky dan Ricky Subagja masih tetap di hati Wahyana.
"Kalau untuk kejuaran beregu memang final Thomas dan Uber Cup yang paling boleh dikatakan paling sulit sebenarnya. Karena di situ atmosfer beda, beregu sama perorangan tetep beda gitu," tuturnya.
Di Olimpiade Tokyo 2020 ini sendiri, Wahyana jadi salah satu wasit asal Indonesia yang mendapat kepercayaan untuk bertugas.
"Kemarin itu ada 26 wasit yang tugas di Olimpiade dan pada saat final itu kan hanya 5 partai. Dan hanya dipilih lima terbaik katanya begitu, Alhamdulillah saya masuk 5 besar dari 26 tersebut," sambung dia.
Semasa kiprahnya sebagai wasit, pengalaman tahun ini jauh berbeda dengan ketiadaan penonton serta suporter buntut berlangsungnya turnamen di tengah masa pandemi Covid-19.
Namun, situasi ini sedikit banyak malah cukup menguntungkan buat Wahyana. Ia mengaku jadi lebih mudah fokus dan pertandingan cenderung berjalan mulus.
"Beda kalau misal penontonnya penuh, riuh, dan lain sebagainya. Kadang kita call, atau mengucapkan skor dan sebagainya itu tidak terdengar. Kendalanya kan seperti itu. Tapi dengan tanpa penonton kita mengucap dengan tidak terlalu keras saja sudah terdengar," bebernya.
Indonesia memang gagal mengirim wakilnya ke final tunggal putri badminton Olimpiade Tokyo 2020. Namun, setidaknya Wahyana, wasit Indonesia asal Sleman, menjadi saksi drama sengit tersebut.
Wahyana bertugas dengan maksimal saat Chen Yu Fei dari China mendulang medali emas usai menumbangkan Tai Tzu Ying asal Taiwan di laga final, Senin (3/8). Ia menjadi saksi drama sengit berdurasi 81 menit itu.
Jika medali emas adalah incaran setiap atlet, maka memimpin jalannya laga di Olimpiade merupakan mimpi bagi tiap wasit. Wahyana, berhasil mewujudkan impiannya satu tahun jelang memasuki masa pensiun.
"Semua wasit itu mendambakan bisa bertugas di Olimpiade karena ini merupakan event tertinggi di dunia dan tidak semua wasit bisa terpilih untuk tugas di ajang ini," kata Wahyana saat dihubungi, Selasa (3/8).
Bukan perjalanan singkat baginya untuk bisa memimpin laga di ajang sekelas Olimpiade. Butuh tahun demi tahun agar bisa mengantongi lisensi dari Badminton World Federation (BWF) sebagai syarat utamanya.
Wahyana terjun ke dunia perwasitan tepok bulu usai memutuskan untuk tak melanjutkan kariernya sebagai pemain voli. Dibekap cedera panjang, dirinya lantas banting profesi menjadi guru olahraga di SMP Negeri 4 Patuk, Gunungkidul, DIY.
Di masa-masa itu pula, Wahyana pernah menjadi hakim garis tingkat kabupaten selama 1998-2000. Tahun-tahun berikutnya, pria yang kini berusia 54 tahun ini mulai menempuh ujian demi ujian guna memperoleh lisensi wasit. Mulai dari level kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional.
"Nah dari lisensi dan pengalaman yang sudah saya miliki karena sudah cukup lama juga saya menjadi wasit internasional terhitung mulai 2006, maka boleh dikatakan saya merupakan salah satu wasit senior di dunia," klaimnya.
Wahyana dinyatakan lulus ujian akreditasi wasit tingkat Asia pada 2006. Prestasi ini membawanya menuju level selanjutnya yaitu sertifikasi wasit yang akhirnya didapat dua tahun berselang.
Empat tahun setelahnya, Wahyana lulus ujian akreditasi wasit tingkat BWF dan baru pada 2016 dirinya melewati ujian sertifikasi BWF.
Bermodal sederet sertifikat itu, Wahyana memimpin semua turnamen bergengsi. Mulai dari PON, Sudirman Cup, Thomas dan Uber Cup, SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia, hingga terbaru Olimpiade. Terhitung sudah ada sekitar 77 caps internasional yang dilakoninya.
"Dari 77 atau 78 (caps) itu, sebanyak 99 persen saya tugasnya sampai final," tutur pria yang berdomisili di Sidomulyo, Godean, Sleman.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikutnya...
Hanyut dalam Rivalitas Dua Raja
Wahyana jadi wasit Indonesia yang memimpin final tunggal putri Olimpiade Tokyo 2020. (Dok. Pribadi)
Puluhan tahun berkecimpung sebagai pengadil, Wahyana sering menjadi saksi berbagai partai besar. Satu yang ia rasa paling membekas adalah perseteruan antara dua raja di kelas tunggal putra. Yakni, Lin Dan dan Lee Chong Wei.
Tensi di setiap pertemuan antara pebulu tangkis asal Tiongkok dan Malaysia itu, diakuinya, selalu tinggi. Wahyana terbawa rivalitas 'Super Dan' dan 'The Mighty Chong Wei'.
"Lee Chong Wei lawan Lin Dan itu betul-betul sama-sama mempunyai kualitas yang luar biasa," kisahnya menggebu.
"Jadi di situ membutuhkan konsentrasi yang luar biasa juga, karena bisa dikatakan mereka sama-sama pemain top dunia di eranya," lanjut pria kelahiran 10 September 1967 tersebut.
Di era sekarang, laga yang mempertemukan Kento Momota dan Viktor Axelsen juga tak kalah sangar. Meski, untuk tunggal putra Indonesia, menurutnya sejauh ini belum ada yang bisa menyamai level permainan Taufik Hidayat.
Begitu pula untuk kelas ganda putra. Pasangan klasik Rexy Mainaky dan Ricky Subagja masih tetap di hati Wahyana.
"Kalau untuk kejuaran beregu memang final Thomas dan Uber Cup yang paling boleh dikatakan paling sulit sebenarnya. Karena di situ atmosfer beda, beregu sama perorangan tetep beda gitu," tuturnya.
Di Olimpiade Tokyo 2020 ini sendiri, Wahyana jadi salah satu wasit asal Indonesia yang mendapat kepercayaan untuk bertugas.
"Kemarin itu ada 26 wasit yang tugas di Olimpiade dan pada saat final itu kan hanya 5 partai. Dan hanya dipilih lima terbaik katanya begitu, Alhamdulillah saya masuk 5 besar dari 26 tersebut," sambung dia.
Semasa kiprahnya sebagai wasit, pengalaman tahun ini jauh berbeda dengan ketiadaan penonton serta suporter buntut berlangsungnya turnamen di tengah masa pandemi Covid-19.
Namun, situasi ini sedikit banyak malah cukup menguntungkan buat Wahyana. Ia mengaku jadi lebih mudah fokus dan pertandingan cenderung berjalan mulus.
"Beda kalau misal penontonnya penuh, riuh, dan lain sebagainya. Kadang kita call, atau mengucapkan skor dan sebagainya itu tidak terdengar. Kendalanya kan seperti itu. Tapi dengan tanpa penonton kita mengucap dengan tidak terlalu keras saja sudah terdengar," bebernya.