Jakarta, CNN Indonesia -- Manchester United mendapatkan pertanda buruk setelah tersingkir dari Piala Liga Inggris karena kalah 0-1 dari West Ham United di Old Trafford, Kamis (23/9) dini hari WIB.
Man United jadi satu-satunya tim besar Premier League atau yang biasa disapa big six yang gagal melangkah ke babak keempat Piala Liga. Hasil itu juga jadi yang terburuk dalam tiga musim terakhir setelah pada dua musim sebelumnya mencapai babak semifinal.
Setan Merah yang memiliki skuad lebih bagus dibandingkan dengan West Ham tidak bisa mencetak gol balasan apalagi membalikkan kedudukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal statistik menunjukkan tuan rumah mendominasi segala aspek, mulai dari penguasaan bola hingga peluang gol yang didapat.
Selama 90 menit tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu menguasai bola dengan persentase mencapai 61 persen dan bisa melepaskan 27 tembakan, namun hanya 6 yang tepat sasaran. Lebih parah lagi tidak ada gol yang tercipta.
 Anthony Martial gagal memanfaatkan sejumlah peluang Man United lawan West Ham. (AP/Dave Thompson) |
Pertahanan Man United yang diisi Diogo Dalot, Victor Lindelof, Eric Bailly, dan Alex Telles sejatinya menunjukkan kinerja yang baik. Bahkan kiper Dean Henderson tidak harus bekerja keras seperti Alphonse Areola yang perlu jatuh bangun menahan gempuran tuan rumah.
Man United hanya bernasib sial karena kecolongan gol Manuel Lanzini yang berdiri cukup bebas pada menit kesembilan. Gelandang bertahan Nemanja Matic sebagai pemain yang lebih dekat terlambat menutup ruang tembak Lanzini.
Faktor lain yang membuat MU tersingkir karena perjudian buruk yang dilakukan Solskjaer pada pertandingan itu dengan memainkan striker Anthony Martial. Striker asal Prancis itu melepaskan tiga tembakan, namun hanya satu yang on target.
Dalam beberapa musim terakhir Martial kehilangan sentuhan terbaiknya. Hal itu berbeda dengan musim-musim awal di Old Trafford.
Di luar Martial, karena Edinson Cavani belum fit dan Cristiano Ronaldo harus istirahat, Man United memiliki beberapa pemain yang bisa diandalkan sebagai penyerang tengah, salah satunya Mason Greenwood. Sedangkan pada kedua sisi penyerang sayap Setan Merah punya Jesse Lingard dan Jadon Sancho.
Untuk turnamen dengan sistem gugur seperti Piala Liga, sebuah kesalahan bisa berakibat fatal. Hal itu yang terjadi pada Man Utd dan Solskjaer.
Hasil melawan West Ham ini patut jadi pelajaran penting bagi Man United terutama dalam penyelesaian akhir.
Guna mengejar gelar juara Premier League dan juga Liga Champions MU tidak bisa membuang banyak peluang gol, terutama saat di kotak penalti serta di depan gawang lawan.
Apabila kesalahan-kesalahan itu tidak bisa diperbaiki dengan cepat oleh Solskjaer dan Man United, gelar juara bisa kembali jadi mimpi bagi The Red Devils.
Baca kelanjutan berita ini pada halaman berikutnya>>>
Kekalahan yang Tak Bisa Dimaafkan
Ole Gunnar Solskjaer perlu berhati-hati usai kekalahan dari West Ham. (AFP/KACPER PEMPEL)
Kekalahan Manchester United dari West Ham United di babak ketiga Piala Liga Inggris bukan sesuatu yang bisa dimaafkan. Itu karena Man United sudah empat musim absen mengangkat trofi.
Bagi klub sekaliber Man United mengangkat trofi itu wajib, terutama ajang-ajang besar seperti Liga Inggris dan Liga Champions. Sedangkan Piala Liga Inggris dan Piala FA bisa jadi target antara atau 'sampingan'.
Hanya saja melihat kali terakhir MU juara pada 2016/2017, kini segala kejuaraan perlu dipertahankan dengan peluang mengangkat trofi. Terlebih lagi pada musim ini Man United memiliki skuad yang bisa dibilang garansi juara.
Pada musim ini MU mempunyai pemain utama dan pelapis dengan kualitas yang sama bagusnya, mulai dari penjaga gawang hingga striker. Hanya sektor gelandang bertahan saja yang masih jadi pekerjaan besar bagi Man Utd.
Meski minus pemain mumpuni di posisi gelandang bertahan, bukan alasan bagi Solskjaer kehilangan peluang juara pada musim ini.
 Man United disingkirkan West Ham di Piala Liga. (Action Images via Reuters/JASON CAIRNDUFF) |
Tidak terbantahkan jika Solskjaer membuat progres yang bagus bagi skuad Man Utd selama lebih dari dua setengah tahun terakhir sejak 2018.
Akan tetapi, lewat proses yang hampir tiga tahun itu Solskjaer dan Man United beberapa kali hanya hampir menyentuh trofi juara dan selalu gagal.
Pada musim 2019/2020 dan 2020/2021 MU disingkirkan Manchester City di semifinal Piala Liga Inggris. Pada musim 2019/2020 juga MU kalah dari Chelsea di semifinal Piala FA dan dihajar Sevilla di semifinal Liga Europa.
Musim lalu Man United nyaris juara Liga Europa, namun kalah adu penalti 11-12 dari Villarreal di babak final. Karena itu, setelah sejumlah pencapaian apik yang berujung pahit tersebut, Solskjaer tidak lagi memiliki asalan untuk gagal.
Nirgelar pada musim ini bukan tidak mungkin akan membuat Solskjaer angkat kaki dari Old Trafford. Mengingat dewan Man United sudah memenuhi kebutuhan Solskjaer memiliki skuad dengan kedalaman yang baik.
[Gambas:Video CNN]