Surya Paloh Duga Demo Besar karena Ada yang Tak Suka Jokowi
Christie Stefanie | CNN Indonesia
Selasa, 22 Nov 2016 10:59 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menduga rencana demonstrasi lanjutan besar-besaran pada 25 November dan 2 Desember bermotif ketidaksukaan terhadap pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Menurut Surya, demo besar 4 November lalu memang berawal dari desakan pada penuntasan kasus penistaan agama yang diduga dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Sementara saat ini Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka. Jika masih ada demo besar lanjutan, maka menurutnya patut dipertanyakan apa yang dituntut lagi pengunjuk rasa.
"Kecuali memang tidak suka dengan pemerintahan ini, supaya pemerintahan ini dijatuhkan," kata Surya di Istana Merdeka, Selasa (22/11) usai bertemu Presiden Jokowi.
Rencana demo lanjutan juga bersamaa dengan munculnya isu liar. Mulai dari ajakan penarikan uang besar-besaran dari bank (rush money), eksodus pengusaha, makar.
Informasi makar dalam aksi lanjutan juga sudah diterima Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka mengatakan, seluruh aparat dan prajurit siap jihad mengantisipasi agenda tersembunyi dalam demonstrasi lanjutan perkara penistaan agama, termasuk yang mengarah pada makar.
Menanggapi disisipkannya agenda makar, Surya Paloh mengimbau seluruh pihak dan lapisan masyarakat menghormati dan menghargai proses hukum yang berlangsung dan sistem demokrasi Indonesia.
Ia menuturkan, ia siap menjaga pemerintahan Jokowi apabila upaya makar terus dilanjutkan dalam aksi mendatang. Menurutnya, menjaga kestabilan negara menjadi hak setiap warga negara.
"Konstitusi harus ditegakkan, kami lawan. Itu (perlawanan) yang sebenarnya tidak kami harapkan. Tapi kalau terpaksa, kami lawan. Bukan hanya pekerjaan aparatur keamanan," kata mantan Politikus Golkar ini.
Surya juga berharap para aktor politik di belakang aksi itu untuk sadar. Menurutnya, demonstrasi tersebut bisa memperburuk situasi. Indonesia juga menurutnya akan makin tertinggal.
"Kita sudah terlalu jauh tertinggal. Masa enggak malu?" kata Surya. (sur/obs)
Menurut Surya, demo besar 4 November lalu memang berawal dari desakan pada penuntasan kasus penistaan agama yang diduga dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Sementara saat ini Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka. Jika masih ada demo besar lanjutan, maka menurutnya patut dipertanyakan apa yang dituntut lagi pengunjuk rasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi makar dalam aksi lanjutan juga sudah diterima Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka mengatakan, seluruh aparat dan prajurit siap jihad mengantisipasi agenda tersembunyi dalam demonstrasi lanjutan perkara penistaan agama, termasuk yang mengarah pada makar.
"Konstitusi harus ditegakkan, kami lawan. Itu (perlawanan) yang sebenarnya tidak kami harapkan. Tapi kalau terpaksa, kami lawan. Bukan hanya pekerjaan aparatur keamanan," kata mantan Politikus Golkar ini.
Surya juga berharap para aktor politik di belakang aksi itu untuk sadar. Menurutnya, demonstrasi tersebut bisa memperburuk situasi. Indonesia juga menurutnya akan makin tertinggal.
"Kita sudah terlalu jauh tertinggal. Masa enggak malu?" kata Surya. (sur/obs)