Blokir Internet

Untung Rugi DNS Asing Diblokir

Trisno Heriyanto, CNN Indonesia | Jumat, 10/10/2014 14:57 WIB
Untung Rugi DNS Asing Diblokir
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengeluarkan aturan soal pemakaian Domain Name Server (DNS). Di luar ketentuan itu maka DNS tersebut akan diblokir.

DNS bisa dibilang adalah penterjemah saat pengguna ingin mengunjungi situs. Oleh sebab itu server yang mengelola sistem ini memiliki fungsi yang sangat penting.

Selain itu di dalam DNS juga menyimpan jejak lalu lintas data para pengguna internet yang mengaksesnya, di luar itu sistem ini juga bisa dipakai untuk membatasi akses situs-situs tertentu.


Di Indonesia sendiri para pengguna bisa memakai berbagai macam DNS, mulai dari yang disediakan para penyenggara internet terkait, hingga milik Google yang bisa diakses dengan alamat 8.8.8.8 dan 8.8.4.4. Namum belakangan ada aturan soal pemakaian DNS tersebut.

"Bukan hanya DNS alternatif yang dikelola Google, tapi seluruh DNS alternatif yang dikelola asing. Kita wajib pakai DNS lokal," ujar Presiden Direktur Biznet Networks, Adi Kusma.

Dalam pernyataan pers, Juru Bicara Kemenkominfo Ismail Cawidu, mengatakan, penyedia jasa internet dapat menggunakan DNS yang dikelola sendiri atau memanfaatkan DNS yang disediakan pihak lain. Namun, keduanya tetap mengacu pada Peraturan Menteri Kominfo Nomor 19 Tahun 2014 tentang penanganan situs internet bermuatan negatif dan memblokir situs yang ada dalam daftar Trust Positif.

Dengan kata lain, para ISP bisa saja mengizinkan penggunanya untuk memakai DNS asing, asal DNS tersebut sudah memuat data penyaring yang ada dalam daftar Trust Positif.

Menurut Alfons Tanujaya, praktisi sistem keamanan komputer dari Vaksincom, ada untung rugi memakai DNS yang ‘dipaksakan’ oleh pemerintah.

Lalu lintas data memang bisa terjaga. Pemerintah dapat dengan mudah mengatur mana situs yang boleh diakses atau tidak. Tapi di sisi lain ‘pemaksaan’ ini juga berpotensi merugikan.

"Bisa bahaya jika pengelola DNS tidak merawatnya," ujar Alfons.

Ada beberapa kasus yang pernah terjadi akibat kelalaian para pengelola DNS, contoh terbaru adalah Google Indonesia.
Kasus serupa juga pernah terjadi pada laman presidensby.info. Peretas mengubah DNS yang merujuk ke situs tersebut, ke alamat lain. Sementara DNS Google diyakini memiliki sistem keamanan yang lebih baik.