Brodo, Percaya Diri dengan Toko Online Sendiri

Aditya Panji, CNN Indonesia | Jumat, 23/01/2015 14:14 WIB
Brodo, Percaya Diri dengan Toko Online Sendiri Pendiri sekaligus CEO Brodo, Yukka Harlanda. (CNN Indonesia/Aditya Panji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berawal dari 30 pasang sepatu per bulan di tahun 2010, perusahaan rintisan Brodo sukses menjual 7.000 produk di bulan Desember 2014, termasuk sepatu, pakaian, aksesori, hingga alat perawatan material kulit sepatu. Sukses ini diraih berkat keberanian menempuh jalur pemasaran online dan kepercayaan diri membangun toko online sendiri.

Di masa awal, Brodo menjalin kemitraan dengan distro di Jakarta dan Bandung untuk memperluas penjualan. Mereka pun memperluas penjualan dengan menggandeng peretail ternama, The Goods Dept, di tahun 2011.

Yukka Harlanda, pendiri sekaligus CEO Brodo, mengakui kala itu penjualan mereka meroket lima kali lipat. Stok yang seharus untuk dua bulan langsung ludes dalam beberapa pekan. "Ini ada 'sesuatu.' Tapi belum bisa dipastikan 'sesuatu' itu datang dari The Goods Dept atau dari produk kita," ujar Yukka saat ditemui CNN Indonesia beberapa waktu lalu.


Ia dan Putera Dwi Karunia, yang tak lain adalah pendiri Brodo, memutuskan untuk melanjutkan penjualan di The Goods Dept. Sampai tiba saatnya penjualan di The Goods Dept hanya mengalami pertumbuhan 10 sampai 20 persen per bulan.

Lihat juga: Pelarangan Asing di E-Commerce Perlu Dikaji

Sementara itu, interaksi antara pengelola Brodo dengan konsumen di media sosial Facebook semakin kuat. Pertumbuhan jumlah Like di Facebook dibarengi dengan pertumbuhan penjualan. Dengan asumsi ini, Yukka dan Putera coba menyisihkan keuntungan mereka untuk belanja iklan di Facebook, dimulai dengan US$ 10.

Lima ponsel BlackBerry yang dipegang oleh Yukka dan Putera terus menerus digempur pertanyaan soal ketersediaan dan ukuran sepatu. Gempuran pesan ini dipercaya merupakan efek dari jumlah pengikut yang terus bertambah di Facebook.

"Lagi-lagi ada 'sesuatu.' Kita akhirnya coba serius di internet," kata Yukka.

Brodo memutuskan angkat kaki dari The Goods Dept. Kemitraan mereka hanya berjalan sekitar enam bulan.

Facebook kemudian dijadikan sebagai media untuk menyampaikan informasi produk. Sementara pesan instan BlackBerry Messenger (BBM) digunakan untuk berkomunikasi dengan konsumen dan berjualan dan media konfirmasi pembayaran.

Lihat juga: Dirjen Pajak Bidik Transaksi e-Commerce

Anggaran untuk belanja iklan di Facebook juga ditingkatkan hingga ratusan dollar. "Waktu itu, setiap kita tingkatkan biaya iklan, Like dan penjualan pasti naik. Tapi sekarang sudah tidak begitu lagi," ujar Yukka.

Semua keputusan yang diambil oleh Yukka dan Putera untuk masa depan Brodo masih didasarkan atas asumsi, bukan berbasis data yang valid. Facebook tak memberikan statistik detail soal asal konsumen, apalagi soal tingkat konversi (conversion rate).

Peralihan besar-besaran

Sejak 2011, Brodo telah mendapatkan pendanan dari investor perorangan. Dimulai dari pemuda bernama Christopher Angkasa, yang kurang lebih usianya sama dengan Yukka dan Putera (saat ini berusia 27 tahun). Di tahun 2012, masuklah investor yang memberi pengaruh besar pada Brodo soal pemanfaatan teknologi. Dia adalah Remco Lupker, pendiri TokoBagus.com yang sekarang berganti nama jadi OLX.co.id.

Remco adalah investor yang menyarankan Brodo membangun situs web dan meninggalkan Facebook dan BBM sebagai media untuk menyalurkan informasi produk serta berjualan.

Kala itu, sempat terjadi perdebatan. Yukka percaya bahwa Facebook dan BBM adalah media yang tepat untuk Brodo. Sementara Remco percaya suatu saat ini pasar Indonesia akan jenuh memanfaatkan Facebook dan BBM.

"Apa yang dikatakan Remco kejadian semua saat ini. Kita sadar bahwa menjadikan Facebook sebagai 'core website' saat ini adalah salah besar," ujar Yukka.

Brodo meluncurkan situs web Bro.do pada akhir 2013. Sejak saat itu Brodo mulai mengalihkan penjualan dari BBM menuju ke situs web. Yukka mengatakan mengalihkan pengguna yang terbiasa menggunakan BBM ke situs web terbilang mudah. Mereka memberi pesan agar pengguna melakukan pembayaran di situs web setiap kali ada pesanan lewat BBM.

"Wawasan yang kita dapat dari situs web sangat besar. Di sana ada data konsumen, email, ukuran sepatu, alamat, sampai lokasi konsumen. Dari data dan statistik di situs web ini kita akhirnya mengambil keputusan bisnis," tegas Yukka.

Pemanfaatan situs web meminimalkan kesalahan yang dahulu sering sekali terjadi. Misalnya, dahulu beberapa customer service Brodo sering sekali mengalami miss communication di mana mereka menerima pemesanan sebuah sepatu dengan ukuran tertentu yang stoknya hanya tinggal satu di gudang. Dua atau tiga customer service menyetujui pemesanan dan konsumen telah membayar. Alhasil, Brodo memprioritaskan konsumen yang memesan paling awal dan mengembalikan uang konsumen lain.

"Setiap hari selalu ada saja kejadian seperti itu. Dengan keberedaan website, semua stok bisa dipantau secara real-time."

Saat ini, semua platform media sosial akhirnya hanya digunakan sebagai saluran komunikasi dan pemasaran. Penjualan tetap harus lewat satu pintu: situs web. Iklan-iklan yang dipasang oleh Brodo selama ini juga selalu mengarahkan konsumen ke situs web.

Yukka mengatakan, Brodo membatasi biaya iklan online sebesar 20 persen dari total pendapatan mereka setiap bulan. Sementara ini, mereka hanya memanfaatkan layanan iklan dari Google dan Facebook.

Enggan menjual produk kepada pihak ketiga

Brodo saat ini masih percaya untuk menjual produknya sendiri. Selain lewat situs web, mereka juga punya dua toko fisik di yang berlokasi di Jakarta dan Bandung.

Sekitar 60 persen penjualan disumbang dari transaksi online. Namun, mereka saat ini masih tidak mau menjual produk ke perusahaan e-commerce lain walaupun sudah banyak tawaran dan punya posisi kuat untuk negosiasi soal pembagian hasil.

Yukka dan Putera memegang teguh prinsip: konsumen adalah raja yang harus mendapatkan pengalaman terbaik saat membeli produk. Jika produk Brodo dijual di tempat lain, mungkin konsumen tidak akan mendapatkan pengalaman terbaik dari Brodo.

"Contoh kecilnya dari komunikasi. Kita biasa memanggil konsumen dengan sebutan 'Bro.' Kalau di e-commerce lain mungkin akan lebih kaku. Dan komunikasi hanya terjadi lewat email atau fitur chat. Kita berbeda, Brodo memanfaatkan semua channel komunikasi," jelasnya.

Menjual produk lewat pihak ketiga berarti juga harus menerima konsekuensi terhambatnya arus kas yang masuk. Berbekal pengalaman bermitra dengan The Goods Dept, mereka harus menunggu sekitar satu bulan atau lebih untuk mendapatkan uang yang cair dari hasil penjualan.

Lihat juga: Transaksi e-Commerce Indonesia Capai US$ 10 Miliar

Di tahun 2015, Brodo akan memperluas toko fisik mereka di berbagai kota, termasuk Medan dan Surabaya yang diklaim sebagai basis konsumen besar produk Brodo. Kehadiran toko fisik ini diharap Yukka dapat menjawab rasa ingin tahu konsumen yang pada dasarnya ingin melihat dan menjajal terlebih dahulu sebuah produk sebelum memutuskan untuk membelinya.

Namun, toko fisik yang akan dibangun ini tidak melayani pembelian secara langsung. Yukka menjelaskan toko ini nantinya akan berperan sebagai 'galeri' untuk menampilkan produk, menjelaskan filosofi produk, dan tempat bagi konsumen menjajal produk Brodo.

Lalu, bagaimana cara konsumen membeli produk Brodo? "Kita akan tetap arahkan mereka belanja online karena di sana disediakan laptop dan koneksi internet," tegas Yukka.

Dengan konsep toko galeri ini, Yukka berharap ada banyak kerumitan yang bisa dipangkas, termasuk soal distribusi, manajemen stok, dan sumber daya karyawan, sehingga kantor yang ada saat ini di Jakarta dan Bandung tetap bisa dimanfaatkan sebagai gudang dan pusat manajemen pengiriman barang. (adt)