Telkom Speedy Dihentikan, Pelanggan Dirayu Pindah ke IndiHome

Aditya Panji Rahmanto, CNN Indonesia | Rabu, 20/05/2015 12:20 WIB
Telkom Speedy Dihentikan, Pelanggan Dirayu Pindah ke IndiHome Telkom bakal gencar menawarkan paket layanan telekomunikasi IndiHome untuk pelanggan rumah tangga, meliputi layanan Internet, telepon rumah, dan televisi berlangganan berbasis Internet Protocol. (CNN Indonesia/Aditya Panji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Telkom diam-diam telah menghentikan pemasaran layanan Internet Speedy sejak awal 2015. Para pelanggan Speedy ini berusaha dialihkan ke layanan baru bernama IndiHome yang menyediakan tiga layanan telekomunikasi, meliputi telepon rumah, Internet, dan televisi berlangganan berbasis Internet Protocol (IPTV)

Vice President Marketing and Sales Telkom, Jemy Confido mengatakan, sejak Januari 2015 ini para pelanggan yang sudah memakai Speedy mulai dirayu untuk beralih ke IndiHome. Bahkan, Telkom tak lagi menggunakan merek Speedy untuk layanan Internet, dan diganti dengan Internet on Fiber atau High Speed Internet.

"Speedy sudah discontinue. Mereka yang pakai telepon rumah bisa langsung berlangganan Internet dan UseeTV dengan paket IndiHome," ujar Jemy saat ditemui di Fiber to The Home (FTTH) Conference & Exhibition Asia-Pacific di Jakarta, Rabu (20/5).


IndiHome merupakan layanan telekomunikasi dari Telkom yang jaringan tulang punggungnya (backbone) memakai kabel serat optik. Dengan jaringan macam ini koneksi yang diterima pelanggan diklaim lebih stabil.

Layanan ini memiliki pesaing dari perusahaan FirstMedia dan Biznet Networks yang memberikan layanan telekomunikasi Internet dan televisi berlangganan.

Saat ini, lanjut Jemy, jumlah pelanggan IndiHome telah mencapai 350 ribu di seluruh Indonesia. Perusahaan pelat merah ini menargetkan jumlah pelanggan IndiHome bisa tumbuh menjadi 3 juta pada akhir 2015.

Jemy mengklaim jaringan serat optik Telkom telah melayani 7 juta rumah di Indonesia. Saat ini 50 persen jaringan sistem kabel Telkom masih menggunakan kabel tembaga, dan 50 persennya lagi merupakan kabel serat optik. Pada 2020 mendatang, Telkom menargetkan seluruh sistem kabel mereka semua telah memakai serat optik.

Telkom tahun ini menganggarkan belanja modal sekitar Rp 25 triliun sampai Rp 30 triliun untuk mendorong target pendapatan Rp 100 triliun di penghujung 2015.

Belanja modal ini akan dialokasi di tiga bisnis utama, yaitu sekitar 60 persen untuk Telkomsel, anak perusahaannya yang bergerak di bisnis telekomunikasi seluler, kemudian 30 persen untuk Indonesia Digital Network yang membangun sistem kabel jaringan pita lebar, dan sisanya untuk ekspansi internasional.

Di tahun 2014, Telkom mengklaim telah melakukan ekspansi bisnisnya di 10 negara, yaitu Singapura, Hong Kong, Timor Leste, Australia, Myanmar, Malaysia, Taiwan, Macau, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.

Perusahaan ini baru menjalin kemitraa dengan Telstra asal Australia untuk membangun perusahaan patungan TelkomTelstra yang memberi solusi network application service (NAS) untuk segmen korporasi, terutama industri perbankan. (adt/ded)