Dua Game Android Lokal Lawan Perdagangan Satwa Liar

Aditya Panji, CNN Indonesia | Senin, 13/07/2015 04:01 WIB
Dua Game Android Lokal Lawan Perdagangan Satwa Liar Kelompok burung Jalak bermigrasi terlihat di kota Rahat, Israel, pada 2 Februari 2015. (REUTERS/Nir Elias)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua perusahaan pengembang game lokal bekerjasama dengan perkumpulan peduli satwa Indonesia Society for Animal Walfare (ISAW) membuat game untuk perangkat Android yang berusaha mengedukasi masyarakat tentang kekejaman perdagangan satwa liar.

Dua game itu adalah The Adventure of Jalak yang dikembangkan Miracle Gates Studio dari Bali dan Pora: Free Cockatoos! buatan NED Studio asal Sumatera Utara.

The Adventure of Jalak menceritakan petualangan seekor Jalak Bali saat berusaha kabur dari para pemburu yang sedang mengangkutnya untuk dijual. Dengan menyajikan sebuah format permainan berlari tiada akhir, para pemain diharapkan bisa membantu Jalak dan telur-telurnya melarikan diri dari jeratan para pemburu agar dapat kembali ke habitat alaminya.


Sementara Pora: Free Cockatoos! menampilkan modus-modus kekejaman dibalik penyelundupan satwa liar. Dalam episode ini, si ikan Pora dilengkapi dengan torpedo dan gelembung yang dapat digunakan untuk membebaskan kakatua jambul kuning yang terperangkap dalam botol-botol plastik di pelabuhan. Game ini akan terus dikembangkan selama beberapa bulan ke depan untuk menambah jumlah level yang dapat dinikmati para pemain.

Baca juga: Game Lokal Tebak Gambar Capai 5,4 Juta Pengguna

CEO NED Studio, Jonathan Borisman Tambun mengatakan, game buatannya hendak memperlihatkan bahwa banyak satwa liar yang terancam eksistensinya akibat perburuan, penyelundupan, dan perdagangan ilegal. Burung sejatinya bisa terbang bebas di alam, bukan untuk dikekang apalagi diperjualbelikan.

“Kami yakin bahwa bersama-sama kita dapat membangun rasa empati generasi muda terhadap makhluk hidup lainnya, salah satunya dengan menampilkan visualisasi penyelamatan satwa dari perburuan dan perdagangan dengan cara yang populer dan menyenangkan,” katanya.

ISAW percaya salah satu kunci memberantas perdagangan ilegal satwa dapat dilakukan dengan menurunkan permintaan di pasar. Alangkah baik jika penyampaian informasinya dilakukan dengan cara kreatif seperti lewat game mobile.

Direktur Eksekutif ISAW, Kinanti Kusumawardani mencatat kelompok usia para pembeli dan pedagang satwa sangat bervariasi. Tetapi melalui dua game ini, mereka mengincar segmen anak muda maupun kelompok yang lebih dewasa.

“Dengan bantuan Pora dan Jalak kami yakin dapat membangun upaya edukasi yang memikat hati dan pikiran masyarakat,” kata Kinanti.

Dua game ini merupakan pemenang kompetisi Indonesia Wildlife Game Challenge yang digelar Dicoding.com, sebuah perusahaan rintisan lokal yang menjembatani kebutuhan pasar dengan keahlian yang dimiliki pemrogram komputer di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh Narenda Wicaksono, mantan pengembang aplikasi mobile Nokia dan Microsoft Indonesia.

ISAW akan mempromosikan kedua game Android tersebut sebagai bagian dari program edukasi penyelamatan hewan ke sekolah-sekolah dasar dan menengah. The Adventure of Jalak dan Pora: Free Cockatoos! dapat diunduh gratis di Google Play Store. (adt)