E-commerce Indonesia dan Peluang Bisnis Sistem Pembayaran

Aditya Panji, CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2015 22:50 WIB
E-commerce Indonesia dan Peluang Bisnis Sistem Pembayaran Ilustrasi belanja online. (Thinkstock/LDProd)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonomi digital ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai prioritas untuk mendorong ekonomi nasional, yang salah satunya bisa dipacu lewat perdagangan elektronik atau e-commerce. Sejumlah perusahaan lokal telah hadir untuk mendorong transaksi e-commerce bisa dilakukan secara cepat.

Transaksi dari e-commerce saat ini baru menyumbang kurang dari dua persen terhadap total penjualan ritel di Indonesia, kata Andy Zain, investor dari pemodal ventura Mountain Kejora. Sedangkan di negara maju, e-commerce telah menyumbang sekitar 10 sampai 20 persen dari total penjualan ritel.

“Masih ada kesempatan untuk bermain di sekitar industri e-commerce, seperti pembayaran, logistik, dan lain-lain,” kata Zain dalam konferensi Tech in Asia 2015 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (11/11).


Kontribusi besar e-commerce dalam industri ritel di negara maju ini, didukung oleh banyaknya pemegang kartu debit dan kartu kredit sehingga mereka mampu melakukan pembayaran secara cepat.

Tapi ini berbeda kondisinya dengan Indonesia, di mana masih banyak masyarakat yang menyimpan uang “di bawah bantal.” Menurut data Asosiasi Kartu Kredit Indonesia, jumlah kartu debit yang beredar sekitar 75 juta, sementara jumlah kartu kredit yang beredar diprediksi hanya sekitar 16 juta.

Dengan peredaran kartu debit yang lebih besar, maka perusahaan e-commerce sejatinya dapat mendorong transaksi kartu debit yang lebih besar, baik itu dari transfer ATM sampai Internet banking.

Sebuah startup e-commerce yang hendak mengintegrasikan layanannya dengan sistem pembayaran bank, biasanya menjalin kemitraan dengan perusahaan penyedia solusi sistem pembayaran online.

Sebut saja Veritrans, iPaymu, dan Doku, sebagai pemain lokal ternama yang melakukan otorisasi pembayaran kartu kredit, kartu debit, dan transaksi online lain seperti uang elektronik milik perusahaan seluler.

Para pemain di atas berupaya mencari perusahaan e-commerce untuk dijadikan mitra, di mana perusahaan payment gateway akan mengutip sebagian kecil keuntungan dari setiap transaksi.

Presiden Direktur Veritrans, Ryu Kawano sendiri memprediksi, pertumbuhan jumlah kartu kredit di Indonesia mungkin tidak akan signifikan. Ia pribadi percaya e-commerce di Indonesia bisa tumbuh dengan dukungan banyak bank yang memfasilitasi pembayaran ke sebuah perusahaan e-commerce besar.

Sebut saja Tokopedia, mereka telah menjalin kerja sama langsung dengan dua bank besar, BCA dan Mandiri, untuk menghubungkan sistem pembayaran guna memudahkan pembeli bertransaksi. Hal serupa juga dilakukan pemain besar macam Blibli dan Blanja.

Bisnis sistem pembayaran online ini diprediksi makin berkembang dengan kehadiran e-commerce yang menjual konten digital dari penerbit game, di mana startup e-commerce yang semacam ini cocok untuk memakai sistem dari Coda Payment atau Mimopay. Bahkan, ada yang telah mendukung sistem pembyaran potong pulsa untuk memudahkan konsumen membeli konten game.

Menurut Andi S. Boediman dari pemodal ventura lokal Ideosource, solusi pembayaran merupakan salah satu bisnis yang akan bernilai miliaran dollar AS karena ia bagian penting dan dibutuhkan dalam ekosistem e-commerce. Tetapi perusahaan macam ini harus membangun kredibilitas keamanan data. (adt/eno)