Wawancara Eksklusif

Banyak Pelancong, Indonesia Potensial Bagi HotelQuickly

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Selasa, 23/02/2016 14:31 WIB
Banyak Pelancong, Indonesia Potensial Bagi HotelQuickly Salah seorang pendiri sekaligus CEO perusahaan peranti lunak HotelQuickly Tomas Laboutka usai berbincang hangat dengan CNN Indonesia di Jakarta. (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO aplikasi pesan hotel HotelQuickly, Tomas Laboutka mengaku sangat mengagumi lanskap dan kultur Indonesia yang beragam. Apakah itu menjadi alasan utama perusahaan bermarkas di Hong Kong ini menyediakan layanannya di Tanah Air?

HotelQuickly sejatinya bersifat last-minute alias mendadak. Layanan ini menyediakan pilihan akomodasi penginapan dari hotel dengan rate bintang tiga sampai lima, dan hanya untuk perangkat mobile.

Dikatakan last-minute sebab perusahaan memang menargetkan pengguna yang gemar melancong atau bepergian secara dadakan dalam waktu singkat. Biasanya disebut short getaway.



Laboutka kepada CNN Indonesia blak-blakan memaparkan pandangannya terhadap Indonesia.

"Penetrasi ponsel pintar di sini (Indonesia) sangat besar. Kaum milenial di zaman sekarang, khususnya Indonesia, tidak bisa lepas dari ponsel," kata Laboutka saat berbincang dengan CNN Indonesia.

Ia kemudian melanjutkan, "orang Indonesia senang sekali pamer di media sosial tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi. Kami bisa lihat minat traveling orang Indonesia juga tinggi. Peluang kami di situ."

CEO aplikasi pesan hotel HotelQuickly, Tomas Laboutka
Laboutka dan tim tidak menargetkan semua jenis konsumen sebagai pengguna aktif HotelQuickly, karena target utamanya tentu saja para tech savvy atau kaum milenial yang memang bergantung pada kehadiran perangkat mobile seperti smartphone.

Sejak diluncurkan pada Maret 2013, HotelQuickly menggaet 500 ribu user Indonesia, di mana lebih dari 40 persen diakuinya kembali menggunakan HotelQuickly untuk melakukan pemesanan.

Orang Indonesia senang pamer di media sosial tentang tempat yang mereka kunjungi. Peluang kami di situLaboutka
Di samping itu, Laboutka juga menyatakan sejumlah tantangan perusahaan terhadap pasar Indonesia.

"Soal pembayaran dan tentu saja infrastruktur konektivitas jaringan," tukasnya.

Ia berpendapat, dibanding tahun-tahun sebelumnya, sinyal di Indonesia jauh lebih buruk dari sekarang. Kini ada 4G LTE, Laboutka menjelaskan, sudah lebih baik namun menurutnya masih harus ditingkatkan lagi agar kinerja aplikasi HotelQuickly bisa maksimal.

"Meski sudah ada 4G tapi sering ilang-ilangan dan tidak semua daerah dapat sinyal 4G. Padahal di aplikasi menyediakan banyak foto-foto bagus yang terkait dengan destinasi," tuturnya.


Sementara metode pembayaran, di Indonesia menggunakan Doku. Pengguna juga bisa melakukan pembayaran melalui transfer antar bank.

Laboutka menyatakan, di berbagai negara menggunakan metode yang berbeda, sehingga tim development HotelQuickly diakuinya harus mengembangkan produk yang beragam untuk tiap destinasi.

"Kalau di Thailand dan negara lain bisa pakai Line Pay untuk bayar karena basis penggunanya banyak. Di Indonesia kami lihat belum ke arah sana," sambungnya.

Laboutka yan bermukim di Singapura dan lahir di Ceko ini mengaku doyan mengunjungi Indonesia, yakni sekitar 3-4 minggu sekali.

Awal peluncuran aplikasi HotelQuickly 3 tahun lalu, Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mendapat layanannya.

HotelQuickly saat ini sudah menjalin kemitraan dengan 2.000 hotel di Indonesia, dengan model bisnis 15 persen pendapatan untuk perusahaan dan 75 persen untuk mitra hotel.

Aplikasi HotelQuickly tersebar di 15 negara Asia Pasifik, yaitu Hongkong, Indonesia, Laos, Macau, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, Vietnam, Myanmar, Filipina, Kamboja, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.


Laboutka, CEO yang tak suka iPhone

Di sela obrolan dengan Laboutka, ia beberapa kali menggenggam ponsel pintarnya yang berwarna hitam itu untuk menunjukan aplikasi HotelQuickly di dalamnya.

Saat ditanya ponsel apa yang ia gunakan, ia langsung menjawab, "ini Nexus 5. Saya sangat Android."

Sembari tertawa kecil, ia lantas curcol alias curhat colongan bahwa ia tidak begitu menyukai produk iPhone dari Apple.

"iPhone sangat mahal. Kalau Android bisa multitasking dan harganya sesuai dengan fungsinya. Saya dulu cuma sebentar pakai iPhone lalu tidak betah," ungkapnya.

Laboutka yang berasal dari Praha, Ceko ini mendirikan HotelQuickly pada 2012 silam bersama 4 rekannya, yaitu Christian Mischler yang menjabat sebagai COO, Michal Juhas sebagai CTO, serta Mario Peng selaku CFO, Raphael Cohen sebagai CSO.

(eno)