Namun pandangan berbeda dilontarkan mantan komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi. Bagi dia, kedua operator ini seperti ingin merengkuh untung dua kali.
Menurut Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB itu, Indosat dan XL memang mau mencari untung sebanyak-banyaknya dari polemik biaya interkoneksi ini, tanpa mau memikirkan masyarakat. Kengototan mereka ingin menerapkan tarif interkoneksi baru itu adalah agar mereka dapat untung dua kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keuntungan kedua adalah, ketika ada pelanggan Indosat Ooredoo menelepon ke pelanggan Telkomsel, perusahaan milik Ooredoo Qatar ini hanya membayar biaya interkoneksi sebesar Rp 204, bukan lagi 250 per menit. Demikian juga dengan XL.
Padahal, lanjut Ridwan, bagi masyarakat tidak ada keuntungan signifikan yang bisa mereka nikmati. Bahkan, operator telekomunikasi milik Axiata Malaysia dan Ooredoo Qatar itulah yang akan menikmati keuntungan.
“Bagaimana masyarakat bisa menikmati keuntungan, biaya interkoneksi hanya turun Rp 46, sedangkan tarif offnet yang dibebankan kepada masyarakat di kisaran Rp 2000 per menit. Jadi, keuntungan itu akan jadi tambahan keuntungan perusahaan (Indosat dan XL),” kata Ridwan.
Bahkan, Ridwan yakin, operator telekomunikasi tidak akan menurunkan tarif yang dibebankan kepada pelanggan (tarif retail), karena tujuan perusahaan memang mencari keuntungan semata dari polemik penurunan biaya interkoneksi ini.
“Feeling saya, operator tidak akan serta merta menurunkan tarif retail,” kata Ridwan.
Alasan lain yang diungkapkan Ridwan, adalah keengganan Indosat, XL, Tri dan Smartfren untuk memenuhi kewajibannya membangun jaringan telekomunikasi di seluruh pelosok Tanah Air. Selama ini, Telkomsel dan Telkom yang membangun jaringan telekomunikasi hingga ke seluruh pelosok Nusantara, bahkan hingga ke daerah perbatasan dengan negara-negara tetangga.
“Mereka (Indosat, XL, Tri dan Smartfren) kan hanya membangun di daerah perkotaan saja. XL, bahkan, semuanya 100 persen yang bangun jaringan adalah Huawei, dan XL tinggal sewa saja. Makanya biaya jaringannya murah banget,” kata Ridwan. (tyo)