Mengenang Astronom Leon Mestel, Penemu Medan Magnet Bintang

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 21/09/2017 17:00 WIB
Mengenang Astronom Leon Mestel, Penemu Medan Magnet Bintang Leon Mestel menguraikan pentingnya medan magnet pada bintang dan skala yang lebih besar di seluruh galaksi. (NASA/CXC/University of Bonn/G).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia kehilangan seorang astronom kenamaan, Leon Mestel. Pada 15 September lalu ia berpulang pada usia 90 tahun. Nama Mestel mungkin tak begitu dikenal generasi milenial, tapi ia berhasil mengajarkan teori penting yang tetap relevan hingga kini.

Sang astronom menguraikan pentingnya medan magnet pada bintang dan skala yang lebih besar di seluruh galaksi. Ia bahkan menemukan hukum pendinginan untuk bintang kantai putih atau dikenal dengan white dwarf stars. Bintang kantai putih adalah bintang kecil yang sudah tidak lagi bersinar dan menyelesaikan siklus hidupnya.

Dilansir dari Guardian, temuan ini menunjukkan bahwa medan magnet menyebabkan bintang membuang kelebihan putarannya. Selain itu, bagaimana bintang seperti matahari memperlambat rotasinya akibat interaksi antara medan magnet bintang dan angin dari gas panas permukaannya.



Lahir di Melbourne, Australia, keluarganya adalah migran di London saat ia berusia tiga tahun. Ayahnya, Solomon Mestel adalah seorang rabi dan sang ibu adalah seorang guru. Lingkungan yang membentuk Mestel menjadi ilmuwan besar.

"Pengaruh yang melingkupi masa kecil saya adalah tradisi Yudaisme dan yang lain adalah komitmen pada studi sekuler yang melengkapinya," tulis Mestel pada 2012 dikutip dari Guardian (20/9).

Perjalanan studinya terbilang bagus. Saat berkuliah di Trinity College, Cambridge, ia meraih gelar kelas pertama untuk Matematika pada 1974. Kemudian, ia mengambil PhD bersama Fred Hoyle. Di sana ia mulai mempelajari bintang kantai putih. Ia menemukan bahwa 'bintang mati' berwarna putih ini memiliki temperatur lebih dari 10ribu derajat celcius. Suhu ini bisa turun setelah jutaan tahun.

Setelah Cambridge, Mestel bekerja dengan Tom Cowling di Leeds. Ia makin tertarik dengan bintang kantai putih ditambah medan magnet dalam struktur dan evolusi bintang.


Pada 1968, Mestel menunjukkan bagaimana medan magnet pada bintang seperti matahari memperlambat rotasinya akibat interaksi dengan angin dari gas yang dihasilkan permukaan matahari. Ia dapat menunjukkan medan magnet itu penting dalam aspek bintang dan galaksi astrofisika. Riset ini dituliskan dalam monografi Stellar Magnetism pada 1999.

Kariernya mulus dengan menjadi dosen matematika di Cambridge. Ia pun menjadi profesor matematika di Manchester University selama enam tahun dan pindah ke University of Sussex sebagai profesor astronomi. Posisi ini ia emban selama 19 tahun hingga memasuki masa pensiun pada 1992.

Ia membuat kontribusi besar di Astronomy Centre di Sussex. Karya ilmiah terakhirnya, On the Evolution of Stable Magnetic Fields in Stars, dipublikasikan pada 2010. Selama masa pensiun, ia rajin menuliskan obituari para koleganya seperti Tom Cowling, Martin Schwarzschild, Bill McCrea, dan Roger Tayler.

Ia pernah meraih sejumlah penghargaan berkat kontribusinya dalam dunia astrofisika. Medali emas dari Royal Astronomical Society pada 2002. Selain itu, pada 1993 ia menerima penghargaan dari Royal Astronomical Society’s Eddington untuk kerja keras dan dedikasinya pada studi tentang medan magnet pada bintang.



BACA JUGA