17 Negara Jadi Korban Berita Hoaks Saat Pemilu

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Kamis, 16/11/2017 12:58 WIB
17 Negara Jadi Korban Berita Hoaks Saat Pemilu Dalam sebuah riset tercatat berita hoaks kerap terjadi jelang pemilu. (dok. Thinkstock/Winnond)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah organisasi nirlaba, Freedom House mengungkap data mencengangkan mengenai manipulasi dan propaganda yang terjadi di ranah online selama setahun hingga 31 Mei lalu.

Dalam laporan bertajuk 'Freedom of the Net', Freedom House mengungkap sedikitnya ada 17 negara yang menjadi sasaran penyebaran berita hoaks.

Ada berbagai cara yang digunakan, seperti di Kenya yang menggunakan label kantor media dalam berita hoaks mereka agar audiens mempercayainya. Kebanyakan konten hoaks ini disebarkan melalui layanan WhatsApp dan Facebook jelang pemilihan ulang Presiden Uhuru Kenyatta.


Sementara di Venezuela, pemerintah justru ikut menyebarkan berita palsu mengenai pendemo di media sosial. Sedikitnya ada 30 ribu akun palsu yang tercatat dalam 10 hari jelang pemilu Perancis.

Riset Freedom House juga mencatat berita palsu diketahui menyebar di 30 dari 65 negara selama periode Juni 2016 hingga Mei 2017.

"Dari pengamatan kami, tren inilah yang sekarang sedang berkembang di seluruh dunia. Pada sebagian besar kasus, pemerintahlah yang 'aktif' menyebarkan berita-berita palsu ini," imbuh Sanja Kelly selaku kepala penelitian laporan Freedom of the Net.

Kelly juga menambahkan bahwa berita palsu dan propaganda yang tersebar di sosial media merupakan masalah serius, dan bila ditambah dengan bantuan bot yang banyak serta orang-orang yang dibayar untuk memberikan komentar-komentar provokatif, maka hoaks dan propaganda ini menjadi masalah yang benar-benar serius.

Facebook sendiri sebagai salah satu perusahaan media sosial terbesar di dunia dinilai lamban dalam menanggapi pergerakan hoaks yang tersebar dalam platform-nya. Facebook sendiri digunakan banyak orang bukan hanya sebagai alat untuk berkomunikasi di internet, melainkan sebagai sumber berita dan informasi layaknya sebuah situs media elektronik.

"Saat ini, untuk orang-orang di negara berkembang yang baru mengenal internet dan media sosial lebih mudah mempercayai begitu saja informasi yang mereka terima," jelas Kelly seperti dilaporkan Mashable.

Protes terhadap penyebaran konten hoaks melalui media sosial juga sempat mencuri perhatian CEO Apple Tim Cook. Ia menganggap masalah sebenarnya bukan pada konten berita, melainkan pada media yang digunakan untuk menyebarkannya.

"Isu yang lebih besar dari sekadar keberadaan hoaks adalah media yang dipakai untuk menyebarkannya, yaitu media sosial," jelas Cook. (sat/evn)