Dalam laporan bertajuk 'Freedom of the Net', Freedom House mengungkap sedikitnya ada 17 negara yang menjadi sasaran penyebaran berita hoaks.
Ada berbagai cara yang digunakan, seperti di Kenya yang menggunakan label kantor media dalam berita hoaks mereka agar audiens mempercayainya. Kebanyakan konten hoaks ini disebarkan melalui layanan WhatsApp dan Facebook jelang pemilihan ulang Presiden Uhuru Kenyatta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Riset Freedom House juga mencatat berita palsu diketahui menyebar di 30 dari 65 negara selama periode Juni 2016 hingga Mei 2017.
Kelly juga menambahkan bahwa berita palsu dan propaganda yang tersebar di sosial media merupakan masalah serius, dan bila ditambah dengan bantuan bot yang banyak serta orang-orang yang dibayar untuk memberikan komentar-komentar provokatif, maka hoaks dan propaganda ini menjadi masalah yang benar-benar serius.
"Saat ini, untuk orang-orang di negara berkembang yang baru mengenal internet dan media sosial lebih mudah mempercayai begitu saja informasi yang mereka terima," jelas Kelly seperti dilaporkan Mashable.
Protes terhadap penyebaran konten hoaks melalui media sosial juga sempat mencuri perhatian CEO Apple Tim Cook. Ia menganggap masalah sebenarnya bukan pada konten berita, melainkan pada media yang digunakan untuk menyebarkannya.
"Isu yang lebih besar dari sekadar keberadaan hoaks adalah media yang dipakai untuk menyebarkannya, yaitu media sosial," jelas Cook. (evn/sat)